Mataram (ekbisntb.com) – Komisi III DPRD Provinsi NTB yang membidangi urusan keuangan dan perbankan mendorong Bank NTB Syariah untuk lebih berani membuat terobosan. Yakni mengubah arah kebijakan dengan memperbesar porsi pembiayaan kredit produktif, tanpa mengurangi pembiayaan kredit konsumtif yang selama ini menjadi penopang stabilitas bisnis Bank milik daerah tersebut.
Hal itu disampaikan langsung oleh Ketua Komisi III DPRD Provinsi NTB, Sambirang Ahmadi. Disampaikannya bahwa dari awal pihaknya sudah memberikan rekomendasi kepada jajaran direksi baru Bank NTB Syariah agar lebih agresif membidik nasabah produktif dari sektor ritel, seperti pelaku usaha kecil dan menengah.
“Rekomendasi kami jelas agar Bank NTB Syariah di 2026 ini dengan direksi yang baru agar lebih cekatan membidik potensi nasabah produktif. Potensi ini selama ini dikuasai oleh Bank-bank konvensional,” ujar Sambirang pada Senin (2/2/2026).
Politisi PKS itu mengatakan, pihaknya menilai kinerja Bank NTB Syariah selama ini masih kurang kompetitif dalam menggarap segmen nasabah produktif tersebut. Harapannya dibawah jajaran direksi yang baru, Bank NTB Syariah bisa lebih agresif merambah pangsa pasar nasabah produktif.
“Kita berharap di bawah jajaran direksi yang baru ada membawa perubahan di Bank NTB Syariah. Jangan sampai kinerjanya sama saja dengan yang sebelumnya, karena direksi yang baru ini melalui proses seleksi yang ketat,” katanya.
Sambirang mengungkapkan bahwa dari data total pembiayaan Bank NTB Syariah sekarang ini sebesar Rp11 triliun lebih. Porsi pembiayaan kredit produktif baru sebesar 10 persen, atau sekitar Rp1,1 triliun. Sementara 90 persennya ke pembiayaan konsumtif.
“Kondisi ini masih sangat jomplang sekali, kedepan sektor produktif harus lebih di perbesar. Meksipun sektor pembiayaan konsumtif terus dipertahankan karena memang ini yang paling aman,” katanya.
Sekali lagi dia menegaskan bahwa peningkatan pembiayaan produktif merupakan sebuah keniscayaan untuk memperbesar Bank NTB Syariah. Selain itu keberadaan Bank NTB Syariah juga bisa ikut dirasakan oleh masyarakat luas, terutama yang memiliki usaha kecil.
“Kredit produktif ini juga jangan terlalu besar main di korporasi, tapi harus diarahkan oleh sektor rill usaha kecil, seperti pedagang pasar, pedagang kios. Maka baru Bank NTB Syariah bisa ikut dinikmati oleh masyarakat bawah,” pungkasnya. (ndi)






