26.5 C
Mataram
BerandaBerandaKerajinan Tenun Gumise Gerung Kian Redup

Kerajinan Tenun Gumise Gerung Kian Redup

Giri Menang (ekbisntb.com) – Tenun ikat Gumise, Desa Giri Tembesi Kecamatan Gerung Lombok Barat (Lobar) dulunya begitu dikenal di NTB, bahkan hingga ke luar daerah. Tenun yang menjadi andalan Lobar ini memiliki kekhasan motif, berupa gerimis, lurik, kombinasi, dan penuh motif. Namun seiring perkembangan waktu, kerajinan ini kini kian redup, terutama karena dampak gempa tahun 2018 disusul pandemi Covid-19. Diperparah minimnya sentuhan dari Pemkab setempat.

Sejak lama Pemkab berjanji membeli tenun secara massal dari perajin untuk pakaian ASN, tetapi hingga kini belum ada yang terealisasi. Sementara, jajaran ASN Pemkab sendiri mulai tahun ini memakai batik yang menjadi pakaian khas setiap hari Kamis.

Ketua Kelompok Tenun ATBM UD Darmayasa Gumise, Ni Wayan Landri ditemui Kamis (8/1/2026) menyampaikan kondisi dari awal pengembangan kerajinan tenun di daerahnya.

Tenun di daerah itu mulai muncul sejak tahun 1997 tahun silam. Ia dan almarhum suaminya yang mempelopori pengembangan kerajinan tenun khas tersebut. Awalnya warga setempat, belum ada warga yang menenun. Warga hanya mencari kayu bakar, bertani dan lain-lain. Ia pun memulai menenun sendiri di rumahnya. Lambat laun, warga sekitar pun mau menenun.

Warga semakin antusias menyusul dibangunnya ruang pamer atau showroom dan tempat menenun sekitar tahun 2005 oleh Pemkab Lobar ketika itu. Menurutnya, ketika itu perhatian pemda lumayan besar ke perajin tenun. Namun, diakui kondisi sekarang tidak seperti dulu.

“Sekarang hanya beberapa orang saja kelompok yang masih aktif. Ada sekitar 10 orang, dulunya ada 20-an orang,” ungkapnya.

Saat ini pun pesanan tenun terbilang belum signifikan. Baru-baru ini ada beberapa yang memesan, yakni dari Dinas Pertanian dan Dekranasda Lobar yang memesan. Dekranasda memesan 50 potong. Ditanya apakah ada pesanan khusus dari Pemkab untuk pakaian ASN? Wayan Landri mengaku, belum ada pesanan ke perajin.

Ia mengakui, tren pemesanan tenun ini menurun. Kendalanya karena persaingan harga. Untungnya saat ini ada pasar secara daring yang bisa dimanfaatkan para perajin untuk memasarkan produknya. Terpenting saat ini bagiamana ia bisa meningkatkan produksi agar ketersediaan stok tetap ada.

Begitu pula dari sisi Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) yang dimiliki sebanyak 20 unit. Namun ATBM ini hampir semua punya kelompok yang dibuat swadaya. Sedangkan dari Pemkab hanya sekitar tiga unit ATBM, itupun kondisinya saat ini sudah ada yang mulai rusak.

Terkait bahan baku, para perajin membeli benang putih dari Bali. Sebelumnya pihaknya bisa memproduksi sendiri bahan baku ini, namun sekarang ia tak lagi bisa produksi.

Bahan baku ini jelasnya, tergantung jenisnya. Jika bahan baku benang putih dipesan dari Bali, sedangkan jika yang biasa dibeli di lokal. Kendala yang dihadapi perajin jelasnya, SDM perajin yang kurang. Terutama kemampuan para perajin dalam pengembangan motif, masih terbatas.

Waktu pembuatan tenun ini pun tergantung motif. Motif tenun ini dan lama serta rumitnya pengerjaan mempengaruhi harga. Tenun motif gerimis dan polos harganya lebih murah dijual Rp350 ribu sedangkan full motif dan lurik Rp450 ribu.

Ia mengaku, jika melihat penghasilan perajin masih minim. Hal ini menyebabkan mereka enggan mau menenun. Karena itu, mereka pun menutupi dengan bertani dan berkebun. Ketika musim tanam tiba, warga beralih mengarap pertanian. Namun ketika musim tanan dan panen berakhir barulah mereka kembali menenun.

Para perajin tenun Gumise sejauh ini masih jauh dari kata sejahtera, lantaran penghasilan yang diperoleh tak memadai dibandingkan upaya membuat kerajinan ini. Mereka berharap ada perlindungan atau jaminan harga dan pasar yang jelas supaya kerajinan yang mereka kembangkan bisa memperoleh penghasilan yang memadai.

Pihaknya berharap perhatian lebih dari pemerintah, baik dari sisi pelatihan, Intervensi bantuan dan permodalan. Sebab bantuan pernah diperoleh dari Dinas sudah lama sekali, ketika almarhum suaminya masih hidup.

Sementara itu Pemkab Lobar melalui Camat Gerung Fitriati Wahyuni mengatakan bahwa kondisi tenun Gumise memang tidak seperti dulu. Kendalanya, diakui modal dan bahan baku yang harganya terus naik. “Kita belum ada yang mandiri mampu produksi bahan baku, di satu sisi kalau naikkan harga konsumen kabur,” imbuhnya.

Tenun Gumise ini diakui timbul tenggelam, kondisinya menurun. Untuk itu pihaknya mendorong OPD terkait lebih memperhatikan dari sisi pelatihan, dan mesin alat tenun. Termasuk regenerasi para penenun. Sebab selama ini tenun itu bukan menjadi mata pencaharian utama.

Penenun hanya bersifat sambilan oleh ibu-ibu. Soal modal, pihaknya telah mendorong melalui modal usaha pinjaman tanpa modal. Selain itu pihaknya mendorong desa untuk menghidupkan lagi, seperti BUMDes bisa menyentuh ke tenun tersebut. (her)

Artikel Yang Relevan

IKLAN


Terkait Berdasarkan Kategori

Jelajahi Lebih Lanjut