Di sebuah sudut rumah di Ampenan, waktu seolah berjalan lebih lambat. Tumpukan kayu tua, akar-akar besar yang telah mengering, serta perkakas ukir yang masih tertata rapi menjadi saksi perjalanan panjang seorang seniman. Di tempat itulah Bing Gianto terus berkarya, meski usianya telah beranjak menuju satu abad.
BING Gianto tahun 2026 ini memasuki usia 72 tahun. Sudah lebih dari separuh hidupnya ia dedikasikan untuk dunia seni, khususnya desain kerajinan kayu. Ia sebelumnya cukup aktif di Dekranasda NTB, dan sudah menjabat sebagai Kepala Kantor Perwakilan Dagang Jawa Timur di NTB.
Usia tak pernah menjadi batas. Ingatannya masih kuat, tubuhnya tetap bugar, dan yang paling penting, imajinasinya tidak pernah berhenti bekerja.
Dari tangannya telah lahir puluhan karya, sebagian besar berupa meja-meja besar dengan ukiran tiga dimensi yang unik dan penuh detail. Yang umumnya menggambarkan kearifan lokal Nusa Tenggara Barat.
Diantara karyanya adalah meja Segara Anak, meja Kuda, Meja Gerabah Lombok, Meja Waktu Telu, Meja Berugaq, Meja Gendang Baleq, Meja Nuansa Bumi Gora, dan lainnya.
Bagi Bing Gianto, bungkul akar kayu bekas tebangan pohon bukan sekadar bahan. Ia melihat kehidupan di dalamnya. Diamter akar yang besar yang telah kering, mungkin bagi banyak orang bukan lagi sebagai barang tak bernilai. Namun bagi Bing Gianto, justru itulah yang menjadi titik awal kreativitasnya. Setiap akan membuat karya, ia akan mengamati bentuk alami kayu, mengikuti alurnya, lalu membangun imajinasi di atasnya.
Setiap lekuk kayu menjadi inspirasi. Dari situ lahir berbagai tema, mulai dari nuansa lokal Nusa Tenggara Barat hingga imajinasi yang melampaui batas geografis, seperti ukiran air terjun Niagara.
“Tidak Digambar dulu, langsung di bahan kayunya kita bisa berimajinasi, mau dijadikan tema apa. Mengikuti pola kayu,” ujarnya, saat dijumpai, Jumat, 27 Maret 2026, sembari menjelaskan proses kreatif yang ia jalani selama puluhan tahun.
Sebagian besar karyanya tetap berakar pada identitas daerah, budaya, alam, dan filosofi hidup masyarakat NTB.
Dan diantara karya yang paling dikenang adalah meja bertema “Tembok Cina”. Karya berukuran sekitar tiga meter itu dikerjakan hingga enam bulan lamanya. Detail ukirannya begitu hidup, terutama pada bagian naga yang seolah bergerak mengikuti alur kayu.
Dan karya bertema Bumi Gora yang merepresentasikan kekayaan budaya NTB. Meja-meja besar tersebut tidak hanya menjadi karya seni, tetapi juga simbol identitas daerah yang dituangkan dalam medium kayu.
Karya-karyanya tidak hanya berhenti di ruang pribadi. Sejumlah hasil karyanya telah dimiliki tokoh penting. Salah satunya pernah digunakan di rumah Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono. Selain itu, karyanya juga menghiasi rumah mantan Gubernur NTB, Lalu Serinata, serta sejumlah pendopo dan rumah pejabat lainnya.
Harga karyanya pun tidak main-main. Salah satu karya bahkan pernah dihargai hingga Rp200 juta. Namun bagi Bing, nilai sebuah karya tidak hanya terletak pada angka, melainkan pada proses dan makna yang terkandung di dalamnya.
Perjalanan kreatifnya tidak lahir dari pendidikan formal seni. Ia mengaku bukan lulusan jurusan desain. Semuanya berawal dari panggilan hati.
“Itu panggilan hati, Mas. Saya bukan lulusan jurusan itu (seni),” ungkapnya.
Salah satu momen penting dalam hidupnya terjadi saat pertemuan gubernur se-Indonesia di NTB pada era 1980-an. Saat itu, ia mendapat kesempatan membuat karya untuk Presiden SBY. Diminta langsung oleh Gubernur NTB, Harun Alrasyid waktu itu.
Dalam proses pembuatan pesanan gubernur, ia bahkan menjalani puasa selama seminggu, sebagai bentuk pencarian inspirasi. Karena ia harus membuat karya seni yang bisa menjadi perhatian tokoh nasional seperti presiden.
“Hari keempat saya dapat mimpi, bangun jam 02.00. Saya tulis, saya baru buat,” kenangnya.
Dari pengalaman tersebut, ia semakin yakin bahwa seni bukan hanya soal teknik, tetapi juga perjalanan batin.
Dalam proses pengerjaan karya seni, Bing tidak bekerja sendiri. Ia melibatkan pengrajin dari Bali dan NTB. Namun untuk menjaga kualitas dan kesesuaian dengan imajinasinya, ia harus turun langsung mengawasi setiap detail.
“Harus saya tunggu. Karena detailnya harus sesuai,” ujarnya.
Karya-karyanya pun telah menjangkau pasar yang lebih luas. Selain dipasarkan di dalam negeri, beberapa di antaranya juga sampai ke luar negeri, termasuk Singapura, Belanda.
Meski telah berkarya selama puluhan tahun, Bing menyadari satu hal yang masih menjadi kegelisahannya: belum adanya penerus yang mampu melanjutkan jejaknya. Ia sebenarnya telah membuka ruang belajar bagi siapa saja yang berminat, bahkan tanpa biaya.
“Silakan belajar ke sini, saya ajarkan,” tegasnya.
Namun hingga kini, belum ada yang benar-benar bertahan. Menurutnya, menjadi desainer bukan perkara mudah. Dibutuhkan imajinasi, ketekunan, dan kesabaran.
Kekhawatiran itu terus menghantui. Ia tidak ingin seni ukir kayu yang selama ini ia kembangkan berhenti pada dirinya. Terlebih, karya-karya tersebut menjadi salah satu cara memperkenalkan NTB ke dunia luar.
“Saya ingin paling tidak ada satu penerus,” katanya pelan.
Di tengah usia yang terus bertambah, Bing Gianto tetap setia pada jalannya. Ia terus menghidupkan kayu-kayu mati menjadi karya yang bernyawa. Di tangannya, akar-akar kering berubah menjadi cerita tentang budaya, tentang alam, dan tentang cinta yang tak pernah padam pada tanah kelahirannya.
Bagi Bing, berkarya bukan sekadar aktivitas. Ia adalah cara hidup. Cara untuk terus mengabadikan NTB dalam setiap lekuk ukiran, selama tangan masih mampu bergerak dan imajinasi masih menyala. (bul)






