Monday, March 30, 2026
26.5 C
Mataram
HomeBerandaLebaran Topat: Bukan Sekadar Tradisi, tapi Sumber Denyut Ekonomi

Lebaran Topat: Bukan Sekadar Tradisi, tapi Sumber Denyut Ekonomi

PAGI itu, suasana Pasar Pagesangan, Kota Mataram, Jumat (27/3/2026), terasa berbeda. Keramaian datang lebih awal dari biasanya. Di antara hiruk-pikuk pembeli dan suara tawar-menawar, deretan pedagang janur tampak sibuk melayani pembeli yang silih berganti.

Menjelang perayaan Lebaran Topat, janur menjadi komoditas yang paling dicari. Tradisi yang telah mengakar kuat di tengah masyarakat Lombok ini bukan sekadar bagian dari ritual budaya, tetapi juga menjadi sumber penghidupan bagi banyak orang.

- Iklan -

Di sudut pasar, Nurul (43), pedagang janur asal Desa Kekait, Kecamatan Gunungsari, Kabupaten Lombok Barat, tampak cekatan melayani pembeli. Tangannya lincah merapikan ikatan janur, sesekali menghitung uang, tanpa menghilangkan senyum di wajahnya. “Kami berangkat sebelum subuh sejak Kamis kemarin,” tuturnya.

Sejak dini hari, Nurul sudah menempuh perjalanan dari desanya menuju pasar. Ia membawa puluhan ikatan janur yang telah dipersiapkan sehari sebelumnya. Ada janur yang sudah dirajut menjadi ketupat, ada pula yang masih utuh. Bahkan, ia juga menawarkan kemasan ketan berbentuk bantal, menambah variasi dagangannya.

Satu ikatan berisi 10 buah ketupat dijual seharga Rp10 ribu, sementara janur yang belum dirajut dibanderol Rp500 per lembar. Meski terlihat sederhana, usaha ini menyimpan cerita panjang tentang kerja keras dan ketekunan.

Janur yang dijual Nurul bukan berasal dari kebunnya sendiri. Ia membelinya dari petani di kampungnya, kemudian memilah, membersihkan, dan mengikatnya sebelum dibawa ke pasar. Dari tangan petani hingga ke pembeli, ada rantai ekonomi yang hidup dari tradisi ini. “Alhamdulillah, sehari bisa dapat sekitar Rp1 juta,” katanya.

Baginya, Lebaran Topat adalah momen yang dinanti setiap tahun. Tidak hanya membawa rezeki bagi dirinya, tetapi juga bagi para petani kelapa di desanya.

Di lapak lain, Hj. Nuraini (67) juga merasakan hal serupa. Sejak dua hari sebelum Idulfitri, ia sudah mulai berjualan janur di pasar yang sama. Menurutnya, Lebaran Topat justru lebih ramai dibandingkan Idulfitri. “Lebih ramai sekarang, karena ini memang momen perayaan,” ujarnya.

Keramaian tak hanya terasa di pasar. Di sepanjang Jalan Airlangga, aroma santan dan rempah menggoda pengendara. Para pedagang ketupat opor berjejer, memanfaatkan momen ini untuk meraih rezeki.

Nanik (45), salah satunya. Pedagang asal Sekarbela ini sudah hampir satu dekade menjajakan ketupat opor setiap Lebaran Topat. Ia membuka lapak sederhana di dekat Taman Budaya NTB. “Biasanya mulai jualan sehari sebelum Lebaran Topat,” katanya.

Di lapaknya, tersedia beragam lauk pendamping ketupat, mulai dari opor telur, tempe, tahu, hingga sayur nangka. Satu porsi dijual dengan harga Rp20 ribu hingga Rp25 ribu. Pembeli datang silih berganti, sebagian besar membawa keluarga.

Lebaran Topat memang bukan sekadar perayaan. Tradisi yang digelar sepekan setelah Idulfitri ini menjadi momen berkumpul, berbagi, dan mengenang kebersamaan. Ketupat yang disajikan bukan hanya makanan, tetapi simbol kehangatan dan kebersamaan.

Di balik suasana yang meriah, ada denyut ekonomi rakyat yang terus bergerak. Dari petani kelapa, perajin janur, hingga pedagang makanan, semuanya terhubung dalam satu siklus yang berulang setiap tahun.

Lebaran Topat, pada akhirnya, bukan hanya menjaga tradisi, tetapi juga menghidupkan harapan, tentang rezeki, kebersamaan, dan keberlanjutan kehidupan masyarakat. (pan)

IKLAN

Artikel Yang Relevan

IKLAN





Terkait Berdasarkan Kategori

Jelajahi Lebih Lanjut