26.5 C
Mataram
BerandaBerandaTargetkan 8.125 Titik, Program “Tempah Dedoro” Butuh Anggaran Rp8 Miliar

Targetkan 8.125 Titik, Program “Tempah Dedoro” Butuh Anggaran Rp8 Miliar

Mataram (suarantb.com) – Pemerintah Kota Mataram akan mengalokasikan anggaran untuk memperluas cakupan program Tempah Dedoro dengan target pembangunan 8.125 titik yang tersebar di 50 kelurahan. Program ini disiapkan sebagai solusi jangka panjang penanganan sampah dari hulu dengan mengkombinasikan dukungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) serta optimalisasi dana Corporate Social Responsibility (CSR).

Sekretaris Daerah Kota Mataram, H. Lalu Alwan Basri, mengatakan sebagai langkah awal pada tahun 2026, pemerintah telah menyiapkan dana stimulan sebesar Rp5 juta untuk setiap kelurahan. Dana tersebut diharapkan menjadi pemantik partisipasi masyarakat untuk membangun minimal lima unit Tempah Dedoro di setiap lingkungan.

“Kami sudah menganggarkan dana stimulan untuk kelurahan, masing-masing Rp5 juta. Ini untuk mendorong masyarakat mulai bergerak,” ujarnya, Selasa (13/1/2026).

Untuk menguji efektivitas program secara masif, Pemkot Mataram menetapkan Kelurahan Karang Baru sebagai pilot project atau proyek percontohan. Di wilayah tersebut, partisipasi masyarakat dinilai cukup tinggi, terbukti dengan terbangunnya 25 titik Tempah Dedoro secara swadaya hanya dalam satu lingkungan.

“Karang Baru akan menjadi percontohan. Di sana ada sembilan lingkungan, dan kita targetkan masing-masing lingkungan memiliki 25 titik. Kita akan evaluasi efektivitasnya dalam enam bulan ke depan sebelum diterapkan secara masif di seluruh kelurahan,” jelas Alwan.

Ia merincikan, untuk menuntaskan persoalan sampah di hulu secara optimal, satu lingkungan idealnya memiliki 25 titik Tempah Dedoro. Dengan total sekitar 325 lingkungan di Kota Mataram, maka kebutuhan keseluruhan mencapai 8.125 titk.

“Jika satu titik kita estimasikan sekitar Rp1 juta, maka kebutuhan anggaran secara keseluruhan mencapai kurang lebih Rp8 miliar. Ini hitungan ideal agar sampah organik benar-benar dapat ditangani di tingkat lingkungan,” tambahnya.

Mengingat besarnya kebutuhan anggaran tersebut, Alwan menegaskan Pemkot Mataram tidak hanya bergantung pada APBD. Saat ini, pemerintah tengah menjajaki kerja sama dengan berbagai pihak melalui dana CSR, baik dari perbankan, BUMN, maupun BUMD yang beroperasi di Kota Mataram.

Sementara itu, Wali Kota Mataram Dr. H. Mohan Roliskana menegaskan Tempah Dedoro merupakan salah satu strategi utama pemerintah kota dalam mereduksi sampah dari sumbernya. Menurutnya, meskipun Mataram telah memiliki insinerator serta merencanakan pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Sandubaya, pengelolaan dari hulu tetap menjadi kunci.

“Kita sudah memiliki insinerator dan rencana pembangunan TPST Sandubaya. Namun, jika pengelolaan dari hulunya tidak dilakukan dengan baik, maka hasilnya tidak akan maksimal. Tempah Dedoro ini menjadi salah satu alternatif strategis,” ujarnya.

Berdasarkan hasil evaluasi di Lingkungan Marong Karang Tatah, Kelurahan Karang Baru, Kecamatan Selaparang, Mohan menyebut produksi sampah rata-rata mencapai 200 kilogram per hari. Setelah diterapkan 25 titik Tempah Dedoro, volume sampah berhasil direduksi hingga 50 persen.

“Dari sekitar 200 kilogram per hari, bisa ditekan menjadi 100 kilogram. Ini capaian yang sangat signifikan hanya dari satu lingkungan. Karena efektivitasnya nyata, program ini akan kita perluas,” pungkasnya. (pan)

Artikel Yang Relevan

IKLAN


Terkait Berdasarkan Kategori

Jelajahi Lebih Lanjut