HomeBERANDAASTINDO NTB Serahkan "Sekenem" untuk Percepatan Pemulihan Aktivitas Wisata di Sade

ASTINDO NTB Serahkan “Sekenem” untuk Percepatan Pemulihan Aktivitas Wisata di Sade

Mataram (Suara NTB) – Upaya memulihkan aktivitas pariwisata di Kampung Adat Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, terus mendapat dukungan dari pelaku industri pariwisata.

Asosiasi Travel Agent Indonesia (ASTINDO) NTB turut mengambil bagian dengan menyerahkan bantuan berupa sekenem, bangunan tradisional yang diharapkan kembali menjadi ruang interaksi wisatawan dan masyarakat.

Penyerahan sekenem turut disaksikan oleh Asisten II Setda NTB, sekaligus koordinator pemulihan Sade, Lalu. Moh. Faozal.

- Advertisement -

Ketua ASTINDO NTB, Sahlan M Saleh,  mengatakan bantuan sekenem dikumpulkan dari donasi para anggota ASTINDO NTB sebagai bentuk kepedulian pelaku usaha perjalanan terhadap keberlangsungan pariwisata Sade setelah dilanda kebakaran.

“Ini bentuk perhatian kami dari asosiasi travel agent. Sebagai pelaku pariwisata, kami ingin ikut berpartisipasi dalam memulihkan kondisi Sade,” kata Sahlan.

Menurutnya, keberadaan sekenem tidak hanya dipandang sebagai fasilitas fisik, tetapi juga bagian dari upaya menghidupkan kembali aktivitas wisata di Sade. Nantinya, sekenem tersebut diharapkan dapat digunakan wisatawan untuk beristirahat maupun berinteraksi ketika berkunjung ke Kampung Adat Sade.

Sahlan menegaskan, ASTINDO NTB juga tetap berkomitmen membawa wisatawan ke Sade, meskipun proses pemulihan kawasan tersebut tengah dalam proses dibangun kembali.

“Kami tetap berkomitmen untuk terus membawa wisatawan ke Sade walaupun kondisinya belum sempurna. Justru history-nya bisa diceritakan, bagaimana Sade sebelum musibah, saat kebakaran dan bagaimana kondisinya sekarang,” ujarnya.

Pariwisata Sade Tidak Boleh Berhenti

Diketahui, kebakaran yang melanda Dusun Sade I pada Sabtu malam, 22 Agustus 2026, memberikan pukulan besar terhadap sektor pariwisata Lombok, NTB.

Berdasarkan laporan koordinator rekonstruksi, dampak kebakaran mencakup 75 kepala keluarga, delapan berugaq, enam sekenem, satu masjid, satu museum, dua toilet dan 69 tempat usaha atau art shop.

Laporan lain yang menggambarkan kondisi awal pascakebakaran menyebut sebanyak 129 rumah di Kampung Adat Sade terbakar dan sekitar 320 warga terdampak. Kondisi tersebut tidak hanya menghilangkan rumah dan fasilitas masyarakat, tetapi juga mengganggu aktivitas ekonomi yang selama ini bertumpu pada kunjungan wisatawan.

Karena itu, menurut Sahlan, pemulihan Sade tidak cukup hanya dengan membangun kembali rumah-rumah yang terbakar. Aktivitas pariwisata juga perlu terus dijaga agar mata rantai ekonomi masyarakat tidak terputus.

Kehadiran kembali wisatawan dinilai penting untuk menunjukkan bahwa Sade masih hidup dan masyarakatnya tetap menjalankan aktivitas pariwisata di tengah proses rekonstruksi.

“Kami ingin wisatawan tetap datang. Supaya mereka juga mengetahui kondisi Sade sekarang dan ikut menjadi bagian dari cerita perjalanan pemulihan Sade,” katanya.

Sahlan juga menyampaikan apresiasi kepada DPP ASTINDO serta seluruh anggota ASTINDO NTB yang ikut memberikan perhatian terhadap kondisi Kampung Adat Sade.

Rekonstruksi Berjalan Bertahap

Pemulihan Kampung Adat Sade sendiri telah memasuki tahapan rekonstruksi. Pada 3 September 2026, proses tersebut diawali melalui tradisi Nyemulak, ditandai pemasangan perdana tiang pancang rumah adat. Pemerintah menyiapkan pembangunan kembali 75 rumah adat, disertai fasilitas pendukung seperti masjid, museum, toilet dan art shop.

Pemerintah juga menempatkan pembangunan museum, masjid, sekenem dan fasilitas ekonomi masyarakat sebagai bagian dari langkah awal menghidupkan kembali aktivitas Sade. Museum ditargetkan dapat selesai sebelum gelaran MotoGP Mandalika 2026, sehingga dapat menjadi salah satu ruang kunjungan wisatawan sekaligus membantu menggerakkan ekonomi warga.

Di sisi lain, desain dan masterplan kawasan Sade masih dimatangkan. Pemerintah melibatkan sejumlah pihak, termasuk Universitas Mataram dan beberapa kementerian, karena rekonstruksi Sade tidak hanya menyangkut pembangunan fisik, tetapi juga aspek budaya, sosial dan pariwisata.

Bagi ASTINDO NTB, dukungan berupa sekenem menjadi bagian kecil dari gerakan bersama untuk memastikan Sade tidak hanya dibangun kembali secara fisik, tetapi juga kembali hidup sebagai destinasi wisata dan ruang budaya masyarakat Sasak.

“Terima kasih kepada DPP ASTINDO dan seluruh anggota ASTINDO NTB yang ikut memberikan perhatian kepada Sade,” ujar Sahlan.(bul)

Artikel Yang Relevan

IKLAN





Terkait Berdasarkan Kategori

Jelajahi Lebih Lanjut