Mataram (ekbisntb.com) – Harga emas diprediksi akan terus mengalami kenaikan signifikan dan berpeluang menembus angka di atas Rp3 juta per gram dalam beberapa waktu ke depan.
Per Senin, 12 Januari 2026, harga logam mulia ini bahkan sudah tembus Rp2,6 juta per gram.
Ketua Asosiasi Pedagang Emas Sekarbela (Ampera), Iskandar mengatakan, kenaikan harga emas yang terus menerus ini dianggap sebagai kenaikan harga paling “brutal”. Karena kenaikannya dalam waktu yang relative singkat.
Menurutnya, kenaikan harga ini seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap emas sebagai instrumen investasi paling aman di tengah ketidakpastian global.
Iskandar mengatakan, tren investasi emas di masyarakat saat ini menunjukkan kecenderungan yang sangat positif. Menurutnya, emas masih menjadi aset paling aman dibandingkan instrumen investasi lain yang bersifat digital maupun spekulatif.
“Kalau tren sekarang sangat positif. Masyarakat mulai sadar, daripada uang dipakai untuk hal yang tidak jelas, lebih baik disimpan dalam bentuk emas. Emas itu aset nyata, kita kuasai secara fisik, dan harganya bisa dicek secara terbuka mengikuti harga emas dunia,” ujarnya.
Ia menjelaskan, ketidakpastian ekonomi global, potensi gejolak geopolitik, serta kekhawatiran terhadap sistem keuangan digital menjadi faktor utama meningkatnya minat masyarakat terhadap emas. Dalam kondisi krisis, aset digital dinilai rentan terganggu, sementara emas tetap memiliki nilai dan mudah diperjualbelikan.
“Ketika ada gejolak ekonomi atau konflik, aset biasanya kembali ke emas. Ini sudah hukum pasar sejak dulu,” katanya.
Berdasarkan analisis dan pandangan para pakar investasi emas, Iskandar memprediksi harga emas berpotensi menembus kisaran Rp3 jutaan lebih. Meski demikian, kenaikan tersebut diperkirakan tidak terjadi secara instan dalam waktu dekat, melainkan bertahap.
“Kalau mengacu pada pendapat para pakar, angkanya bisa di atas Rp3 juta. Tapi kemungkinan bukan dalam waktu singkat, bisa dalam satu tahun atau lebih,” jelasnya.
Ia menambahkan, secara historis harga emas memang cenderung mengalami koreksi pada waktu-waktu tertentu dalam setahun, namun tren jangka panjangnya tetap menunjukkan peningkatan. Menjelang momentum tertentu seperti bulan puasa hingga akhir tahun, harga emas biasanya kembali menguat.
Dari sisi produk, Iskandar menyebut emas batangan atau logam mulia masih menjadi pilihan utama untuk investasi karena memiliki selisih harga jual dan beli yang lebih kecil dibandingkan emas perhiasan.
“Kalau murni untuk investasi, emas batangan lebih disarankan. Perhiasan ada biaya pembuatan dan operasional, sehingga markup-nya lebih besar,” ujarnya.
Meski demikian, ia mengakui permintaan emas perhiasan tetap ada, meski tidak setinggi sebelumnya.
“Karena harganya tinggi, daya beli masyarakat kurang,” terangnya.
Sebaliknya, permintaan logam mulia justru meningkat tajam, seiring masuknya investor-investor baru yang sebelumnya belum pernah berkecimpung di bisnis emas.
Di Kota Mataram, khususnya di sentra perdagangan emas seperti Sekarbela, Cakranegara, dan Ampenan, penjualan emas secara umum masih tergolong stabil. Namun, terdapat pergeseran pola belanja masyarakat yang kini lebih banyak memburu emas batangan dibandingkan perhiasan.
Ditengah trend kenaikan harga emas ini, Iskandar mengimbau masyarakat agar tidak sembarangan membeli emas, terutama dari sumber yang tidak jelas. Ia mengingatkan bahwa standar utama dalam transaksi emas adalah kadar karat dan berat yang jelas serta mengacu pada harga pasar resmi.
“Emas itu ukurannya jelas: karat dan berat. Selama itu jelas dan mengikuti harga pasar, silakan beli. Jangan mudah terpengaruh informasi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan,” tandasnya.(bul)






