Mataram (ekbisntb.com) — Dampak konflik yang memanas di kawasan Timur Tengah akibat serangan AS-Israel ke Iran mulai dirasakan sektor perhotelan dan pariwisata di NTB. Meski belum signifikan, pembatalan kunjungan wisatawan mancanegara, khususnya dari Eropa, sudah terjadi.
Ketua Asosiasi Hotel Senggigi, Ketut Murtajaya, Selasa, 3 Maret 2026 menyampaikan, sejumlah pelaku industri perhotelan mengakui adanya pembatalan reservasi kamar dalam beberapa hari terakhir.
“Sejauh ini memang baru satu yang cancel di tempat kami, tapi saya dengar ada sekitar tiga kamar yang dibatalkan. Di hotel lain juga sudah ada. Dampaknya sudah ada meskipun belum besar,” ujarnya.
Menurut Ketut, wisatawan Eropa menjadi kelompok paling terdampak karena sebagian besar perjalanan mereka transit di kawasan Timur Tengah sebelum melanjutkan penerbangan ke Indonesia, Bali dan Lombok. Beberapa rute umum yang digunakan wisatawan Eropa antara lain transit di Doha atau negara Timur Tengah lainnya, lalu ke Singapura, Bali, dan Lombok.
“Semua tamu dari Eropa yang transit melalui Middle East ini menjadi rentan. Kalau konflik berkepanjangan, ini bisa menjadi ancaman global,” ujarnya.
Kekhawatiran tidak hanya pada pembatalan perjalanan, tetapi juga pada dampak sistemik terhadap ekonomi global. Jika konflik mengganggu jalur distribusi energi dunia, terutama di kawasan strategis seperti Selat Hormuz, maka pasokan minyak dunia berpotensi terganggu.
Sebagai salah satu jalur pelayaran minyak terpenting di dunia, gangguan di Selat Hormuz dapat memicu kenaikan harga minyak global. Dampaknya akan berantai, mulai dari kenaikan harga bahan bakar hingga lonjakan harga tiket pesawat.
“Kalau pasokan minyak berkurang, harga pasti naik. Otomatis tiket pesawat juga akan naik, biaya maintenance maskapai meningkat, dan semuanya akan terdampak,” jelasnya.
Kondisi tersebut menjadi tantangan berat bagi industri perhotelan dan pariwisata. Kenaikan harga tiket pesawat akan memengaruhi minat perjalanan wisata, baik wisatawan mancanegara maupun domestik.
Untuk mengantisipasi risiko ketergantungan pada pasar Eropa dan Timur Tengah, pelaku industri di NTB mengalihkan fokus pada pasar alternatif. Asia Tenggara, Australia, China, dan India menjadi target potensial, selain mengoptimalkan pasar domestik yang selama ini menjadi penopang utama kunjungan wisata.
Namun, pasar domestik pun menghadapi tantangan tersendiri. Harga tiket pesawat dalam negeri dinilai kurang kompetitif dibandingkan negara-negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, dan Vietnam.
“Kalau kita bandingkan, harga tiket domestik di Malaysia sangat murah. Itu yang mendorong pergerakan wisatawan ke destinasi mereka karena harga kompetitif. Di Indonesia relatif masih tinggi,” ungkapnya.
Data di Bali pada 2025 menunjukkan tren yang menarik. Kunjungan wisatawan mancanegara meningkat, tetapi wisatawan domestik justru mengalami penurunan. Faktor harga tiket pesawat, kondisi ekonomi, hingga kebijakan efisiensi kegiatan MICE (meeting, incentive, convention, exhibition) disebut menjadi penyebab.
Jika konflik Timur Tengah berlarut-larut dan harga bahan bakar minyak naik, tekanan inflasi hampir dipastikan terjadi. Kenaikan harga tidak hanya akan dirasakan sektor pariwisata, tetapi seluruh sektor ekonomi. (bul)






