Sumbawa Besar (EKBIS NTB)– Pemerintah Kabupaten Sumbawa memastikan proyek Hilirisasi Ayam Terintegrasi (HAT) beralih ke Desa Kerekeh, Kecamatan Unter Iwes setelah sebelumnya dilakukan peletakan batu pertama di Desa Serading, Kecamatan Moyo Hilir.
“Kalau lokasi sudah di Kerekeh dan sudah dilakukan peninjauan oleh Direktur Operasional PT Berdikari satu bulan lalu. Saat ini tim dari Berdikari mulai menyusun desain dan Feasibility Studi (FS) atau studi kelayakan,” kata Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kabupaten Sumbawa, Lalu Suharmaji Kertawijaya kepada wartawan, Senin (31/8).
Suharmaji melanjutkan, peralihan lokasi tersebut merupakan kebijakan langsung dari PT Berdikari. Pertimbangannya bahwa pemerintah sudah menyiapkan lahan sekitar 10 hektar dan tercatat sebagai aset tetap milik pemerintah. Sementara, proses penandatanganan kerjasama lebih lanjut masih menunggu kepastian PT Berdikari.
“Lahannya sudah siap 10 hektar di Kerekeh dan tercatat sebagai aset pemerintah. Kalau untuk jadwal pembangunannya kami masih menunggu hasil desain dan FS yang saat ini masih di dusun,” ujarnya.
Hasil FS ini kata dia, menentukan lokasi yang disiapkan sekitar 10 hektar tersebut di Desa Kerekeh. Menurutnya, lokasi itu hanya untuk penyediaan industri ayam sekaligus pakan atau ada skema lain yang disiapkan oleh pemerintah.
Disinggung terkait pertimbangan dari PT Berdikari sehingga proyek itu dialihkan dari Serading ke Kerekeh, Suharmaji mengaku tidak mengetahui secara pasti. Bahkan,ia menyarankan agar langsung ditanyakan lebih lanjut ke PT Berdikari sebagai pemilik proyek dan menjadi kewenangan pemerintah pusat.
“Kita sifatnya hanya menerima saja,karena proyek tersebut merupakan proyek pusat. Kalau untuk peralihan lokasi silahkan tanya langsung ke PT Berdikari, karena mereka yang punya program,” ucapnya.
Sebelumnya, Kementan bersama Provinsi NTB dan Pemkab Sumbawa melakukan groundbreaking di Desa Serading, Kecamatan Moyo Hilir, Jumat (6/2). Namun setelah diletakkan batu pertama hingga saat ini belum ada kemajuan signifikan terkait pelaksanaan proyek yang ditaksir menelan anggaran Rp1,3 triliun tersebut.
Direktur Hilirisasi Peternakan Kementerian Pertanian RI, Dr. Makmun, saat peletakan batu pertama menegaskan kehadiran industri perunggasan terintegrasi di NTB merupakan bagian dari terobosan besar pemerintah. Hal itu dilakukan sebagai upaya membangun ekosistem perunggasan nasional di luar Pulau Jawa.
“Program ini mencakup penguatan dari hulu hingga hilir, mulai dari pembibitan, penyediaan pakan, hingga menjamin ketersediaan day old chick (DOC) bagi peternak daerah,” ucapnya.
Ia melanjutkan, NTB memiliki posisi yang sangat strategis dimana produksi jagungnya menempati peringkat tiga nasional. Apalagi jagung ini menjadi penyumbang sekitar 50 persen komposisi pakan ternak unggas.(ils)






