Lombok Tengah (ekbisntb.com) – Tradisi masyarakat Sasak, Betabeq, digelar di Sirkuit Mandalika, Rabu, 16 September 2026, sebagai bagian dari persiapan menyambut MotoGP 2026. Ritual ini menjadi momentum untuk memohon izin dan doa restu sekaligus memperkuat keterlibatan masyarakat menjelang balapan MotoGP pada 9–11 Oktober 2026.
Kegiatan yang diinisiasi PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) ini dihadiri sekitar 200 undangan. Mereka terdiri atas unsur Pemerintah Provinsi NTB, Pemkab Lombok Tengah, TNI-Polri, DPRD, camat, kepala desa, organisasi masyarakat, tokoh masyarakat hingga fasilitas kesehatan.
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal mengatakan, Betabeq merupakan tradisi Sasak yang mengandung nilai penghormatan terhadap bumi dan air sekaligus permohonan izin serta restu kepada alam dan lingkungan tempat kegiatan berlangsung.
Menurutnya, tradisi tersebut relevan untuk terus dihidupkan dalam setiap kegiatan besar di kawasan The Mandalika, termasuk MotoGP. Selain menjaga nilai budaya, Betabeq juga menjadi pengingat bahwa masyarakat memiliki peran sebagai tuan rumah.
“Tradisi ini perlu terus dihidupkan, khususnya dalam setiap kegiatan besar yang digelar di kawasan The Mandalika. Selain menjaga nilai budaya, Betabeq juga mengandung pesan mengenai peran masyarakat sebagai tuan rumah untuk bersama-sama menjaga setiap kegiatan agar berlangsung aman, tertib, dan lancar,” ujar Iqbal.
Ia menilai kehadiran ajang balap motor internasional di NTB juga menjadi kesempatan untuk memperkenalkan karakter masyarakat dan kekayaan budaya daerah kepada dunia.
Sementara itu, Chairman Pertamina Grand Prix of Indonesia sekaligus Direktur Operasi ITDC Troy Warokka mengatakan kesiapan MotoGP tidak hanya menyangkut sirkuit dan operasional penyelenggaraan. Dukungan masyarakat sebagai tuan rumah juga menjadi bagian penting.
Menurutnya, Betabeq juga mempertemukan standar penyelenggaraan event internasional dengan identitas lokal masyarakat NTB.
“Ketika dunia datang ke NTB, kita memiliki kesempatan untuk menunjukkan bukan hanya kualitas penyelenggaraan event, tetapi juga keramahan, kebersamaan, dan kekayaan budaya daerah,” ujarnya.
ITDC menjadikan kegiatan Betabeq sebagai bagian dari tiga pendekatan, yakni Inform, Engage, dan Prepare. Inform dilakukan melalui sosialisasi penyelenggaraan MotoGP kepada para pemangku kepentingan. Engage diwujudkan dengan memperkuat kolaborasi lintas pihak melalui pendekatan budaya, sedangkan Prepare diarahkan untuk meningkatkan kesiapan masyarakat sebagai tuan rumah.
Keterlibatan tersebut mencakup 20 kepala desa se-Kecamatan Pujut, 12 camat se-Lombok Tengah serta berbagai organisasi dan kelompok masyarakat.
Rangkaian kegiatan Betabeq diisi dengan tembang Duking Kune, doa bersama, prosesi Motong Seong, potong tumpeng dan ramah tamah.(bul)






