Buku Pariwisata Budaya Berkelanjutan: Glokalisasi Sustainabilitas dalam Pariwisata karya I Gede Mudana berhasil diterbitkan Pustaka Larasan, Maret lalu. Buku karya dosen senior Program Doktor Terapan Bisnis Pariwisata Politeknik Negeri Bali ini tak lain merupakan alihbentuk dari pidato orasi ilmiahnya selaku guru besar bidang ilmu Pariwisata Budaya Berkelanjutan di Departemen Pariwisata Politeknik Negeri Bali pada 09 Oktober 2025.
Tak hanya pariwisata budaya dan pariwisata berkelanjutan yang ditelisik secara mendalam dalam karya ini melainkan juga persoalan modal budaya (cultural capital), keberlanjutan (sustainability), globalisasi (globalization), lokalisasi (localization), glokalisasi (glocalization, dll. Glokalisasi, sebagai paduan globalisasi-lokalisasi, adalah diksi penting yang berasal dari pemikiran pakar globalisasi budaya bernama Roland Robertson melalui karya-karyanya sejak 1990-an. Ide glokalisasi perlu dibumikan, setidaknya di Indonesia, dengan adanya keragaman, keindahan dan keunikan kultural negeri ini yang masif dan luar biasa sebagai entitas potensial dan daya jual pariwisata.
Dalam buku setebal 102 halaman ini dipaparkan perlunya destinasi-destinasi untuk tetap bersemangat dan tidak menyerah menggagas, merancang, mewacanakan, dan mempraksiskan pariwisata budayanya secara berintegritas betapa pun ia telah, sedang, dan masih digempur habis kekuatan globalisasi yang datang dari segala penjuru. Tampak bahwa, dalam konteks diskursus, kekuatan global luar yang paling berpengaruh dalam bisnis pariwisata adalah pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism) sebagai bagian integral dari pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Ini dialami tidak saja oleh Bali yang paling awal, bahkan sejak 1970-an, dalam menjalankan pariwisata budaya sehingga dikenal secara klasik sebagai pionir pariwisata budaya.
Justru kemudian dengan datangnya diskursus global pariwisata berkelanjutan, semua stakeholder pariwisata di tingkat lokal (destinasi atau provinsi atau pun yang lebih rendah), harus memiliki strategi khusus agar ada sinergi lokal dan global dalam bentuk pariwisata budaya berkelanjutan atau apa pun nama dan brand yang diberikan. Dalam hal ini, tiga pilar politik-ekonomi-budaya, yakni pemerintah, pihak swasta khususnya industri pariwisata, dan masyarakat sipil bekerja bahu-membahu menerjemahkan konsep pariwisata budaya berkelanjutan ke dalam operasional jangka pendek, menengah, dan panjang.
Dengan demikian, dalam pariwisata yang sudah dijalankan, perlu secara baru distrategikan keseimbangan kepentingan di antara planet (ekologi), profit (ekonomi), dan people (sosial-budaya), sebagaimana yang diangankan oleh John Elkington (1994) melalui paradigm triple bottom line. Dengan begitu, akan ada model baru, yakni semacam glokalisasi sustainabilitas dalam pariwisata melalui pariwisata berkelanjutan berbasis pariwisata budaya (cultural tourism-based sustainable tourism). Dalam hal ini, the existing local cultural tourism (pariwisata budaya budaya lokal yang sudah ada) adalah basis dan the global sustainable tourism (pariwisata berkelanjutan global) akan menyempurnakannya.
Bila tidak demikian, pariwisata budaya dikhawatirkan tidak akan berkelanjutan, baik dalam pemahaman yang berhubungan dengan harmoni ekologi-manusia-sosiobudaya maupun dalam pengertian sederhana sebagai konsep waktu, yaitu masalah berlanjut atau tidak. Itulah fenomena glokalisasi sustainabilitas kepariwisataan yang dimaksud dalam buku terbaru Prof Mudana ini.(*)
I Gede Mudana: Mewaspadai Pariwisata Budaya Tak Berkelanjutan






