HomeBERANDAKekeringan Ekstrem Picu 7 Hektare Tanaman Padi Mati

Kekeringan Ekstrem Picu 7 Hektare Tanaman Padi Mati


Dompu (EKBIS NTB)-Kekeringan ekstrem yang melanda Kabupaten Dompu mulai memukul sektor pertanian. Di Kecamatan Dompu, sekitar 7 hektare tanaman padi dilaporkan gagal tumbuh hingga mati akibat kekurangan air. Kondisi lahan yang mengering parah bahkan menyebabkan tanah pecah dan retak.


Koordinator Penyuluh (Korluh) Kecamatan Dompu, Gunawan, SP., Senin (26/10), mengungkapkan kekeringan tahun ini tergolong paling parah dibandingkan beberapa tahun terakhir. Dampaknya mulai dirasakan petani dan menjadi ancaman bagi keberlangsungan usaha pertanian di wilayah tersebut. “Kalau yang gagal tumbuh sampai tanaman padinya mati seperti di sekitar kampus STIE Yapis Dompu, ada sekitar 7 hektare. Itu di Kecamatan Dompu saja,” ungkapnya.


Menurut Gunawan, tanaman padi di sekitar kampus STIE Yapis Dompu sebelumnya telah dilaporkan agar mendapat penanganan. Menindaklanjuti laporan tersebut, Balai Wilayah Sungai (BWS) menurunkan bantuan dua titik sumur bor untuk memenuhi kebutuhan air di lahan pertanian.

- Advertisement -


Namun, upaya tersebut belum mampu menyelamatkan tanaman padi yang telanjur terdampak kekeringan. Parahnya kondisi lahan membuat tanaman tidak lagi dapat bertahan meskipun telah dilakukan upaya penyediaan sumber air.


Gunawan menilai jika penanganan dilakukan lebih awal sekalipun keberadaan dua titik sumur bor tersebut, belum tentu mampu mengatasi dampak kekeringan yang terjadi. Kondisi tanah yang telah mengering hingga retak menganga menunjukkan betapa beratnya tekanan kekurangan air yang dihadapi petani.


Selain menyebabkan tanaman padi mati, kekeringan juga mengganggu pasokan air irigasi bagi lahan pertanian lainnya. Tanaman yang masih bertahan pun terancam mengalami penurunan produktivitas karena tidak memperoleh suplai air yang memadai.


“Petani padi sebenarnya sudah diingatkan untuk tidak menanam padi karena ada ancaman kekeringan ini. Namun, mereka tidak mengindahkan karena merasa air yang ada cukup untuk mengairi sawahnya,” jelas Gunawan.


Setelah kekeringan semakin parah dan dampaknya terlihat langsung di lahan pertanian, sejumlah petani yang sebelumnya tetap memilih menanam padi mulai menyadari besarnya risiko yang dihadapi.


Kondisi ini menjadi peringatan bagi petani agar lebih mempertimbangkan ketersediaan air dan kondisi iklim sebelum memulai musim tanam. Sebab, keterbatasan pasokan air tidak hanya mengancam pertumbuhan tanaman, tetapi juga berpotensi menekan hasil panen dan merugikan petani.


Dengan kekeringan yang masih menjadi ancaman, keberadaan sumber air dan ketepatan waktu penanganan menjadi faktor penting untuk mengurangi risiko kerugian di sektor pertanian Dompu. (ula)

Artikel Yang Relevan

IKLAN








Terkait Berdasarkan Kategori

Jelajahi Lebih Lanjut