Mataram (ekbisntb.com)- Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Nusa Tenggara Barat memastikan ketersediaan ikan di pasar tetap terjaga selama musim angin barat yang menyebabkan sebagian besar nelayan tidak melaut. Upaya menjaga stabilitas pasokan dilakukan melalui optimalisasi stok cold storage, penguatan perikanan budidaya, serta koordinasi lintas sektor.
Kepala DKP Provinsi NTB, H. Muslim, ST., M.Si, menjelaskan bahwa musim angin barat yang terjadi saat ini merupakan fenomena tahunan yang telah diantisipasi sejak awal. Berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, aktivitas melaut nelayan memang menurun drastis karena faktor keselamatan.
“Musim barat ini kan selalu berulang setiap tahun. Ketika nelayan tidak melaut, ikan yang beredar di pasar berasal dari cold storage dan perikanan budidaya,” ujarnya, Jumat, 23 Januari 2026.
Ia menyebutkan, jenis ikan yang saat ini tersedia dari cold storage antara lain ikan kembung, tongkol, layang, ikan semar (ikan batik), serta berbagai produk olahan ikan. Per 31 Desember 2025, total stok ikan yang tersimpan di cold storage se-NTB mencapai 317.064 kilogram, dengan total kapasitas cold storage sebesar 3.076 ton.
“Khusus di Kota Mataram, stok ikan tercatat sekitar 131.634 kilogram dengan kapasitas cold storage mencapai 980 ton. Ini masih sangat mencukupi untuk kebutuhan masyarakat,” jelasnya.
Meski jenis ikan tangkapan laut yang dijual di pasar relatif berkurang, Muslim juga menegaskan kebutuhan konsumsi ikan masyarakat NTB tetap terpenuhi. Pasalnya, ikan yang paling banyak dikonsumsi masyarakat, khususnya di Pulau Lombok, adalah ikan nila yang berasal dari perikanan budidaya air tawar.
“Produksi perikanan air tawar kita cukup tinggi. Kombinasi antara stok cold storage dan hasil budidaya membuat kebutuhan ikan masyarakat tetap aman,” katanya.
Namun demikian, DKP NTB mencatat adanya kendala berupa kekurangan bahan baku untuk industri pemindangan ikan. Untuk mengatasi hal tersebut, pasokan ikan didatangkan dari Pulau Jawa, khususnya Jawa Timur.
“Permintaan bahan baku sudah kita laksanakan dan distribusinya dilakukan secara bertahap, menyesuaikan kapasitas cold storage yang tersedia,” terangnya.
Pada musim angin barat, ikan yang beredar di pasar didominasi oleh jenis ikan demersal hasil pancingan seperti kerapu, kakap, ketambak, dan langoan. Selain itu, ikan dari cold storage seperti ikan semar, kuweh, kembung, dan layang juga masih tersedia.
Berdasarkan pengalaman tahun 2025 dan tahun-tahun sebelumnya, harga ikan tangkapan laut tersebut cenderung mengalami kenaikan. Sementara itu, harga ikan budidaya seperti ikan nila relatif stabil di kisaran Rp30.000 per kilogram.
Selain menjaga pasokan ikan, DKP NTB juga memberikan perhatian pada keselamatan dan kondisi sosial nelayan. Pihaknya berkoordinasi dengan perangkat daerah terkait dan Dinas Sosial untuk penyaluran bantuan bersifat insidentil kepada nelayan yang terdampak.
“Kami mengimbau nelayan untuk sementara waktu waspada dan menghindari area yang berpotensi membahayakan keselamatan jiwa serta sarana penangkapan,” demikian Muslim.(bul)






