Mataram (Ekbis NTB) — Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) bersama Perum BULOG Wilayah NTB memperkuat sinergi dalam menjaga stabilitas harga dan ketersediaan bahan pokok. Langkah taktis ini diwujudkan melalui pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) serentak yang dirangkaikan dengan peringatan Hari Pangan Sedunia 2026.
Wakil Pimpinan Wilayah (Wapimwil) Perum BULOG NTB, Sri Rejeki Lestari Y, menegaskan bahwa keikutsertaan BULOG dalam GPM merupakan wujud nyata kehadiran negara di tengah masyarakat.
“Ini merupakan bentuk kehadiran pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan, memastikan bahwa pangan tersedia dalam jumlah yang cukup dengan harga yang terjangkau dan kualitas yang baik,” ujar Sri Rejeki di Mataram, Kamis (22/10/2026).
Pada pelaksanaan GPM memperingati Hari Pangan Sedunia yang digelar di sembilan titik wilayah NTB, BULOG menggelontorkan komoditas dalam jumlah besar. Tercatat sebanyak 20 ton beras, 30.000 liter minyak goreng, dan 2 ton gula pasir disiapkan khusus untuk memenuhi kebutuhan masyarakat pada momentum tersebut.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Provinsi NTB, Lalu Mirza Amir Hamzah, menjelaskan bahwa GPM menyasar komoditas pangan pokok utama penyumbang inflasi, seperti beras, minyak goreng, gula, bawang putih, hingga cabai. GPM ini diproyeksikan hadir di tiga titik utama di Kota Mataram dan sekitarnya sepanjang bulan ini dengan potongan harga mencapai 30 persen di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET).
“Artinya di bawah HET diupayakan, dan dibandingkan dengan di pasar, yang di GPM ini kita yakini lebih murah,” kata Lalu Mirza.
Salurkan Ribuan Ton Pangan Sepanjang 2026
Sri Rejeki membeberkan bahwa GPM bukanlah kegiatan insidental semata, melainkan bagian dari program berkesinambungan yang telah berjalan sejak Januari hingga Oktober 2026. Sepanjang periode tersebut, BULOG NTB bersama pemerintah daerah telah merealisasikan kerja sama operasi pasar murah mendekati 400 kali kegiatan.
Hingga akhir tahun, frekuensi GPM dipastikan melampaui angka 400 kali seiring masih banyaknya jadwal kegiatan yang diajukan oleh berbagai kabupaten/kota di NTB.
Selain melalui GPM, intervensi stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP) juga dilakukan BULOG melalui berbagai kanal distribusi resmi. Sepanjang Januari hingga Oktober 2026, BULOG NTB telah menyalurkan sekitar 13.000 ton beras, 3.200 ton gula pasir, dan 1.320.000 liter minyak goreng ke ritel modern, Rumah Pangan Kita (RPK), kios pasar, hingga outlet pemerintah.
Melalui operasi masif ini, beras SPHP dipastikan dijual dengan harga tidak lebih dari Rp12.500 per kilogram, sementara minyak goreng dipatok maksimal Rp15.700 per liter.
Antisipasi Fluktuasi Harga Cabai
Terkait dinamika harga komoditas hortikultura seperti cabai yang sempat menyentuh kisaran Rp55.000, Lalu Mirza menilai fluktuasi tersebut merupakan mekanisme pasar yang wajar akibat hukum supply and demand. Ia menegaskan bahwa NTB memiliki posisi strategis sebagai daerah lumbung pangan (champion) nasional.
Meski produksi cabai di NTB melimpah hingga menembus angka ratusan ribu ton per tahun—jauh melampaui tingkat konsumsi lokal yang berada di kisaran 30.000 ton—pemerintah tetap harus membagi pasokan ke daerah lain yang mengalami defisit.
“Jadi banyak space yang kita punya, tetapi kan kita juga Negara Kesatuan Republik Indonesia yang harus memperhatikan provinsi lain,” pungkasnya. (fan)






