HomeBERANDADilanda Krisis Air, Warga Kuripan Timur Rugi Jutaan Rupiah Akibat Gagal Panen

Dilanda Krisis Air, Warga Kuripan Timur Rugi Jutaan Rupiah Akibat Gagal Panen


Giri Menang (EKBIS NTB) Warga Desa Kuripan Timur, Kecamatan Kuripan, Lombok Barat (Lobar) mengalami krisis air hingga gagal panen akibat musim kemarau yang melanda selama hampir tiga bulan terakhir. Akibat gagal panen, warga pun menanggung kerugian jutaan hingga belasan juta rupiah. Kini warga berharap bantuan pemerintah.


Sayani, warga Dusun Rarangan mengatakan, lima petak sawah seluas 25 are yang ditanami jagung dan kacang hijau mengalami gagal panen. “Gagal panen, kacang hijau cuma dapat 25 kilogram,” katanya, Rabu (23/9/2026).


Akibat gagal panen itu, ia pun menanggung kerugian hingga Rp2-3 juta untuk tanaman jagung. Belum ditambah dengan tanaman kacang hijau, pupuk, dan bibit.

- Advertisement -


Ia mengatakan, gagal panen disebabkan suplai air dari bendungan di wilayah Lombok Tengah (Loteng) terhambat. Suplai air sangat minim bahkan tidak ada selama tiga bulan terakhir. Selain untuk irigasi pertanian, warga juga mengalami krisis air akibat sumur-sumur kering selama beberapa bulan terakhir. Akibat krisis air ini, warga terpaksa membeli air galon di warung.


Kondisi ini sangat menyulitkannya, terlebih ia harus membiayai anak-anaknya yang masih sekolah. Ditambah lagi, ia sendiri tidak mendapatkan bantuan PKH. Ia mengaku mendapatkan BPJS dan bantuan beras.


Ia berharap bantuan pemerintah untuk memudahkan akses air dan ganti rugi pertanian yang gagal panen. Selain itu, ia berharap agar diberikan bantuan sosial seperti PKH.


Sementara itu, Kepala Desa Kuripan Timur, Anwar Efendi mengatakan, desanya menjadi langganan kekeringan dari dulu. Dampak kekeringan itu tidak saja kebutuhan konsumsi air, tetapi lahan pertanian warga. Jumlah keseluruhan lahan pertanian di desa Kuripan sekitar 168 hektare.


“Kebetulan di tahun ini ada beberapa titik tempat yang kering. Yang kedua, juga terkait dengan lahan kering ini, ada yang gagal total tanamannya,” kata dia.


Lahan pertanian yang gagal total terjadi di beberapa dusun, sehingga warga pun terpaksa memilih untuk menanam kedelai, kacang hijau yang bertahan pada lahan kering. “Tapi kalau yang lain (padi dan jagung) itu pasti hancur,” imbuhnya.


Ia sendiri mengaku gagal panen 1,5 hektare tanaman jagung dengan modal Rp5 juta. Hal ini disebabkan tidak ada suplai air dari Jurang Sate. Selain itu, banyak warganya yang rugi akibat gagal panen.
“Kalau yang rugi total itu hampir 20-an hektare, yang gak dapat air sama sekali,” sebutnya.


Pihaknya berharap penanganan masalah kekeringan yang sudah berlarut-larut di desanya. Pihaknya pun sudah ke BWS, mengusulkan agar sawah- sawah yang ada di Kuripan Timur dibangunkan sumur bor seperti di desa-desa lainnya, seperti Taman Ayu atau Kebon Ayu.


Pihaknya sudah membuat proposal untuk pembangunan 10 titik sumur bor untuk mengairi 168 hektare. Sehingga bisa mencegah kekeringan dan di musim tanam selanjutnya warga bisa menanam. Namun ada beberapa dusun seperti Blunsuk dan Brambang itu bisa menanam padi, karena dekat dengan mesin Oplah atau optimalisasi lahan yang dibangun tahun 2025.


“Kami dapat sumbangan dari kementerian pertanian sejumlah 625 juta untuk sedot air oplah itu. Makanya banyak juga yang menikmati, tapi masih kecil airnya, dalam artian kan pipanya mungkin yang terlalu kecil. Kalau seandainya pipanya besar mungkin bisa mengairi lebih banyak,” ujarnya. (her)

Artikel Yang Relevan

IKLAN





Terkait Berdasarkan Kategori

Jelajahi Lebih Lanjut