Lombok Tengah (Ekbis NTB) — Berawal dari melimpahnya hasil pertanian yang tak laku dijual dan berakhir menjadi pakan ternak, UMKM Cempake di Dusun Lendang Batah Daye, Desa Mekar Damai, Kecamatan Praya, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), berhasil mengubah jagung, singkong, hingga sorghum menjadi produk pangan olahan bernilai ekonomi tinggi.
Perjalanan ini tidak berlangsung secara instan. Didirikan sejak 2014 oleh Maemunah, kelompok usaha ini dibentuk sebagai solusi atas persoalan ongkos transportasi yang lebih tinggi dibanding hasil penjualan bahan mentah ke pasar. Selain itu, kelompok ini digerakkan sebagai wadah pemberdayaan perempuan desa, khususnya ibu rumah tangga, ibu kepala keluarga (single parent), serta mantan Tenaga Kerja Wanita (TKW).
“Dulu jagung dan singkong di desa kami tidak terjual karena hanya untuk makanan ternak seperti burung dan ayam. Singkong bahkan ditinggalkan begitu saja di pematang sawah. Kami juga melihat ibu-ibu yang ditinggal suaminya bekerja ke Malaysia agar punya kegiatan positif,” ujar Ketua UMKM Cempake, Maemunah, Jumat (28/8/2026).
Saat ini, UMKM Cempake mempekerjakan 17 orang anggota perempuan. Di antaranya terdapat tiga mantan TKW asal Arab Saudi dan Malaysia, serta lima ibu kepala keluarga. Usaha ini juga ditopang oleh Koperasi Perempuan Cempake yang beranggotakan 40 orang dengan simpanan wajib bulanan untuk modal usaha bersama.
Titik Balik dan Pembinaan Astra Motor NTB
Setelah sempat bertahan dengan olahan kue basah dan pemasaran terbatas ke pengepul sejak 2015, titik balik UMKM Cempake terjadi pada tahun 2022 ketika Astra Motor NTB mendatangi lokasi usaha mereka. Tertarik dengan potensi olahan tanaman lokal sorghum, Astra Motor NTB mulai melakukan intervensi pendampingan.
Maemunah mengakui, sebelum didampingi Astra, rasa percaya diri para anggota sangat rendah untuk memasukkan produk ke toko modern maupun pusat oleh-oleh.
“Yang paling terasa dari binaan Astra Motor NTB ini awalnya kami tidak percaya diri. Namun, kami didampingi dan diantar langsung oleh tim Astra untuk bertemu pengelola toko oleh-oleh seperti Sasaku, Lestari, hingga NTB Mall (sekarang Bale Kita). Produk kami langsung diterima,” ungkap Maemunah.
Selain edukasi branding dan pembaharuan kemasan (packaging), Astra Motor NTB menyalurkan bantuan mesin pengaduk pada tahun 2023 untuk menggantikan proses aduk manual, serta memfasilitasi pengujian nutrisi produk secara gratis.
Tembus Gelaran MotoGP hingga Pasar New Zealand
Dengan kapasitas produksi harian rata-rata 10 hingga 12 kilogram per varian (jagung, singkong, dan sorghum), lini produk olahan UMKM Cempake kini kian beragam, mulai dari Tortilla Singkoghum, Tortilla Beleleng, opak sorghum, kerupuk sorghum, hingga beras sorghum.
Produk-produk ini tak pernah absen menghiasi gerai UMKM pada ajang internasional MotoGP di Pertamina Mandalika International Circuit. Bahkan, tortilla sorghum kreasi UMKM Cempake telah berhasil lolos kurasi pasar Selandia Baru (New Zealand) dan melakukan pengiriman ekspor sebanyak dua kali.
Keaktifan kelompok usaha ini juga ditunjukkan melalui partisipasi dalam berbagai ajang nasional. Setelah mengikuti pendaftaran SATU Indonesia Awards pada 2025, pada tahun 2026 UMKM Cempake tengah melakoni inkubasi dalam dua program sekaligus, yaitu UMKM BISA dan Astra Export Champion.
“Kami berharap keterlibatan dalam program-program ini makin memperluas jaringan dan jangkauan pasar ekspor kami,” kata Maemunah optimis.
Implementasi Pilar CSR dan Kemandirian Ekonomi
Sementara itu, Adm Fin Manager Astra Motor NTB, Ivan Pratama, menjelaskan bahwa keterlibatan Astra Motor NTB dalam membina UMKM Cempake merupakan perwujudan dari program Income Generating Activity (IGA) Astra.
Program IGA berfokus pada pilar CSR Kewirausahaan yang bertujuan memberdayakan masyarakat kurang mampu dan pelaku UMKM agar mampu tumbuh mandiri.
“UMKM Cempake yang diketuai oleh Ibu Maemunah menjadi salah satu binaan fokus IGA Astra Motor NTB. Melalui pelatihan, bantuan sarana produksi, hingga pembukaan akses pasar, kami berharap masyarakat desa dapat memiliki kemandirian ekonomi secara berkelanjutan,” ujar Ivan.
Transformasi UMKM Cempake memvalidasi bahwa komoditas pertanian lokal yang mulanya tak dilirik, dapat dinaikkan kelasnya melalui inovasi olahan, penyempurnaan kemasan, kolaborasi pemasaran, serta pemberdayaan kaum perempuan di pedesaan. (fan)






