Mataram (Ekbis NTB) — Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB (BI NTB) memperkuat Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) melalui tema “SIGAP PANGAN: Sinergi Penguatan dan Akselerasi Produksi–Hilirisasi Pangan NTB”. Langkah strategis ini dirangkaikan dengan Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah di Kantor Bupati Lombok Tengah, Rabu (21/10/2026).
Kepala Perwakilan BI NTB, Hario K. Pamungkas, bersama jajaran pemerintah daerah mengawali rangkaian kegiatan ini melalui Gerakan Pangan Murah (GPM) dan jalan sehat yang melibatkan sekitar 700 warga pada 20 Oktober 2026.
Dalam seremoni yang turut dihadiri Asisten II Setda NTB H. Lalu Mohammad Faozal dan Bupati Lombok Tengah H. Lalu Pathul Bahri, diserahkan bantuan sarana prasarana pertanian kepada kelompok tani di berbagai kabupaten/kota. Agenda juga diisi dengan business matching pembiayaan perbankan, penyerahan lisensi benih padi Gamagora 7, penandatanganan Kerja Sama Antar-Daerah (KAD) G2G dan B2B, serta pelepasan pengiriman bibit cabai rawit ke Sulawesi Utara dan padi Gamagora 7 ke NTT.
Dinamika Inflasi dan Lima Rekomendasi Strategis
Kepala BPS Provinsi NTB, Dr. Wahyudin, memaparkan bahwa pada September 2026 NTB mencatatkan inflasi month-to-month (mtm) sebesar 0,36%, year-to-date (ytd) 2,72%, dan year-on-year (yoy) 4,18%. Komoditas utama penyumbang inflasi bulanan meliputi daging ayam ras (0,12%), tarif air minum PAM (0,08%), udang basah (0,07%), tomat (0,05%), dan cabai rawit (0,04%).
Menanggapi dinamika tersebut, Kepala Perwakilan BI NTB Hario K. Pamungkas memaparkan lima rekomendasi utama pengendalian inflasi daerah:
- Penguatan neraca pangan daerah melalui pemutakhiran data ketersediaan dan proyeksi surplus-defisit.
- Intensifikasi stabilisasi harga lewat perluasan GPM dengan prinsip 3T (tepat lokasi, sasaran, waktu).
- Penguatan KAD dengan daerah sentra guna mengantisipasi risiko gangguan produksi akibat potensi El Niño hingga awal 2027.
- Penundaan kenaikan tarif jasa yang diatur pemerintah pada Triwulan IV 2026 untuk meredam tekanan jelang Natal dan Tahun Baru.
- Peningkatan produktivitas dan rantai pasok, termasuk regenerasi petani/nelayan, pemanfaatan IoT, hingga imbauan kepada masyarakat untuk berbelanja bijak tanpa panic buying. (r/fan)






