HomeOTOMOTIFKendalikan Emosi dan Ego saat Berkendara demi Keselamatan di Jalan

Kendalikan Emosi dan Ego saat Berkendara demi Keselamatan di Jalan

Mataram (Ekbis NTB)— Keselamatan berkendara tidak hanya ditentukan oleh kemahiran mengendalikan sepeda motor, melainkan juga kemampuan mengelola emosi dan mengambil keputusan bijak saat menghadapi beragam dinamika di jalan raya.

Dalam aktivitas sehari-hari, pengendara kerap berhadapan dengan perilaku pengguna jalan lain yang berisiko, seperti berpindah jalur tanpa sein, berhenti mendadak, atau menyalip sembarangan. Situasi ini berpotensi memicu kekesalan yang, jika tak terkendali, dapat mengganggu konsentrasi dan memicu tindakan berbahaya.

“Menang dalam perselisihan di jalan tidak memberikan manfaat jika justru meningkatkan risiko kecelakaan. Prioritas utama pengendara adalah keselamatan sampai di tujuan,” ujar Safety Riding Instructor Astra Motor NTB, Satria Wiman Jaya.

- Advertisement -

Satria menegaskan, pengendara tidak bisa mengontrol perilaku orang lain, tetapi memiliki kendali penuh atas respons pribadi.

Guna menjaga emosi tetap stabil saat berkendara, Astra Motor NTB membagikan lima langkah praktis:

  1. Kenali Indikasi EmosiWaspadai tanda-tanda emosi mulai meningkat, seperti genggaman setang yang memengat, keinginan membalas, atau dorongan menaikkan kecepatan saat terpancing pengendara lain.
  2. Tahan Reaksi SpontanHindari langsung merespons tindakan provokatif, seperti dipotong atau diklakson, dengan aksi balasan. Beri jeda sejenak untuk menenangkan diri dan fokus kembali pada lalu lintas.
  3. Kurangi Kecepatan dan Jaga JarakSaat emosi mulai tersulut, segera kurangi kecepatan secara aman dan pertahankan jarak bebas. Langkah ini memberikan waktu dan ruang reaksi yang cukup untuk mengantisipasi potensi bahaya.
  4. Alihkan Fokus pada KeselamatanAlihkan perhatian dari konflik ke kondisi sekitar. Pantau pergerakan kendaraan di depan, samping, dan belakang, serta cermati rambu lalu lintas.
  5. Tepi Kendaraan Jika DiperlukanJika amarah sulit dikendalikan, jangan memaksakan diri melanjutkan perjalanan. Cari tempat aman untuk berhenti dan tenangkan diri sebelum kembali berkendara.

“Ketika emosi meningkat, jangan mengambil keputusan yang tidak perlu. Pilih untuk tidak membalas, tidak mengejar, dan berikan waktu bagi diri sendiri untuk tenang,” lanjut Satria.

Kematangan Emosional Pengendara Muda

Pengendalian diri ini menjadi krusial, terutama bagi pengendara pemula. Di Indonesia, batas usia minimal untuk memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM) C adalah 17 tahun, yang didapat melalui serangkaian ujian teknis dan administrasi.

Namun, menginjak usia 17 tahun tidak otomatis menjamin kematangan emosional seseorang. Kematangan berkendara harus dibentuk melalui edukasi berkelanjutan, pengalaman, disiplin, dan kebiasaan mengambil keputusan yang aman.

Oleh karena itu, edukasi keselamatan berkendara (safety riding) bagi pengendara muda tidak boleh hanya berfokus pada keterampilan teknis mengoperasikan sepeda motor, tetapi juga wajib membekali mereka dengan kemampuan mengendalikan diri di jalan raya. (r/fan)

Artikel Yang Relevan

IKLAN





Terkait Berdasarkan Kategori

Jelajahi Lebih Lanjut