Lombok (ekbisntb.com) –
Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kabupaten Lombok Utara (KLU) memproyeksikan areal tanam padi varietas Gogo Rancang (Gora) seluas 845 hektare pada musim tanam mendatang. Dinas dalam hal ini telah menyalurkan bibit sejumlah 16,9 ton.
Kepala Dinas KP3 KLU, Tresnahadi, S.Pt., mengungkapkan, Pemda Lombok Utara berkomitmen untuk memberikan andil dalam produksi padi dan palawija guna mendukung ketahanan pangan nasional. Untuk padi Gogo rancang sendiri, pihaknya sudah melakukan survei dan pendataan (CPCL) areal tanam di petani.
“Total benih yang diterima sebanyak 16,9 ton untuk areal lahan 845 hektar. Seluruhnya sudah kita distribusikan sesuai dengan luas lahan yang telah diusulkan,” ujar Tresnahadi, Kamis, 2 Oktober 2025.
Ia menyebutkan areal lahan tersebar di 3 kecamatan, yaitu telah Kecamatan Gangga, Kecamatan Kayangan dan Kecamatan Bayan. Hanya saja, ia tidak merinci areal lahan di tiap kecamatan tersebut.
Menurut Tresnahadi, setiap hektare lahan memperoleh bantuan bibit sebanyak 20 kg. Selain bibit, pemerintah juga membantu obat-obatan agar selama budidaya menghasilkan kualitas hasil maksimal.
Ia menjelaskan, budidaya padi gora merupakan program strategis pemerintah pusat dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional yang berbasis daerah. KLU menjadi salah satu wilayah penerima karena memiliki potensi lahan kering yang cukup luas untuk pengembangan padi gogo.
Padi gogo menurut dia, cocok ditanam di lahan kering. Lombok Utara yang memiliki areal kering dominan, layak dijadikan areal budidaya. Dalam prosesnya, dinas akan melakukan pendampingan kepada petani untuk memastikan penanganan kendala lapangan.
“Kita akan berikan pendampingan penyuluh kepada petani dari awal penanaman hingga panen, imbuhnya.
Untuk diketahui, Padi Gora atau Padi Gamagora (Gajah Mada Gogo Rancah) adalah varietas padi amfibi yang dikembangkan oleh Universitas Gajah Mada (UGM). Padi jenis ini mampu beradaptasi di dua ekosistem, sawah dan lahan gogo-rancah.
Varietas ini memiliki keunggulan hasil tinggi, umur panen relatif singkat, anakan banyak, dan daya tahan kuat terhadap penyakit, menjadikannya solusi untuk ketahanan pangan nasional. (ari)






