Mataram (suarantb.com) – Pemprov NTB melalui Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Permukiman (PUPR-Perkim) menegaskan memantau langsung pengerjaan proyek peningkatan jalan Lenangguar-Lunyuk di Pulau Sumbawa. Proyek yang menelan anggaran hingga Rp19 miliar itu belum tuntas hingga dengan tutup buku tahun 2025. Untuk itu, Pemprov NTB memberikan tambahan waktu sekitar 50 hari kepada investor untuk menuntaskan jalan tersebut.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas PUPR-Perkim Provinsi NTB, Budi Herman menegaskan pihaknya akan melakukan peninjauan langsung ke lapangan. Hal ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana progress penanganan yang masuk dalam proyek log segmen Dinas PUPR di tahun 2025 lalu.
“Pasti saya akan ke sana. Kita minta kontraktornya untuk segera menyelesaikan pekerjaan itu,” ujarnya.
Dia memastikan, proyek jalan strategis yang menghubungkan Lunyuk dengan pusat Kabupaten Sumbawa itu akan bisa terselesaikan dalam 50 hari kerja. Apalagi, jalan ini menjadi satu-satunya jalan penghubung ke Lunyuk.
“Kontraktor harus serius. Logikanya kan sudah dikasih perpanjangan waktu. Ya harus serius. Apalagi ini kan proyek strategis Pak Gubernur juga,” tegasnya.
Hingga akhir Desember 2025, progres pembangunan proyek jalan Lenangguar-Lunyuk baru mencapai 72 persen. Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Dinas PUPR NTB, Miftahuddin Anshary, menjelaskan, saat ini, pekerjaan telah memasuki tahap persiapan pengaspalan pada long segment. Sementara itu, untuk pekerjaan bore pile, masih harus dilanjutkan dan diselesaikan pada segmen 2 dan segmen 5.
Adanya keterlambatan ini membuat Pemprov NTB memberikan tambahan waktu selama 50 hari untuk menuntaskan proyek jalan sepanjang 20 kilometer tersebut. Kebijakan penambahan waktu dilakukan dengan tetap mengacu pada ketentuan kontrak. Dalam masa perpanjangan, pelaksana proyek tetap dikenakan denda keterlambatan. “Pelaksana tetap dikenakan denda, yakni satu per mil per hari,” katanya.
Proyek penanganan jalan Lenangguar – Lunyuk cukup sulit. Hal ini karena di sejumlah titik perbaikan berada di pengkolan, melewati tebing, sehingga cukup sulit untuk melakukan pengeboran. Selain karena tebing, di titik lain proyek pengerjaan terkendala tanah. Menurut Sadimin, tanah di segmen itu terus bergerak
“Bergerak karena memang dari awal lebarnya itu kurang lebih 60, panjangnya 60 meter. Kemudian kedalamannya itu kurang lebih 10 sampai 15 meter. Itu memang dari awal sudah bongkahan besar itu sudah mulai turun,” ungkap mantan Kadis PUPR NTB, Sadimin pada November 2025 lalu.
Akibat pergerakan tanah, setiap kali musim hujan terjadi longsor. Hal ini semakin mempersulit proses perbaikan jalan. “Jadi jalan awalnya itu yang tadinya di sini sudah bergeser sekitar 8 meter. Jadi itu dibersihkan dulu, dikembalikan ke jalan awal gitu,” sambungnya.
Di satu lokasi saja, ada 48 titik yang harus diperbaiki. Saat ini, sudah 32 titik rampung. Untuk menyelesaikan semua titik, lagi-lagi kontraktor mengalami kendala karena tanah yang terus bergerak. Untuk itu, pihaknya mengaku sempat menghentikan pengeboran di 16 titik itu. (era)






