26.5 C
Mataram
BerandaBerandaBebas Visa Dongkrak Minat Masyarakat NTB Berumrah Plus Wisata ke Turki

Bebas Visa Dongkrak Minat Masyarakat NTB Berumrah Plus Wisata ke Turki

Mataram (ekbisntb.com) – Tren perjalanan umrah yang dilanjutkan dengan wisata ke Turki terus menunjukkan peningkatan, termasuk dari Nusa Tenggara Barat. Kebijakan bebas visa bagi Warga Negara Indonesia (WNI) ke Turki menjadi salah satu faktor utama yang mendorong tingginya minat jamaah.

Ketua Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (Amphuri) Bali Nusra, H. Zamroni, mengungkapkan bahwa tren umrah yang dikombinasikan dengan wisata ke Turki terus mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Kemudahan akses perjalanan, terutama kebijakan bebas visa ke Turki bagi WNI, menjadi pemicu utama tingginya antusiasme masyarakat.

“Kalau dulu ke Turki itu mahal karena harus bayar visa sekitar Rp2,7 juta. Sekarang sudah gratis, jadi orang makin banyak berwisata ke Turki. Dampaknya, muncul tren umrah yang dilanjutkan dengan wisata Turki,” ujar H.Zamroni, Selasa, 20 Januari 2025.

Ia menjelaskan, paket umrah plus Turki umumnya diberangkatkan dalam bentuk konsorsium atau gabungan beberapa travel dari berbagai daerah di Indonesia. Hal ini dilakukan agar jumlah jamaah mencukupi satu grup, yakni sekitar 35 orang, sehingga harga paket bisa lebih terjangkau.

“Kalau sendiri-sendiri, biayanya bisa mahal sekali. Makanya biasanya kami konsorsium dengan beberapa travel agar harga paketnya masuk,” jelasnya.

Menurut Zamroni, minat jamaah asal NTB terhadap paket umrah plus Turki terbilang konsisten. Bahkan, dalam tiga tahun terakhir, permintaan terus ada setiap tahunnya. Musim terbaik untuk menjalani umrah sekaligus wisata ke Turki biasanya terjadi pada Desember hingga Januari, bertepatan dengan musim salju di Turki.

“Musim enak itu Desember–Januari. Setelah itu biasanya sudah tidak ada lagi paket umrah plus Turki,” katanya.

Saat ini, harga paket umrah plus Turki berada di kisaran Rp38 juta untuk perjalanan selama 12 hari, dengan rincian tiga hari di Turki, empat hari di Madinah, dan lima hari di Mekkah. Kenaikan minat jamaah juga didorong oleh banyaknya promo tiket penerbangan, khususnya dari maskapai Saudia Airlines.

“Secara statistik, trennya lumayan naik. Dari Amphuri saja sudah kelihatan banyak, belum lagi dari asosiasi travel lain yang juga menjual paket serupa,” tambah Zamroni.

Terkait isu ketegangan geopolitik global, khususnya antara Amerika Serikat dan Iran yang berpotensi menyeret kawasan Timur Tengah, Zamroni mengakui adanya kekhawatiran. Namun, ia menilai kondisi saat ini masih relatif aman bagi perjalanan umrah.

“Awalnya tentu kita cemas dengan ketegangan AS dan Iran. Tapi Arab Saudi menutup ruang udaranya untuk Amerika, sehingga tidak ada potensi gempuran ke Iran. Itu yang membuat kita agak lega,” ujarnya.

Ia mencontohkan, pada 2025 lalu saat terjadi ketegangan antara Qatar dan beberapa negara, sempat terjadi penundaan penerbangan ke arah Turki yang berdampak langsung pada perjalanan jamaah. Namun untuk kondisi saat ini, belum ada gangguan serupa.

“Kalau ruang udara Saudi dibuka untuk AS, pengaruhnya bisa besar. Tapi sekarang relatif aman. Sampai hari ini juga belum ada notifikasi atau larangan dari Kementerian Haji dan Umrah, jadi semuanya masih normal,” tegasnya.

Meski demikian, Zamroni menegaskan bahwa industri travel tetap mengikuti regulasi internasional apabila terjadi kejadian luar biasa di tingkat global. Menurutnya, hal tersebut berada di luar kendali biro perjalanan.

“Kita serahkan pada regulasi dunia. Kalau ada kejadian luar biasa, itu di luar kendali travel. Tapi sejauh ini kondisinya masih aman dan berjalan normal,” pungkasnya. (bul)

Artikel Yang Relevan

IKLAN


Terkait Berdasarkan Kategori

Jelajahi Lebih Lanjut