Selong (ekbisntb.com) – Geliat ekonomi kreatif di Lombok Timur (Lotim) semakin terlihat nyata di bulan Ramadan 1447 Hijriah. Pembukaan Bazar Ramadan di Halaman Kantor Camat Selong pada Senin (23/02) tidak hanya menjadi tujuan ngabuburit warga, tetapi juga menjadi berkah tersendiri bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Pasalnya, omzet yang diraup dalam kegiatan seperti ini mampu meningkat dua kali lipat dibandingkan berjualan di hari biasa .
Kegiatan yang mengusung tema “Penuh Berkah, Penuh Rasa, Yuk Ngabuburit” ini merupakan kolaborasi antara Pemerintah Kecamatan Selong dan Asosiasi Pelaku Industri Kecil Menengah (APIKM) Lombok Timur. Bazar yang akan berlangsung hingga 7 Maret 2026 ini, dibuka langsung oleh Wakil Bupati Lotim, H. Moh. Edwin Hadiwijaya .
Meski baru berjalan, antusiasme pedagang untuk bergabung dalam bazar musiman ini sangat tinggi. Koordinator UMKM APIKM, Suratman Prasetyo Adi Nugroho, mengungkapkan bahwa kegiatan bazar Ramadan ini diburu oleh pedagang. Namun, pihaknya harus membatasi peserta karena keterbatasan tempat.
“Kegiatan bazar Ramadan di halaman Kantor Camat Selong ini baru bisa diikuti oleh 10 pelaku UMKM. Ini karena kapasitas tempat yang terbatas. Kami sengaja tidak menggelar di pinggir jalan karena risiko bongkar pasang yang merepotkan pedagang,” ujar Suratman.
Data yang dihimpun APIKM menunjukkan bahwa berjualan di tempat khusus seperti bazar atau Car Free Night (CFN) memberikan dampak signifikan terhadap pendapatan. Suratman memaparkan perbandingan omzet yang mencolok antara berjualan di lokasi biasa dengan di event terstruktur.
“Jualan di tempat biasa dibandingkan di CFD atau bazar itu bisa dua kali lipat. Kami punya datanya. Ketika 48 UMKM berjualan di bazar, dalam waktu dua jam saja total omzet bisa mencapai Rp63 juta,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menyebutkan bahwa Car Free Night (CFN) yang rutin digelar di Lapangan Nasional (Lapnas) Selong bahkan menunjukkan performa yang lebih impresif. Pada kegiatan CFN dengan jumlah peserta UMKM yang hampir mencapai 400, omzet yang diraup dalam satu malam CFN bisa mencapai Rp110 juta-Rp120 juta . Menariknya, meski jumlah UMKM di CFN jauh lebih sedikit, omzetnya bisa tembus Rp63 juta-Rp70 juta. Hal ini menunjukkan tingginya daya beli masyarakat terhadap produk lokal di malam hari.
“Untuk bazar Ramadan ini, kami menargetkan omzet bisa mencapai Rp8 juta-10 juta per malam. Tinggal bagaimana kita mengemasnya. Jangan monoton. Coba hadirkan menu yang khas dan buat daya tarik seperti live musik biar orang datang,” tambah Suratman, memberikan catatan untuk peningkatan kualitas event ke depan.
Wakil Bupati H. Edwin Hadiwijaya dalam sambutannya juga menyinggung rencana strategis menjadikan lokasi Kantor Camat Selong dan sekitarnya sebagai pusat kuliner baru di Lombok Timur. Hal ini dilakukan untuk menata kawasan kuliner yang selama ini terpusat di Taman Kota Selong, mengingat kantor camat direncanakan akan pindah ke wilayah Gandor . Langkah ini dinilai sebagai upaya lanjutan dari kesuksesan car free night yang telah berjalan hampir enam bulan .
Menu Khas Lombok
Pantauan di lokasi bazar, puluhan stan UMKM menawarkan beragam menu khas Lombok untuk memanjakan lidah para pengunjung yang berburu takjil. Beberapa diantaranya adalah bulayak, es pisang hijau, dan nasi puyung yang menjadi primadona.
Namun, di balik semaraknya penjualan, para pedagang musiman yang biasa menjual takjil mulai berkurang. Selain itu, mereka juga dihadapkan pada tantangan kenaikan harga bahan baku yang signifikan selama bulan Ramadan. Suratman Prasetyo menyoroti lonjakan harga cabai yang tembus Rp200 ribu per kilogram.
“Harga bahan baku selama Ramadan tinggi. Cabai saja tembus Rp200 ribu. Bisa jadi di Maret mendatang harganya akan semakin tinggi,” ungkapnya mengkhawatirkan.
Kekhawatiran ini sejalan dengan kondisi di lapangan. Berdasarkan pantauan di pasar tradisional Lombok Timur, harga cabai rawit memang menyentuh angka fantastis Rp200 ribu per kilogram di awal Ramadan, dipicu oleh tingginya permintaan dan faktor cuaca yang mempengaruhi produksi .
Meski demikian, semangat para anggota APIKM yang berjumlah 143 UMKM dengan beragam jenis usaha ini tidak surut. Mereka tetap antusias mengikuti bazar demi meraih omzet berlipat yang hanya datang setahun sekali. Dengan strategi pengemasan yang tepat dan dukungan pemerintah, Bazar Ramadan di Selong diharapkan tidak hanya menjadi ajang mencari keuntungan, tetapi juga memperkuat ekosistem ekonomi kreatif Lotim. (rus)






