26.5 C
Mataram
BerandaBerandaPenerimaan Negara dari Pendaki Rinjani Tembus Rp25,9 Miliar

Penerimaan Negara dari Pendaki Rinjani Tembus Rp25,9 Miliar

Mataram (ekbisntb.com) – Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) mencatat penurunan jumlah pendaki Gunung Rinjani sepanjang tahun 2025 dibandingkan tahun sebelumnya. Meski demikian, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang dihasilkan justru mengalami peningkatan signifikan dan melampaui target.

Kepala Balai TNGR, Budhy Kurniawan di ruang kerjanya, Senin, 12 Januari 2025 menjelaskan bahwa total pengunjung pendakian Gunung Rinjani selama 2025 tercatat sekitar 132 ribu orang. Angka tersebut menurun dibandingkan tahun 2024 yang mencapai sekitar 180 ribu pendaki.

“Jumlah pendaki memang mengalami penurunan cukup signifikan dibandingkan tahun sebelumnya,” ujar Budhy.

Menurutnya, penurunan tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pertama, penutupan rutin jalur pendakian pada Januari hingga Maret sebagai bagian dari upaya pemulihan ekosistem. Kedua, adanya penutupan sementara pendakian akibat penanganan musibah yang menimpa pendaki, sehingga pengelola memutuskan menghentikan aktivitas pendakian untuk alasan keselamatan.

“Penutupan-penutupan ini cukup berdampak terhadap jumlah kunjungan pendaki ke Gunung Rinjani,” jelasnya.

Dari sisi komposisi pengunjung pendakian, Budhy menyebutkan bahwa wisatawan mancanegara (WNA) masih mendominasi. Sepanjang 2025, jumlah pendaki WNA tercatat sebanyak 43.236 orang, sementara pendaki domestik atau WNI sebanyak 36.976 orang. Secara persentase, sekitar 60 persen pendaki merupakan wisatawan mancanegara.

Selain pendakian, TNGR juga mencatat kunjungan wisata non-pendakian, seperti ke air terjun dan kawasan wisata alam lainnya. Jumlah pengunjung non-pendakian mencapai 52.108 orang, yang didominasi hampir 90 persen wisatawan nusantara.

Meski jumlah pendaki menurun, PNBP TNGR tahun 2025 justru mencapai Rp25.926.000.691 atau sekitar Rp25,9 miliar. Angka ini mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2024 yang tercatat sekitar Rp22,5 miliar, atau naik kurang lebih Rp3 miliar.

Budhy menjelaskan, peningkatan PNBP tersebut salah satunya dipengaruhi oleh penyesuaian tarif yang diberlakukan pada layanan wisata di kawasan TNGR.
“Kenaikan tarif menjadi salah satu faktor yang cukup signifikan mendorong peningkatan PNBP,” katanya.

Ia menambahkan, capaian PNBP 2025 tersebut melampaui target yang ditetapkan, mengingat target PNBP tahun itu berada di kisaran Rp23–24 miliar.

“Realisasi PNBP 2025 ini jelas di atas target,” tegas Budhy.

Untuk pemanfaatan PNBP, Budhy menjelaskan bahwa sesuai ketentuan perundang-undangan, seluruh PNBP disetorkan ke kas negara dan dikelola pemerintah pusat. Dana tersebut kemudian dikembalikan ke daerah dalam berbagai bentuk, seperti Dana Alokasi Khusus (DAK) atau program yang melekat pada kementerian, khususnya untuk kegiatan perlindungan dan pengelolaan lingkungan.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa keberadaan TNGR memberikan multiplier effect bagi daerah, terutama bagi masyarakat sekitar kawasan.

“Kita bicara dampak berganda. Ada ratusan usaha akomodasi, restoran, jasa transportasi, dan usaha lainnya yang hidup dari aktivitas wisata Rinjani. Itu kontribusi nyata bagi perekonomian masyarakat daerah,” ujarnya.

Balai TNGR berharap ke depan pengelolaan wisata Gunung Rinjani tetap mampu menjaga keseimbangan antara kelestarian lingkungan, keselamatan pengunjung, dan manfaat ekonomi bagi masyarakat.(bul)

Artikel Yang Relevan

IKLAN


Terkait Berdasarkan Kategori

Jelajahi Lebih Lanjut