HomeBERANDAJangan Asal "Ngekor"! Ini Alasan Patokan Lampu Kendaraan Depan Sangat Berbahaya

Jangan Asal “Ngekor”! Ini Alasan Patokan Lampu Kendaraan Depan Sangat Berbahaya

Mataram (Ekbis NTB) — Mengendarai sepeda motor pada malam hari memiliki tingkat risiko yang lebih tinggi akibat keterbatasan jarak pandang dan pencahayaan. Astra Motor NTB mengingatkan para pengendara untuk tidak sekadar “mengekor” atau menjadikan lampu belakang kendaraan di depan sebagai satu-satunya panduan utama saat melintas di jalanan malam.

Safety Riding Instructor Astra Motor NTB, Satria Wiman Jaya, menjelaskan bahwa kebiasaan tersebut kerap dianggap sepele, padahal sangat berpotensi memicu kecelakaan lalu lintas.

“Banyak pengendara merasa aman jika mengekor kendaraan di depan, terutama di jalur minim penerangan. Padahal, hanya terpaku pada lampu belakang justru memangkas waktu reaksi pengendara saat menghadapi bahaya,” kata Satria.

- Advertisement -

Risiko Menjadikan Lampu Belakang Panduan Utama

Menurut Satria, kendaraan di depan bisa saja mendadak bermanuver menghindari lubang, tumpahan pasir, hingga hewan yang melintas. Pengendara di belakang yang tidak fokus membaca situasi jalan akan kehilangan momen berharga untuk merespons, sehingga risiko benturan makin tinggi.

Kondisi ini krusial di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB), khususnya jalur antarkabupaten yang didominasi trek berkelok, berbukit, minim penerangan, dan marka jalan pudar.

“Lampu kendaraan di depan seharusnya hanya menjadi referensi posisi, bukan pemandu utama. Pandangan pengendara harus tetap jauh ke depan agar bisa mengenali potensi bahaya lebih awal,” ujarnya.

5 Tips Penting Berkendara Malam Hari ala #Cari_Aman

Untuk menekan risiko kecelakaan di malam hari, Astra Motor NTB membagikan lima teknik berkendara antisipatif:

  1. Jaga Jarak Aman Minimal 3 Detik: Memberikan ruang pandang lebih luas dan jeda waktu reaktif jika kendaraan depan mengerem mendadak.
  2. Kurangi Kecepatan di Jalur Gelap: Membantu mengidentifikasi kerikil, lubang, atau penyeberang jalan yang sulit terlihat.
  3. Sapuan Pandangan (Scanning): Arahkan pandangan secara bergantian antara kondisi jalan depan, spion, dan situasi sekitar.
  4. Optimalkan Pencahayaan: Pastikan lampu utama motor bersih dan berfungsi normal agar sorot cahaya tidak terhalang.
  5. Jangan Asal Ikut Manuver: Jika kendaraan depan mendadak menghindar, perlambat kecepatan terlebih dahulu dan amati situasi sebelum beralih jalur.

Fisik Prima, Kunci Keselamatan

Selain teknik berkendara, faktor stamina tubuh memegang peranan vital. Kantuk dan kelelahan dapat memperlambat respons refleks saat situasi darurat. Satria mengimbau pengendara untuk segera beristirahat jika konsentrasi mulai menurun.

Melalui kampanye keselamatan #Cari_Aman, Astra Motor NTB mengajak seluruh pengguna jalan untuk membangun kebiasaan berkendara yang cerdas dan antisipatif.

“Jangan pernah berasumsi jalanan pasti aman hanya karena kendaraan di depan berhasil lewat. Setiap pengendara punya waktu reaksi yang berbeda. Biasakan membaca situasi jalan sendiri, kontrol kecepatan, dan utamakan keselamatan,” tutup Satria. (r/fan)

Artikel Yang Relevan

IKLAN





Terkait Berdasarkan Kategori

Jelajahi Lebih Lanjut