HomeBerandaJaga Stabilitas Keuangan, KSSK Dorong Pertumbuhan Ekonomi NTB yang Berkelanjutan

Jaga Stabilitas Keuangan, KSSK Dorong Pertumbuhan Ekonomi NTB yang Berkelanjutan

Ekonomi NTB Melesat 13,64 Persen di Triwulan I-2026, Ditopang Ekspor Tembaga

Mataram (Ekbis NTB) — Perekonomian Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mencatatkan performa gemilang pada Triwulan I-2026 dengan tumbuh sebesar 13,64 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Angka ini jauh melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di level 5,61 persen (yoy) pada periode yang sama.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB, Hario K. Pamungkas, mengungkapkan bahwa lonjakan pertumbuhan ekonomi daerah ini didorong oleh kuatnya kinerja ekspor konsentrat tembaga. Selain ekspor, konsumsi pemerintah serta konsumsi rumah tangga yang tetap terjaga menjadi motor penggerak utama.

“Dari sisi sektoral, pertumbuhan ekonomi NTB terutama ditopang oleh sektor pertanian, pertambangan, perdagangan, konstruksi, dan industri pengolahan,” ujar Hario dalam kegiatan Media Briefing Forum Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) NTB Triwulan II-2026 di Kota Mataram, Jumat (29/5/2026).

Capaian positif ini terbilang impresif mengingat perekonomian global saat ini masih dibayangi berbagai tantangan berat. Hario menyebutkan, ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah masih menekan ekonomi dunia, memperlambat pertumbuhan global, serta memicu kerentanan pada rantai pasok dunia.

Inflasi Terkendali, NTB Alami Deflasi Bulanan

Di sisi lain, stabilitas harga di NTB juga menunjukkan tren yang sehat. Pada April 2026, NTB mencatatkan deflasi sebesar -0,11 persen secara bulanan (month-to-month/mtm). Catatan ini menempatkan NTB sebagai salah satu dari sembilan provinsi di Indonesia yang berhasil mengalami deflasi bulanan pada periode tersebut.

Sementara untuk inflasi tahunan dan inflasi tahun kalender, posisinya dipastikan masih aman berada dalam rentang sasaran inflasi nasional.

Untuk mengantisipasi lonjakan harga menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Iduladha, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) NTB bersama pemerintah kabupaten/kota telah menyiapkan sejumlah langkah strategis.

“Kami terus memperkuat koordinasi melalui rapat TPID, High Level Meeting, sidak pasar, serta menggelar Gerakan Pangan Murah di 21 titik,” tambah Hario. Langkah tersebut juga diperkuat dengan program tanam cabai di lahan pemerintah dan edukasi belanja bijak kepada masyarakat.

Transaksi Digital dan Sektor Keuangan Menguat

Selain memaparkan indikator makro, Bank Indonesia juga melaporkan masifnya digitalisasi sistem pembayaran di NTB. Hingga posisi April 2026, transaksi melalui BI-FAST tumbuh signifikan sebesar 33,81 persen (yoy). Sementara itu, transaksi Kliring (SKNBI) dan RTGS tumbuh sebesar 18,99 persen (yoy).

Menariknya, penggunaan QRIS di NTB juga terus meningkat, termasuk transaksi QRIS Cross Border (lintas negara) oleh wisatawan asal Malaysia. Tren positif ini sejalan dengan melonjaknya kunjungan wisatawan mancanegara ke destinasi wisata di NTB.

Pertumbuhan ekonomi yang inklusif ini turut didukung oleh stabilitas sektor keuangan yang solid. Perwakilan otoritas KSSK NTB lainnya turut melaporkan indikator positif, di antaranya:

  • Otoritas Jasa Keuangan (OJK) NTB: Kinerja sektor jasa keuangan tetap terjaga, ditopang oleh pertumbuhan kredit perbankan dan pembiayaan UMKM.
  • Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) II: Kepercayaan masyarakat terhadap perbankan di NTB tetap kuat dengan cakupan penjaminan simpanan yang memadai.
  • DJPb NTB: Pelaksanaan APBN regional berjalan optimal, termasuk penyaluran program kredit untuk UMKM.
  • DJP Nusa Tenggara: Penerimaan pajak tumbuh positif berkat optimalisasi kepatuhan Wajib Pajak dan adanya insentif fiskal daerah.

Melalui sinergi erat antar-otoritas keuangan ini, KSSK NTB optimistis stabilitas sistem keuangan dan pertumbuhan ekonomi daerah yang berkelanjutan akan terus terjaga ke depan. (r/fan)

Artikel Yang Relevan

IKLAN


Terkait Berdasarkan Kategori

Jelajahi Lebih Lanjut