26.5 C
Mataram
BerandaBerandaJadi Destinasi Kelas Dunia, TNGR akan Tambah Jumlah CCTV di Gunung Rinjani

Jadi Destinasi Kelas Dunia, TNGR akan Tambah Jumlah CCTV di Gunung Rinjani

Mataram (ekbisntb.com) – Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) berencana menambah jumlah kamera pengawas atau Closed Circuit Television (CCTV) di sejumlah titik strategis jalur pendakian Gunung Rinjani. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari upaya meningkatkan keselamatan pendaki, perlindungan lingkungan, serta kualitas pengelolaan kawasan pendakian kelas dunia.

Kepala Balai TNGR, Budhy Kurniawan, mengatakan pemanfaatan teknologi menjadi salah satu fokus utama pengelolaan Rinjani ke depan. Menurutnya, pengembangan sistem pengawasan berbasis teknologi sangat penting untuk menutup keterbatasan jumlah petugas di lapangan.

“Pemanfaatan CCTV ini untuk mengisi gap keterbatasan personel. Dengan teknologi, monitoring bisa jauh lebih efektif,” ujar Budhy di kantornya, Senin, 12 Januari 2025.
Ia menjelaskan, visi pengelolaan TNGR adalah menjadikan Gunung Rinjani sebagai destinasi pendakian kelas dunia yang tidak hanya aman dan nyaman, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat sekitar. Untuk mewujudkan hal tersebut, terdapat tiga prinsip utama yang menjadi pegangan pengelolaan.

“Pertama, konservasi lingkungan harus terjamin. Kedua, keselamatan pengunjung wajib kita pastikan. Ketiga, harus ada manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal,” tegasnya.

Budhy menyebutkan, pada tahun ini TNGR telah merancang sejumlah program strategis, salah satunya penguatan infrastruktur dan sistem monitoring berbasis teknologi. Selain penataan jalur pendakian, pihaknya juga akan mulai memasang CCTV di beberapa titik krusial.

“Saat ini sudah ada sekitar tujuh unit CCTV yang terpasang. Ke depan, jumlahnya akan terus kita tambah secara bertahap di enam jalur pendakian yang ada di Gunung Rinjani,” jelas Mantan Kepala BKSDA NTB ini.

Penempatan CCTV akan diprioritaskan di lokasi-lokasi dengan intensitas aktivitas manusia yang tinggi dan durasi tinggal yang relatif lama, seperti jalur rawan kecelakaan, area perkemahan, dan titik bermalam pendaki, termasuk kawasan sekitar danau dan jalur menuju puncak.

Selain untuk keselamatan, CCTV juga berfungsi sebagai alat deteksi dini terhadap potensi pelanggaran aturan pendakian, seperti perusakan lingkungan, pembuangan sampah sembarangan, hingga ketidakpatuhan terhadap standar operasional prosedur (SOP).

“Dengan CCTV, kita bisa mendeteksi lebih cepat jika terjadi kecelakaan, pelanggaran aturan, atau dampak negatif aktivitas pendakian. Ini juga berlaku bagi semua pihak, baik pengunjung, mitra, porter, pemandu, bahkan petugas,” ujarnya.

Ke depan, seluruh sistem CCTV akan terintegrasi dengan command center di Balai TNGR, sehingga seluruh aktivitas pendakian dapat dipantau secara real time. Rekaman tersebut juga dapat menjadi bahan evaluasi dan dasar pengambilan kebijakan lanjutan.

Budhy menegaskan, CCTV bukan semata alat pengawasan, tetapi bagian dari penguatan manajemen pengelolaan kawasan agar lebih akurat, profesional, dan adaptif.

“Harapannya, dengan teknologi ini, implementasi seluruh SOP bisa berjalan optimal dan pengelolaan pendakian Gunung Rinjani semakin baik,” katanya.

TNGR menurutnya mengacu pada praktik terbaik (best practice) pengelolaan taman nasional dengan tetap mengedepankan konservasi, keselamatan, dan manfaat ekonomi lokal.

“Prinsip itu yang terus kita upgrade agar Rinjani benar-benar menjadi destinasi pendakian kelas dunia,” pungkasnya.(bul)

Artikel Yang Relevan

IKLAN


Terkait Berdasarkan Kategori

Jelajahi Lebih Lanjut