HomeDAERAHPasca Pelatihan GEMS SEAMEO BIOTROP, Sekolah di Lombok Siap Terapkan Pembelajaran Berbasis...

Pasca Pelatihan GEMS SEAMEO BIOTROP, Sekolah di Lombok Siap Terapkan Pembelajaran Berbasis Konservasi

Lombok Timur (ekkbisntb.com) –Sekolah-sekolah di Lombok telah siap menerapkan pembelajaran berbasis konservasi, setalah digelarnya kegiatan Regional Webinar and National Training “Geoparks as Living Laboratories: Integrating Biodiversity Education, Agrobiodiversity, and Sustainable Community Development in Southeast Asia” yang berlangsung pada 28–31 Juli 2026 di SMAN 1 Sembalun, Lombok Timur yang diselenggarakan oleh  SEAMEO BIOTROP melalui program Geopark Educational Model for School (GEMS).

Koordinator Program GEMS, Dewi Suryani, di Mataram, Jumat, 31 Juli 2026 mengatakan, hasil evaluasi menunjukkan para peserta sangat antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Selama empat hari pelatihan, peserta tidak hanya memperoleh materi, tetapi juga praktik langsung yang dapat diterapkan di lingkungan sekolah.

“Guru-guru sudah mendapatkan pengalaman bagaimana membangun kebun edukasi di sekolah. Harapannya, kebun tersebut tidak hanya bermanfaat bagi sekolah dan siswa, tetapi juga dapat menjadi contoh bagi sekolah lain di sekitarnya,” ujarnya.

- Advertisement -

Menurut Dewi, aspek konservasi menjadi fokus utama program GEMS. Selama ini, pengembangan geopark di Indonesia, tanpa terkecuali di kawasan Geopark Rinjani, dinilai lebih banyak menonjolkan sektor pariwisata, sementara aspek konservasi biodiversitas belum mendapat perhatian yang seimbang.

“Kalau yang diperkuat hanya pariwisatanya, dampaknya bisa mengarah pada eksploitasi. Karena itu, kami ingin memperkuat sisi biodiversitas agar konservasi berjalan beriringan dengan pemanfaatan kawasan,” katanya.

Selama pelatihan, peserta juga banyak berdiskusi mengenai persoalan lingkungan yang mereka temui di daerah masing-masing, salah satunya penggunaan pupuk kimia secara berlebihan yang berdampak terhadap kualitas lahan pertanian.

Menurut Dewi, tim SEAMEO BIOTROP telah memberikan pemahaman mengenai langkah-langkah penanganan secara teoritis. Ke depan, pihaknya berharap dapat melakukan pendampingan langsung melalui survei lapangan dan analisis kondisi tanah sehingga solusi yang diberikan lebih tepat sasaran.

“Kami ingin nantinya bisa turun langsung bersama peserta untuk menganalisis kondisi tanah. Setelah itu baru dapat ditentukan penanganan yang sesuai,” jelasnya.

Pelatihan nasional diikuti puluhan guru dari 29 sekolah, mulai jenjang SD, SMP hingga SMA di kawasan Rinjani-Lombok. Materi yang diberikan meliputi budidaya tanaman sayuran khas Rinjani, tanaman buah, tanaman obat keluarga (TOGA), analisis vegetasi, hingga pemetaan spasial menggunakan aplikasi berbasis telepon genggam.

Peserta juga diperkenalkan dengan teknologi pemetaan wilayah untuk mengidentifikasi potensi vegetasi dan kondisi lingkungan sebagai dasar penyusunan pembelajaran berbasis potensi lokal.

Sebagai tindak lanjut, seluruh peserta diwajibkan menyusun action plan yang akan diterapkan di sekolah masing-masing. Pelaksanaan rencana tersebut akan dievaluasi dalam waktu tiga bulan setelah pelatihan.

SEAMEO BIOTROP juga menggandeng SMK-PP Negeri Mataram sebagai mitra pendamping agar sekolah-sekolah peserta dapat memperoleh bimbingan teknis secara langsung apabila membutuhkan pendampingan di lapangan.

“Kami akan melihat perkembangan mereka dalam tiga bulan ke depan. Jika ada kebutuhan pendampingan, sebagai mitra SEAMEO BIOTROP, SMK-PP Mataram yang menjadi mitra kami dapat membantu melakukan pembinaan langsung di sekolah,” ujar Dewi.

Diketahui, kegiatan GEMS merupakan program perdana yang diinisiasi SEAMEO BIOTROP pada 2026 untuk menjadikan geopark sebagai laboratorium hidup (living laboratory) dalam mendukung pembelajaran kontekstual berbasis biodiversitas, agrobiodiversitas, budaya lokal, dan pembangunan masyarakat berkelanjutan.

Regional webinar yang digelar pada 28 Juli 2026 diikuti lebih dari 100 peserta dari Indonesia, Malaysia, dan Filipina yang berasal dari kalangan pendidik, akademisi, mahasiswa, pengelola geopark, serta berbagai institusi pendidikan dan mitra terkait. Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pelatihan nasional pada 29–31 Juli 2026 bagi guru-guru di kawasan Rinjani-Lombok. (bul)

Artikel Yang Relevan

IKLAN





Terkait Berdasarkan Kategori

Jelajahi Lebih Lanjut