Tanjung (ekbisntb.com) – Franchis School sebuah lembaga pendidikan di bawah Keduataan Besar Prancis di Indonesia, menaruh minat pada sekolah lapangan yang mengkoneksikan pengelolaan penginapan berbasis lingkungan. Hal tersebut diketahui dari konfirmasi jadwal berkunjung 19 siswa dan tiga guru Sekolah Perancis di Bali tersebut untuk berkunjung ke praktik penerapan penginapan dan berbasis kearifan lokal yang diterapkan Saifana Organic Farm.
Owner Saifana Organic Farm, Sutikno, Jumat (29/5) mengakui, setidaknya sudah ada dua lembaga yang mengonfirmasi untuk berkunjung ke praktik sekolah lapang yang diusung Saifana. Kedua lembaga tersebut adalah Francis School Bali, dan Politeknik Negeri Bali Kampus Lombok Barat.
Ia menjelaskan, kunjungan kedua lembaga berlangsung pada jadwal yang berbeda. Poltek Negeri Bali Kampus Lobar akan berkunjung sehari pada 30 Mei 2026, dengan rombongan 54 mahasiswa dan lima dosen pembimbing. Sedangkan jadwal Francis School berlangsung 9 Juni 2026 dengan rombongan 19 Siswa dan tiga guru pembimbing.
Dalam sekolah lapang, Saifana akan melibatkan UMKM Tenun Bayan. Dari tiga hari kunjungan, siswa dan guru Francis School akan diperlihatkan proses produksi tenun khas Bayan, Lombok Utara.
Menurut Sutikno, minat dan ketertarikan untuk melakukan sekolah lapangan di Saifana, tidak lepas dari berkembangnya informasi bahwa Saifana menerapkan pengelolaan penginapan berbasis kearifan lokal dan kepedulian terhadap lingkungan. Di Saifana, tamu tidak hanya menggunakan fasilitas sebagai tempat transit (menginap) menuju obyek wisata sekitar, tetapi juga diperlihatkan bagaimana tata kelola perkebunan organik dan peternakan lebah madu trigona.
Dikatakan, banyak lembaga Politeknik khusunya jurusan pariwisata, menerapkan Tourism Day Out bagi mahasiswa. Program ini bersifat wajib bagi mahasiswa di tiap jenjang semester sebagai bagian dari pendalaman materi kuliah professional Ethic and Carrer Development, Hospitality Enterpreneurship, Green Tourism, maupun Digital Marketing.
Bagi Sutikno, kunjungan lapangan dari berbagai lembaga eksternal, sudah menjadi hal biasa. Selaku pengelola Penginapan, dirinya dengan sukarela menjelaskan konsep integrasi pengelolaan kebun organik dengan penginapan. Banyak kelas yang disiapkan oleh Saifana. Dari pengelolaan lahan kering, budidaya tanaman berbasis organik, budidaya madu Trigona, hingga Cooking Class dengan mengedepankan kearifan lokal masyarakat suku Sasak Lombok Utara.
“Kalau (mahasiswa) dari Eropa setiap tahun banyak, termasuk dari Asia, dan terdekat dari Singapura,” imbuhnya.
Bagi Sutikno sekaligus Pendiri Trash Hero Bayan ini, tatap muka dengan mahasiswa dalam dan luar negeri, menjadi kesempatan bagus untuk menyampaikan ke dosen dan mahasiswa, bahwa dunia usaha membutuhkan alumni yang memiliki wawasan terintegrasi antara usaha, lingkungan, maupun tata kelola kearifan lokal.
Menurutnya, pelatihan yang tidak melibatkan dunia usaha, hanya menghambur-hamburkan dana. Dirinya bahkan mendorong strategi pendekatan “dual system” untuk dunia pendidikan. (ari)






