Mataram (ekbisntb.com) – Rencana pengiriman (ekspor) puluhan ton madu trigona dari Lombok, untuk menembus pasar internasional harus tertunda. Penyebabnya, perang Timur Tengah.
Rencananya, sebanyak 50 ton madu trigona dari Lombok akan dikirim ke Dubai, Uni Emirat Arab. Namun, konflik Amerika Serikat, Israel, memerangi Iran memicu gangguan jalur perdagangan di kawasan Timur Tengah hingga saat ini.
Salah satu peternak madu trigona asal Desa Sukadana, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara, Sahlan, kepada Suara NTB, Senin, 8 Juni 2026 mengatakan, ia adalah salah satu peternak madu trigona yang seyogyanya akan memasok produksi madu trigona untuk di ekspor oleh salah satu buyer dari Lombok.
Menurutnya, proses ekspor sebenarnya sudah memasuki tahap akhir setelah seluruh perizinan berhasil diselesaikan. Namun, situasi keamanan di Timur Tengah membuat pengiriman tidak dapat dilakukan sesuai rencana.
“Setelah selesai urus izin dari Indonesia dan Dubai, tinggal kirim saja. Tapi akhirnya terjadi perang, sehingga ekspor tertunda,” ujarnya.
Menurut dia, peluang ekspor tersebut bermula ketika pengusaha asal Dubai berkunjung ke Lombok dan mencoba sampel madu trigona produksi peternak lokal. Setelah melalui proses komunikasi dan pengurusan dokumen yang memakan waktu hampir satu tahun, kontrak pembelian akhirnya berhasil disepakati.
Dalam proses pendataan produksi, Sahlan ditugaskan menghimpun kapasitas peternak madu trigona di Lombok Utara. Hasilnya, produksi gabungan peternak di daerah tersebut mencapai sekitar 15 ton setiap tiga bulan.
“Di Lombok Utara saja hasilnya sekitar 15 ton per tiga bulan. Kami sepuluh orang peternak mengambil kontrak hingga 50 ton. Ada peternak madu trigona dari Lombok Barat, Lombok Tengah, ada juga dari Lombok Timur,” katanya.
Tertundanya ekspor membuat ribuan botol madu yang telah dipersiapkan untuk pasar luar negeri masih tersimpan di gudang peternak maupun kantor penampungan di Mataram. Sahlan mengaku dirinya sendiri masih memiliki sekitar 2.000 botol madu yang belum dipasarkan.
“Madu masih kami simpan. Di rumah masih ada, di kantor juga ada. Saya sendiri punya sekitar 2.000 botol, belum termasuk milik peternak lain,” ujarnya.
Meski ekspor ke Dubai belum berjalan, peluang pasar baru mulai terbuka. Mitra dagang mereka saat ini disebut tengah melakukan penjajakan pasar ke Singapura sebagai alternatif tujuan ekspor.
“Kami berharap bisa segera terealisasi sambil menunggu kondisi Timur Tengah kembali aman,” kata Sahlan.
Selain kendala ekspor, peternak madu trigona di Lombok Utara juga menghadapi tekanan harga di pasar domestik. Sahlan mengungkapkan harga madu trigona lokal mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir akibat maraknya produk dari luar daerah yang dipasarkan menggunakan label madu Lombok Utara.
Menurutnya, beberapa tahun lalu madu trigona kemasan 500 mililiter mampu dijual hingga Rp150 ribu sampai Rp200 ribu per botol. Kini harga jual turun menjadi sekitar Rp80 ribu hingga Rp100 ribu per botol.
“Dulu sangat terkenal madu trigona Lombok Utara. Sekarang banyak madu dari luar yang dijual mengatasnamakan madu Lombok Utara sehingga harga ikut turun,” katanya.
Di tengah tantangan saat ini, mereka berharap stabilitas kawasan Timur Tengah segera pulih sehingga kontrak ekspor yang telah disiapkan dapat berjalan dan membuka pasar yang lebih luas bagi madu trigona asal NTB.
“Kami hanya berharap situasi segera aman sehingga madu hasil peternak bisa kembali dipasarkan ke luar negeri dan memberikan nilai ekonomi yang lebih baik bagi masyarakat,” pungkas Sahlan. (bul)






