Tanjung (ekbisntb.com) – Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKPPP) Kabupaten Lombok Utara (KLU) menilai sektor pertanian di Lombok Utara membutuhkan revitalisasi untuk meningkatkan daya dukung irigasi yang memadai. Pasalnya, selama tahun 2025 lalu, sejumlah komoditas yang dibudidayakan petani mengalami gagal panen dalam jumlah area tanam yang cukup signifikan.
“Sebab gagal panen beragam, utamanya adalah karena jaringan irigasi yang kurang memadai,” ungkap Kepala Dinas KPPP KLU, Tresnahadi, S.Pt., Selasa (20/1/2026).
Ia menjelaskan, dari data sementara yang dihimpun DKP3, luasan areal gagal panen sepanjang tahun 2025 lalu bervariasi. Pada budi daya komoditas tanaman padi, jumlah areal gagal panen mencapai 303 hektare. Petani di lima kecamatan, hanya bisa memanen 7.727,60 hektare dari total luas tanam 8.080,63 hektare.
Sementara pada tanaman jagung, kondisi gagal panen juga dialami petani. Sepanjang tahun lalu, panen hanya bisa dilakukan pada areal seluas 9543,3 hektare dari total areal tanam 11.071,2 hektare. Artinya pada areal tanam jagung, petani kehilangan areal produksi mencapai 1.527,9 hektare.
Selain dua komoditas tersebut, Tresnahadi juga mencatat kegagalan panen pada tanaman kacang hijau. Pada salah satu area ujicoba petani di kecamatan Gangga, kacang hijau yang dapat dipanen hanya 1 hektare dari 2 hektare areal tanam. Sedangkan pada data sementara areal tanam ubi kayu, data panen berlaku pada jumlah areal sekitar 244 hektare dari areal tanam 751 hektare.
Sebaliknya, pada salah satu komoditas kacang tanah, terdapat jumlah panen yang melampaui jumlah tanam. Pada komoditas ini, jumlah lahan tanam mencapai 2.203,20 hektare, sedangkan lahan panen mencapai 2.293,70 hektare. Artinya, terdapat 90,5 hektare lahan tanam kacang tanah yang dibudidayakan pada lahan kering dapat berproduksi kendati daya dukung irigasinya minim.
“Untuk produktivitas petani sendiri, tertinggi di Kecamatan Bayan dengan angka produksi mencapai 16.300 ton lebih, disusul petani kecamatan Tanjung dengan angka produksi hampir 10 ribu ton,” ujarnya.
Ia berharap, angka produksi komoditas pertanian (umum) di Lombok Utara semakin membaik meskipun sarana dan prasarananya masih belum sesuai dengan harapan petani. (ari)






