Kota Bima (ekbisntb.com) – Harga berbagai jenis produk plastik di Kota Bima melonjak drastis mencapai 80 persen pasca lebaran. Pelaku UMKM yang bergantung pada kemasan plastik,untuk menunjang usaha mereka merasa terbebani.
Kenaikan harga plastik terjadi secara luas di pasaran dan mulai dirasakan sejak sebelum Lebaran. Lonjakan harga dipicu terganggunya impor bahan baku plastik dari luar negeri akibat konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran. Kondisi tersebut berdampak pada terbatasnya pasokan bahan baku dan mendorong kenaikan harga di tingkat distributor hingga pedagang.
Salah satu penjual berbagai jenis kemasan plastik di Pasar Senggol Kota Bima, Riyadi, mengatakan kenaikan harga mulai terasa sejak sebelum Lebaran, meski saat itu belum terlalu signifikan. Namun setelah Lebaran, harga kembali melonjak dan mengalami kenaikan lanjutan pada awal April.
“Terasanya kenaikannya dari sebelum lebaran itu sudah mengalami kenaikan, cuman memang belum signifikan. Setelah Lebaran itu baru makin naik, terus per 1 April kemarin lebih naik lagi,” ujarnya saat ditemui di ruko miliknya pada Selasa (7/4).
Ia menyebutkan, jika dihitung secara persentase, kenaikan harga berbagai jenis plastik saat ini sudah mencapai angka yang cukup tinggi.
“Kalau dalam persen kira-kira sampai 80 persen,” sebutnya.
Menurut Riyadi, lonjakan harga paling terasa pada produk sterofoam yang banyak digunakan sebagai kemasan makanan. Dalam waktu singkat, harga produk tersebut meningkat tajam mengikuti perubahan harga dari distributor.
“Standarnya kemarin sebelum kenaikan itu Rp200 ribu. Sekarang variasi sih ada yang Rp340 ribu, ada yang Rp350 ribu,” sebutnya.
Ia menambahkan, sebagian besar barang plastik yang dijualnya didatangkan dari Pulau Jawa. Kenaikan harga membuat sebagian pelanggan mengurangi jumlah pembelian dan beralih ke jenis kemasan yang lebih murah, agar tetap bisa berjualan.
“Tentu ada berkurangnya, cuman mereka biasanya ganti ke yang lebih murah, misalkan karena jenis yang satu naik banyak akhirnya ganti ke yang lain yang lebih murah,” tambahnya.
Dampak kenaikan harga plastik tidak hanya dirasakan pedagang, tetapi juga pelaku UMKM yang menggunakan kemasan plastik sebagai bagian penting dari proses produksi.
Seorang pelaku UMKM penjual nasi kotak di Kota Bima, Siti Aminah mengaku biaya produksi meningkat sejak harga kemasan naik. Ia terpaksa menyesuaikan jenis kemasan, agar tetap dapat menjaga harga jual produknya.
“Sekarang kemasan mahal sekali, jadi kami kadang ganti ke yang lebih tipis atau yang lebih murah. Kalau tetap pakai yang lama, modalnya terlalu besar,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan pelaku UMKM minuman kekinian, Rahma. Ia mengaku kenaikan harga plastik membuat keuntungan usahanya semakin menurun,karena biaya operasional terus bertambah.
“Biasanya beli kemasan banyak sekalian biar hemat, tapi sekarang tidak berani stok banyak karena harganya naik terus. Untungnya jadi makin kecil,” katanya.
Para pedagang dan pelaku UMKM berharap harga plastik dapat kembali stabil, sehingga aktivitas usaha mereka tidak semakin terbebani. Mereka juga berharap adanya perhatian dari pemerintah untuk mengantisipasi dampak kenaikan harga bahan baku plastik terhadap keberlangsungan usaha kecil di daerah. (hir)






