Mataram (Suara NTB) – Kinerja keuangan Bank Perekonomian Rakyat Syariah (BPRS) Dinar Ashri (Bank Dinar) menunjukkan pertumbuhan signifikan sepanjang tahun 2025. Berbagai indikator keuangan utama mengalami lonjakan tajam, jauh melampaui rata-rata nasional.
Direktur Utama Bank Dinar, Mustaen, Jumat, 9 Januari 2025, mengungkapkan, total aset Bank Dinar per akhir 2025 telah mencapai Rp2,154 triliun. Sementara itu, penyaluran pembiayaan tercatat sebesar Rp1,899 triliun, dan dana pihak ketiga (DPK) mencapai Rp1,354 triliun.
“Alhamdulillah, aset kita tumbuh sangat baik,” kata Mustaen mengisyaratkan kepercayaan masyarakat yang terus meningkat kepada Bank Dinar.
Dari sisi profitabilitas, Bank Dinar membukukan laba bersih sebesar Rp47,6 miliar. Laba tersebut merupakan laba bersih setelah dikurangi zakat, pajak, serta berbagai kewajiban lainnya.
Mustaen menjelaskan, pertumbuhan pembiayaan Bank Dinar sepanjang 2025 mencapai 56,64 persen, jauh melampaui pertumbuhan pembiayaan nasional yang rata-rata hanya berada di kisaran 7 persen.
Sementara itu, pertumbuhan DPK juga tercatat impresif. Dana pihak ketiga meningkat Rp273 miliar, atau setara dengan 25,28 persen, dari posisi sebelumnya sekitar Rp1,08 triliun menjadi Rp1,354 triliun. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan DPK nasional yang berada di kisaran 8 persen.
Dari sisi portofolio, pembiayaan Bank Dinar masih didominasi oleh skema potong gaji, terutama dari kalangan ASN dan sebagian pegawai swasta, dengan porsi sekitar 43–50 persen. Selebihnya disalurkan ke sektor riil, UMKM, pembiayaan emas, serta usaha produktif masyarakat.
“Meski dalam laporan dikelompokkan sebagai pembiayaan konsumtif, faktanya banyak kredit yang digunakan masyarakat untuk usaha, seperti membuka kios, peternakan, dan usaha kecil lainnya,” jelas Mustaen.
Ia menambahkan, skema pembiayaan berbasis gadai juga menjadi salah satu instrumen yang banyak dimanfaatkan masyarakat untuk menggerakkan usaha, karena prosesnya lebih cepat dan mudah diakses.
Dari sisi kualitas pembiayaan, Bank Dinar mencatat rasio pembiayaan bermasalah (NPF) yang sangat rendah. Gross NPF Bank Dinar berada di angka 0,28 persen, sedangkan net NPF sebesar 0,25 persen. Angka ini juga jauh lebih baik dibandingkan rata-rata perbankan nasional.
“Ini menunjukkan bahwa pertumbuhan kami bukan karena pembiayaan besar ke Perusahaan-perusaahan grup, tetapi murni karena kepercayaan publik yang terus meningkat,” ujar Mustaen.
Tak hanya fokus pada keuntungan, Bank Dinar juga menyalurkan manfaat kepada masyarakat melalui program sosial. Sepanjang 2025, Bank Dinar menyalurkan sekitar Rp9 miliar untuk zakat dan program tanggung jawab sosial (CSR), yang disalurkan melalui LAZ MIM Foundation, Baznas dan lembaga sosial lainnya.
“Kami tidak hanya mengumpulkan keuntungan, tapi mengembalikannya ke masyarakat. Tahun ini kami juga akan mengembangkan usaha produktif berbasis wakaf,” ungkapnya.
Menurut Mustaen, konsep pengelolaan Bank Dinar berbeda dengan sistem perbankan konvensional. Keuntungan yang diperoleh tidak hanya berputar di pemilik modal, tetapi dikembalikan untuk memperkuat ekonomi masyarakat secara luas. “Harapannya, kesejahteraan bisa tumbuh dan merata secara bersama-sama,” tandasnya. (bul)






