Sumbawa Besar (ekbisntb.com) – Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Sumbawa, mencatat hingga triwulan pertama tahun 2026, sebanyak 196 Pekerja Migran Indonesia (PMI) berangkat ke luar negeri. Salah satu alasan mereka bekerja adalah permasalahan ekonomi.
“196 orang tersebut merupakan orang yang baru akan berangkat menjadi PMI yang didominasi negara tujuan Taiwan sebanyak 76 orang dan diprediksi akan terus bertambah,” kata Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Nakertrans Kabupaten Sumbawa, H. Varian Bintoro kepada Suara NTB, Kamis (16/4).
Negara tujuan lainnya adalah Hongkong juga menjadi primadona bagi para pahlawan devisa negara tersebut. Berdasarkan catatan 49 orang memilih bekerja ke Negara Mutiara dari Timur tersebut. Selain itu, Saudi Arabia sebanyak 17 orang untuk pekerjaan sektor formal. “Saudi Arabia masih moratorium untuk penempatan CPMI dengan klasifikasi non formal yang sudah sudah dibuka baru tenaga formal saja,” ucapnya.
Masyarakat memilih Asia Pasific sebagai tempat bekerja karena pertimbangan gaji yang besar dibandingkan dengan Timur Tengah. Namun, masih adanya moratorium di sejumlah negara Timur Tengah menjadi kendala, sehingga penempatan di negera tersebut masih sedikit. Faktor utama warga Sumbawa bekerja ke luar negeri adalah pertimbangan ekonomi.
“Kita tetap bisa memaksa mereka untuk memilih negara tujuan tertentu, karena itu merupakan pilihan CPMI itu sendiri. Tetapi untuk tenaga normal masih belum dibuka pemerintah,” tambahnya.
Masyarakat yang hendak menjadi pekerja migran diharapkan untuk tetap berangkat secara legal atau secara prosedural. Termasuk harus melalui Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia (P3MI).
“Sekarang CPMI ini wajib didaftarkan ke aplikasi ke Siap Kerja Naker, sehingga bisa ketahuan dia bekerja secara legal atau illegal. Kalau dia tidak dimasukan ke dalam Siap Kerja, walaupun dikirim perusahaan resmi dia pasti illegal, karena tidak masuk data,” tukasnya. (ils)






