Lombok (Ekbis NTB) — Pelestarian hutan kini berhembus seiring dengan penguatan ekonomi perempuan di Nusa Tenggara Barat (NTB). Lewat olahan pangan lokal, komoditas hasil hutan resmi disulap menjadi sajian gastronomi bernilai tinggi yang siap menembus pasar pariwisata.
Langkah strategis ini mengemuka dalam Event Pop-Up Gastronomi: Coffee Experience bertajuk “Puan Rimba – A Living Culture Journey” di Svarga Renjana Villa, Sabtu (29/8). Acara ini merupakan bagian dari program Women Forest Defender (WFD) inisiasi LSM KONSEPSI guna memperkuat kelembagaan perhutanan sosial, memperluas jaringan pasar produk perempuan, serta mendorong kebijakan daerah yang responsif gender.

Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi NTB, Sinta M. Iqbal, mengapresiasi langsung capaian pemberdayaan perempuan di kawasan pinggir hutan Aik Berik tersebut.
“Saya melihat apa yang sudah dilakukan teman-teman di sini, dan pendampingannya ini sudah terlihat hasilnya. Saran saya, jangan berhenti di sini. Teruslah belajar, cari informasi sebanyak mungkin, dan kembangkan produk agar pasarnya semakin luas,” ujar Sinta.
Sinta turut memuji inovasi kuliner para perempuan yang mengemas bahan pangan lokal menjadi sajian modern berselera internasional tanpa menanggalkan kearifan lokal.
“Sajian makan siang ini sebenarnya sudah masuk Gastronomi Fusion yang dibentuk dengan kearifan lokal. Di ibu kota provinsi saja, mendapatkan menu lokal yang dikemas fusion seperti ini cukup sulit. Selamat untuk para Chef, tolong ajarkan juga adik-adiknya agar ke depan lahir banyak Chef tangguh dari daerah ini,” tambahnya.

Tembus Ekosistem Pariwisata lewat MoU
Sebagai komitmen konkrit perluasan pasar, agenda ini merangkaikan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Benang Stokel dan Svarga Renjana Villa.
Melalui kerja sama ini, beragam produk UMKM lokal dipastikan terserap oleh industri pariwisata, di antaranya:
- Komoditas Pangan & Minuman: Kopi arabika, gula semut, sirup gula aren, dan madu murni.
- Camilan & Pelengkap: Aneka sambal kemasan, keripik daun singkong, serta keripik talas.
Ketua KUPS Benang Stokel, Yuliana Marwita, menegaskan bahwa kuliner yang disajikan bukan sekadar urusan perut, melainkan sarana kampanye pelestarian alam.

“Kami memberikan bahan pangan yang berada di sekitaran hutan agar bisa dikenal luas dan kelestariannya tetap terjaga. Terima kasih kepada TAF (The Asia Foundation) dan KONSEPSI yang telah membimbing kelompok kami,” kata Yuliana.
Dukungan serupa datang dari pemilik Svarga Renjana Villa, Ni Luh Suarni. Mengacu pada pengalamannya memasok kopi dan gula semut lokal ke hotel di Gili Trawangan yang mendapat respons positif, ia mendorong pelaku usaha untuk menghentikan ketergantungan pada produk pabrikan.
“Daripada menggunakan kopi saset, mengekspos hasil bumi kita sendiri akan jauh lebih bernilai,” tegas Ni Luh Suarni.
Acara ini turut dihadiri oleh Direktur KONSEPSI NTB Moh. Taqiruddin, perwakilan The Asia Foundation (TAF) Dorta Pardede, serta sejumlah pengamat kuliner dan pegiat pemberdayaan masyarakat. (r/fan)







