Lombok Tengah (ekbisntb.com) – Kepedulian terhadap korban kebakaran yang melanda Desa Adat Sade, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, terus mengalir. Perempuan Indonesia Maju (PIM) NTB menggandeng sejumlah organisasi perempuan untuk membantu meringankan beban masyarakat terdampak.
DPD PIM NTB bersama DPC PIM Lombok Tengah, TP PKK Lombok Tengah, Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Lombok Tengah, dan Dharma Wanita Lombok Tengah menggelar bakti sosial (baksos) Peduli Sade, Rabu, 26 Agustus 2026.
Dalam kegiatan tersebut, organisasi perempuan menyerahkan 100 paket sembako kepada masyarakat terdampak kebakaran.
Ketua PIM NTB, Hj. Baiq Diyah Ratu Ganefi, SH, atau yang kerap dipanggil BDRG ini mengatakan bantuan tersebut merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap warga yang tengah menghadapi masa sulit pascakebakaran.
“Alhamdulillah, kami menyerahkan 100 paket sembako. Mudah-mudahan bantuan ini bermanfaat untuk masyarakat,” ujarnya.
Menurut BDRG, kepedulian terhadap Sade tidak cukup berhenti pada pemberian bantuan setelah bencana. Ke depan, perlu ada perhatian serius terhadap konsep pembangunan kembali kawasan yang terbakar, mengingat Sade bukan hanya permukiman masyarakat, tetapi juga salah satu kawasan adat dan destinasi wisata budaya penting di NTB.
Ia berharap proses renovasi atau pembangunan kembali bangunan yang terbakar dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi lingkungan serta aspek keselamatan.
“Apabila ada pembangunan atau renovasi kembali lahan yang terbakar, tentu harus dipikirkan apakah lahan itu masih representatif untuk dibangun kembali di sana,” katanya.
Mantan Senator ini menilai, kondisi alam seperti panas, hujan, dan angin juga harus menjadi pertimbangan dalam merancang kembali bangunan di kawasan adat tersebut. Termasuk bentuk bangunan dan tata letak kawasan, sehingga tetap mempertahankan karakter Sade namun lebih adaptif terhadap kondisi saat ini.
Menurutnya, pelestarian rumah dan kawasan adat tidak berarti harus mempertahankan seluruh bentuk masa lalu secara utuh. Nilai dan identitas budaya tetap dipertahankan, tetapi desain dan konstruksi dapat disesuaikan dengan kebutuhan keselamatan dan kondisi zaman.
“Ketika kita ingin membuat satu replika dari masa lalu, tentu kita menyesuaikan dengan keadaan saat ini. Replikanya kalau mau kecil, tetapi untuk kenyataannya bisa dibuat lebih besar,” ujarnya.
Perlu Awik-awik untuk Perkuat Mitigasi
Lebih jauh, PIM NTB mendorong agar penataan kembali Desa Adat Sade tidak hanya berbicara mengenai bangunan fisik. Aturan adat atau awik-awik dinilai penting untuk diperkuat sebagai bagian dari upaya menjaga kawasan sekaligus meminimalkan risiko terjadinya peristiwa serupa di masa mendatang.
Diyah berharap keberadaan kawasan atau kampung adat di NTB ke depan dibarengi dengan aturan yang jelas mengenai hal-hal yang diperbolehkan dan dilarang, termasuk yang berkaitan dengan keselamatan lingkungan dan bangunan.
“Perlu adanya daerah atau kampung atau desa adat yang di sana tentu harus ada awik-awiknya. Ada yang boleh dan ada yang tidak boleh, sehingga kebakaran nantinya atau hal-hal yang tidak diinginkan bisa diminimalisir dengan adanya awik-awik,” tegasnya.
Kebakaran melanda Desa Adat Sade pada Sabtu (22/8/2026) malam. Api menghanguskan sejumlah bangunan yang menjadi bagian penting dari kawasan permukiman adat sekaligus kawasan wisata budaya tersebut.
Peristiwa itu tidak hanya menimbulkan kerugian material bagi masyarakat, tetapi juga memunculkan kekhawatiran terhadap keberlanjutan dan kelestarian warisan budaya Sade.
Karena itu, bantuan yang diberikan PIM NTB bersama organisasi perempuan lainnya diharapkan menjadi langkah awal untuk memperkuat solidaritas sekaligus mendorong perhatian lebih luas terhadap pemulihan Sade.
Bagi PIM NTB, pemulihan Sade idealnya tidak sekadar mengembalikan bangunan seperti sebelum kebakaran. Sade harus dibangun kembali dengan tetap menjaga identitas adat, namun sekaligus lebih aman, adaptif, dan mampu bertahan menghadapi berbagai risiko di masa depan.(bul)






