Mataram (Ekbis NTB) — Perum Bulog Kantor Wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) memastikan ketersediaan beras di daerah itu dalam kondisi aman untuk menghadapi peningkatan kebutuhan masyarakat, khususnya menjelang peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Pimpinan Wilayah Perum Bulog NTB, Mara Kamin Siregar, mengungkapkan bahwa stok beras yang tersedia saat ini mencapai sekitar 279 ribu ton. Dengan jumlah tersebut, kebutuhan beras di NTB diperkirakan aman hingga 27 bulan ke depan.
”Stok beras kita saat ini kurang lebih 279 ribu ton dan cukup aman sampai 27 bulan ke depan. Jadi, masyarakat tidak perlu waswas dan panik,” ujar Mara saat mengikuti pemantauan harga di pasar tradisional Bima dan Sumbawa bersama Wakil Gubernur NTB, Hj. Indah Damayanti Putri, serta Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) pada 21-22 Agustus 2026.
Menurut Mara, jaminan ketersediaan stok tersebut menjadi modal penting bagi pemerintah dalam menjaga stabilitas harga pangan di tengah potensi lonjakan permintaan menjelang hari besar keagamaan.
Dalam praktiknya, Bulog tidak hanya mengandalkan Gerakan Pangan Murah (GPM) yang digelar sewaktu-waktu. Penyaluran beras juga dilakukan secara rutin setiap hari melalui pasar tradisional, ritel modern, hingga Rumah Pangan Kita (RPK) binaan Bulog.
”Kami setiap hari berkoordinasi dengan rekan-rekan di pasar dan TPID untuk menggelontorkan beras ke pasaran,” imbuhnya.
Dari hasil pemantauan bersama TPID, harga beras secara umum terpantau masih normal. Kendati demikian, terdapat sejumlah titik pasar yang mulai menunjukkan tren kenaikan harga, terutama untuk komoditas beras premium.
Menanggapi hal tersebut, Mara menegaskan bahwa Bulog siap melakukan intervensi jika kenaikan harga terus berlanjut. Pasokan beras akan kembali digelontorkan secara masif demi menjaga keseimbangan antara ketersediaan dan permintaan pasar.
Langkah ini merupakan bagian dari mitigasi bersama TPID untuk mengantisipasi tekanan harga pangan. Pasalnya, peningkatan aktivitas masyarakat pada momentum Maulid Nabi biasanya berimbas pada naiknya kebutuhan beras dan bahan pangan pokok lainnya.
Selain menjaga stok komersial, Perum Bulog Kanwil NTB juga terus menggenjot program bantuan pangan. Mara menyebutkan, alokasi bantuan pangan untuk NTB mendapat tambahan sekitar 6 ribu ton.
Hingga saat ini, realisasi penyaluran untuk alokasi Juli, Agustus, dan September telah mencapai hampir 80 persen.
”Untuk bantuan pangan, ada penambahan kuota untuk NTB kurang lebih 6 ribu ton. Realisasi penyalurannya sudah hampir 80 persen untuk alokasi periode Juli, Agustus, dan September,” jelasnya.
Di samping memenuhi kebutuhan lokal, kuatnya cadangan beras di NTB turut membuka peluang redistribusi ke wilayah lain yang mengalami defisit. NTB tidak hanya berposisi sebagai daerah penerima, tetapi juga siap menjadi salah satu lumbung penyangga bagi wilayah tetangga.
”Cadangan kita sangat cukup. Stok yang ada ini nantinya juga bisa kita kirim ke daerah-daerah defisit, seperti Bali dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Sebelumnya, kita juga pernah menyalurkan ke DKI Jakarta,” tutur Mara.
Ia kembali mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak melakukan pembelian secara berlebihan (panic buying). Kombinasi antara stok yang melimpah dan distribusi harian yang masif dinilai sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan publik.
”Harapannya, dengan ketersediaan stok yang ada, masyarakat tidak perlu waswas. Insya Allah, stok kita sangat aman,” pungkasnya. (r/fan)






