Selong (suarantb.com) – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Lombok Timur (Lotim) telah mencatatkan anggaran fantastis sekitar Rp2 triliun dalam setahun operasionalnya. Namun, gelontoran dana sebesar itu belum mampu menunjukkan dampak signifikan terhadap penurunan angka stunting di daerah tersebut.
Anggaran sebesar itu dihitung dari rata-rata 233 dapur MBG yang masing-masing dapur menelan biaya sekitar Rp10 miliar per tahun untuk melayani rata-rata 2.500 penerima manfaat. “Maka ada sekitar Rp10 miliar satu dapur per tahun. Dikalikan seluruh dapur maka tembus Rp2 triliun,” ujar Anggota DPRD Lotim, Lalu Hasan Rahman, yang juga merupakan pemilik salah satu dapur MBG, Senin (19/1/2026).
Meski dana digelontorkan besar-besaran sejak pertengahan Januari 2025, hubungannya dengan penurunan stunting masih menjadi tanda tanya besar. Hasan Rahman menyoroti pentingnya data yang komprehensif. “Stunting datanya dari mana. Statistiknya benar tidak. Mungkin saja data yang didapat dari satu OPD saja. Sekarang tidak bisa kita katakan tidak ada kaitannya dengan stunting,” katanya.
Ia menekankan perlunya akumulasi data yang solid, termasuk cakupan ibu hamil, untuk evaluasi ke depan.
Data stunting Lotim sendiri tampak berbeda antara sumber satu dan lainnya. Berdasarkan Survei Kesehatan Nasional (SKI), prevalensi stunting mencapai 33 persen. Sementara, data dari Elektronik Pelaporan Pencatatan Gizi Berbasis Masyarakat (EPPGBM) menunjukkan angka sekitar 15 persen lebih. Perbedaan ini menambah kerumitan dalam mengukur keberhasilan program.
Menanggapi hal ini, Ketua Satgas MBG yang juga Sekretaris Daerah Lotim, H. M. Juaini Taofik, menegaskan bahwa stunting adalah persoalan jangka panjang dan kompleks. Menurutnya, MBG yang berfokus pada perbaikan pangan hanyalah satu dari banyak faktor penentu.
“Stunting ini adalah panjang, artinya tidak bisa hari ini kita obati orang makan, besok stuntingnya turun. Pangan perbaikan gizi itu hanya sebagian dari faktor penyebab. Apa yang paling utama adalah perilaku pola asuh, lingkungan, dan kebersihan,” jelas Juaini Taofik.
Dia justru melihat dampak positif MBG pada peningkatan Nilai Tukar Pertanian (NTP) Lotim dari 123 pada 2024 menjadi 138 pada 2025, serta inflasi yang terjaga di angka 3,01 persen. “Artinya, untung petani sudah mulai meningkat. Ini titik keseimbangan yang perlu kita jaga,” tambahnya.
Di lapisan implementasi, Koordinator Regional MBG, Eko Prastyo, mengakui adanya kelemahan. Meski menu dirancang berdasarkan Angka Kecukupan Gizi (AKG) per kelompok usia, dalam pelaksanaannya sering terjadi penyamarataan menu antara balita dan dewasa. “Padahal, seharusnya dibedakan,” ujarnya.
Eko juga menyampaikan kekhawatiran bahwa setelah setahun, program ini belum menunjukkan hasil terhadap penurunan stunting. “Dengan perhitungan AKG yang tepat, mestinya bisa menekan kasus stunting. Tapi satu tahun ini, nanti kita akan lihat datanya,” paparnya.
Ia mengonfirmasi bahwa evaluasi mendalam terhadap efektivitas program masih diperlukan dan data resmi terkait dampaknya pada stunting belum tersedia.
Dengan anggaran triliunan rupiah per tahun, program MBG di Lotim dihadapkan pada tantangan besar untuk membuktikan bahwa investasi ini tidak hanya berdampak pada pergerakan ekonomi, tetapi juga mampu mengatasi masalah gizi kronis yang menjadi tujuan utamanya. (rus)






