HomeEKONOMI & BISNISRatusan Perempuan Akan Parade Kebaya Nasional di Taman Sangkareang, Ini Maknanya

Ratusan Perempuan Akan Parade Kebaya Nasional di Taman Sangkareang, Ini Maknanya

Mataram (ekbisntb.com) – Sebanyak 200 perempuan di NTB akan memadati Taman Sangkareang, Kota Mataram, Minggu, 2 Agustus 2026, dalam ajang Parade Kebaya Nasional 2026. Parade yang digelar Dewan Pimpinan Daerah Perempuan Indonesia Maju (DPD PIM) NTB ini dijadwalkan dimulai pukul 07.30 WITA.

Humas DPD PIM NTB, Hj. Nurhidayah, Jumat, 31 Juli 2026 mengatakan antusiasme masyarakat mengikuti parade kebaya ini jauh melampaui perkiraan. Awalnya hanya ditargetkan sekitar 20 kelompok peserta, namun jumlah pendaftar justru membludak.

“Kami semula memperkirakan hanya sekitar 20 grup. Namun ternyata animo masyarakat luar biasa, hingga saat pendaftaran ditutup tercatat ada 40 grup atau sekitar 200 perempuan yang akan ikut berkebaya,” ujarnya.

- Advertisement -

Menurut Nurhidayah, tingginya partisipasi ini menunjukkan bahwa kecintaan masyarakat terhadap kebaya dan budaya lokal masih sangat kuat.

Penyelenggaraan Parade Kebaya Nusantara merupakan bagian dari peringatan Hari Kebaya Nasional yang diperingati setiap 24 Juli. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi bentuk dukungan terhadap pengakuan kebaya sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO yang diperjuangkan bersama lima negara di Asia Tenggara, yakni Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan Thailand.

“Ketua DPP PIM, Ibu Lanate Kuncoro, merupakan salah satu tim nasional yang ikut memperjuangkan kebaya sebagai warisan budaya takbenda. Karena itu kami ingin masyarakat ikut merasakan semangat pelestarian budaya tersebut melalui kegiatan ini,” tambahnya.

Lanjut Nurhidayah, lebih dari sekadar mengenakan kebaya, seluruh peserta diwajibkan memadukan busana mereka dengan wastra asli NTB, baik tenun dari Lombok, Sumbawa, Bima, Dompu maupun daerah lain di NTB. Panitia secara khusus melarang penggunaan kain bermotif cetak (print) sebagai bentuk dukungan terhadap para perajin tenun tradisional.

Tema yang diangkat tahun ini adalah “Melestarikan Wastra NTB”, sebagai ajakan untuk mencintai sekaligus menggunakan produk budaya daerah dalam kehidupan sehari-hari.

“Kami ingin masyarakat memahami bahwa wastra NTB memiliki nilai budaya yang tinggi. Karena itu peserta diwajibkan menggunakan kain tenun asli, bukan kain print. Boleh memakai wastra dari Lombok, Bima, Dompu, Sumbawa atau daerah lain di NTB, yang penting merupakan wastra asli daerah,” jelasnya.

Ia juga berharap kebaya tidak lagi dipandang sebagai busana yang hanya dikenakan pada acara seremonial. Menurutnya, perkembangan desain kebaya modern dapat menjadi jembatan agar generasi muda lebih percaya diri mengenakan kebaya dalam berbagai kesempatan.

“Kami ingin anak-anak muda melihat bahwa kebaya bisa tampil modern, elegan, dan nyaman dipakai. Kalau desainnya terus berkembang, bukan tidak mungkin kebaya bisa digunakan dalam aktivitas sehari-hari, bahkan di lingkungan kerja pada hari-hari tertentu,” ujarnya.

Selain parade dan fashion show kebaya, berbagai kegiatan turut meramaikan acara ini. Di antaranya pelantikan dan pitching anggota PIM NTB, sosialisasi digitalisasi pembayaran melalui QRIS oleh Bank Indonesia, peluncuran program ekonomi kreatif dari DPP PIM, serta bazar yang diikuti sekitar 40 pelaku UMKM.

Pengunjung juga dapat menikmati berbagai layanan publik yang disediakan di lokasi, seperti perpustakaan keliling, pelayanan pembayaran pajak, pemeriksaan kesehatan gratis, hingga layanan kesehatan hewan yang tengah diupayakan panitia.

Pelaksanaan Parade Kebaya Nasional 2026 juga mendapat dukungan Pemerintah Kota Mataram karena bertepatan dengan rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-33 Kota Mataram serta menyambut Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Sejumlah tokoh nasional dijadwalkan mendukung kegiatan ini, di antaranya Wakil Ketua DPR RI Hj. Sari Yuliati. Dukungan juga datang dari Wakil Ketua DPD RI Ratu Hemas, Rahayu Saraswati Djojohadikusumo, serta Ketua Kongres Wanita Indonesia (Kowani) Nani Hadi Tjahjo Cahyadi.

Bagi DPD PIM NTB, kehadiran dan dukungan para tokoh nasional menjadi penyemangat untuk terus mengembangkan Parade Kebaya di daerah. Meski tahun ini menjadi penyelenggaraan perdana di NTB, panitia berharap kegiatan ini dapat berkembang menjadi agenda budaya tahunan.

“Harapan kami, kegiatan ini bukan hanya menjadi perlombaan, tetapi menjadi gerakan bersama untuk mencintai kebaya dan melestarikan wastra NTB sebagai identitas budaya yang harus terus diwariskan kepada generasi mendatang,” tutup Nurhidayah.(bul)

Artikel Yang Relevan

IKLAN





Terkait Berdasarkan Kategori

Jelajahi Lebih Lanjut