Mataram (suarantb.com) — Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) Nusa Tenggara Barat (NTB) menatap optimistis tahun pariwisata 2026 dengan membidik pasar wisatawan Timur Tengah, khususnya Arab Saudi, serta India. Langkah ini ditempuh sebagai strategi menghadapi dinamika global yang tidak menentu sekaligus menjaga pertumbuhan kunjungan wisatawan ke NTB.
Ketua Astindo NTB, Sahlan M. Saleh, mengatakan, untuk pasar baru ini, Arab Saudi memiliki potensi sangat besar. Astindo NTB pun intens menjalin kerja sama dengan mitra di Timur Tengah serta aktif mengikuti pameran dan bursa pariwisata internasional.
“Kami ingin mendorong lebih banyak wisatawan dari Saudi. Kami bekerja sama dengan partner di sana dan mengikuti kegiatan travel di Riyadh, seperti Arabian Travel Market,” jelasnya.
Selain Timur Tengah, pasar India juga mulai dilirik, khususnya segmen menengah ke atas. Meski masih terbatas, Sahlan menilai pasar India memiliki potensi jangka panjang bagi pariwisata NTB.
“India punya segmen wisatawan menengah ke atas yang cukup besar. Ini peluang yang terus kami pelajari dan kembangkan,” pungkasnya.
Sahlan mengemukakan, sepanjang 2025 pihaknya aktif menginisiasi berbagai event untuk meningkatkan permintaan (demand) kunjungan wisatawan ke NTB. Upaya tersebut menjadi bagian dari kontribusi industri pariwisata dalam mendukung program pemerintah daerah.
“Capaian kami di 2025 salah satunya dengan membuat event-event yang mampu mendorong kunjungan wisatawan ke NTB. Astindo terus aktif sebagai bagian dari industri yang ikut mengembangkan pariwisata daerah,” ujar Sahlan.
Menurutnya, sektor pariwisata sangat rentan terhadap isu global, mulai dari konflik internasional hingga fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar seperti yang terjadi saat ini. Namun, justru di situlah kekuatan sebuah destinasi diuji.
“Kehebatan sebuah destinasi adalah ketika tetap bisa mendatangkan wisatawan di saat situasi global tidak baik-baik saja. Karena itu, tahun ini kami tetap menggelar event internasional yang sudah kami launching sejak Desember lalu,” jelasnya.
Astindo NTB juga mendorong strategi penjualan lebih awal (early sales) untuk mengantisipasi berbagai isu global. Beberapa event olahraga dan pariwisata, seperti fun run hingga MotoGP Mandalika, diarahkan untuk dipasarkan lebih dini dengan skema harga khusus.
“Kami berharap dengan penjualan lebih awal, termasuk paket MotoGP, destinasi NTB bisa dipasarkan sejak dini. Ini penting agar kita tidak terlalu terdampak isu-isu global yang berkembang,” kata Sahlan.
Ia menambahkan, pelaku industri pariwisata dituntut adaptif dan mampu bertahan dalam berbagai kondisi. Pengalaman saat pandemi Covid-19 menjadi pelajaran berharga, ketika industri tetap bergerak melalui inovasi seperti virtual tour.
“Dalam kondisi sulit, kita harus bisa survive. Kreativitas dan inovasi menjadi kunci,” tegasnya.
Sepanjang 2025, Astindo NTB mencatat total sekitar 6.200 wisatawan yang datang melalui jaringan agen perjalanan anggotanya. Komposisi kunjungan didominasi wisatawan mancanegara sekitar 60 persen, sementara wisatawan domestik sekitar 40 persen.
“Wisatawan mancanegara masih cukup dominan, terutama dari Eropa. Bahkan kemarin ada charter flight dari Slovakia yang membawa tamu-tamu kelas atas,” ungkap Sahlan.
Memasuki 2026, Astindo NTB menargetkan dapat mendatangkan hingga 10 ribu wisatawan, dengan komposisi kunjungan tetap dijaga pada rasio 60 persen wisatawan mancanegara dan 40 persen domestik.
Dengan strategi pemasaran agresif, kolaborasi internasional, serta inovasi produk wisata, Astindo NTB optimistis pariwisata NTB tetap tumbuh dan kompetitif di tengah tantangan global.
Untuk diketahui, Sahlan M Saleh Sh.,MH kembali terpilih secara aklamasi sebagai Ketua DPD Astindo NTB pada Musda Astindo NTB, Kamis 15 Januari 2025 di Hotel Golden Palace, Mataram. Musda dihadiri langsung Ketua Umum DPP Astindo, Pauline Suharno. (bul)






