Taliwang (EKBIS NTB) -Jumlah warga Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) yang terdampak krisis air bersih akibat musim kering tahun ini terus bertambah. Data terbaru Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) KSB, saat ini terdapat 9.349 jiwa atau 2.326 kepala keluarga (KK) yang butuh pasokan air bersih.
Berdasarkan data BPBD KSB ribuan warga yang terkena krisis air bersih itu, tersebar di lima kecamatan. Di antaranya, Kecamatan Taliwang, Poto Tano, Seteluk, Jereweh, dan Maluk. Kecamatan Poto Tano menjadi wilayah dengan jumlah warga terdampak terbanyak mencapai 5.
213 jiwa dari 1.292 KK. Jumlah tersebut merupakan bagian terbesar dari keseluruhan warga yang tercatat mengalami dampak krisis air bersih akibat kekeringan di KSB.
Kecamatan Seteluk berada di urutan berikutnya dengan 1.848 jiwa dari 462 KK. Sementara itu, di Kecamatan Maluk tercatat sebanyak 1.264 jiwa dari 316 KK yang terdampak.
Di Kecamatan Taliwang, jumlah warga terdampak tercatat sebanyak 992 jiwa dari 248 KK. Adapun Kecamatan Jereweh menjadi wilayah dengan jumlah terdampak paling sedikit yakni delapan KK atau 48 jiwa.
Di Kecamatan Poto Tano, berdasarkan wilayah desa mencakup sejumlah desa, antara lain Senayan, Tambak Sari, Poto Tano, Kiantar, dan Mantar. Sementara itu, di Kecamatan Seteluk, warga terdampak tersebar di Desa Lamusung, Air Suning, Meraran, dan Desa Persiapan Seteluk Rea.
Untuk Kecamatan Jereweh, data mencatat warga terdampak berada di Desa Belo, tepatnya di Dusun Menyan, RT 08 dan RT 11. Sedangkan, di Kecamatan Maluk, dampak kekeringan tercatat di Desa Benete, khususnya Dusun Pantai. Dan untuk wilayah Taliwang desa terdampak adalah desa Seloto.
Kepala Pelaksana BPBD KSB, Abdullah mengatakan, seluruh wilayah yang tercatat mengalami krisis air bersih itu saat ini telah tertangani. Pihaknya bersama berbagai pihak secara terus menerus melakukan distribusi air bersih untuk memenuhi kebutuhan warga setiap harinya.
“Distribusinya tidak tiap hari per desa. Tapi begitu ada permintaan, kami langsung kirimkan mobil tangki,” katanya, Senin (26/10).
Pemenuhan air bersih warga terdampak kekeringan itu ditegaskan Abdullah, akan terus dilaksanakan.
Abdullah mengaku belum dapat memprediksi kekeringan berakhir. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika kata dia, memperkirakan musim hujan untuk wilayah NTB baru akan terjadi pada bulan Desember atau akhir tahun mendatang.
“Minggu lalu kan sempat ada terjadi hujan selama tiga hari berturut-turut. Itu bukan hujan tanda berakhirnya kemarau. Mungkin semacam anomali cuaca saja,” imbuhnya.(bug)






