Lombok (ekbsintb.com) – Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang digencarkan Dinas Kesehatan (Dikes) Lombok Timur (Lotim) terus digencarkan Dikes. Kali ini menyasar para pelajar di satuan pendidikan. Skrining awal yang dilakukan mengungkap tiga masalah kesehatan utama pada anak sekolah dasar, yaitu gangguan gigi, telinga, dan mata.

Program yang menyasar semua jenjang pendidikan, mulai dari SD, SMA, madrasah, pesantren, hingga Sekolah Luar Biasa (SLB) ini mendapat dukungan penuh dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) setempat.

Sekretaris Dinas Dikbud Lotim, H. Jumadil, menegaskan bahwa program ini sejalan dengan upaya mewujudkan pendidikan inklusif. Hasil pemeriksaan kesehatan, kata dia, menjadi dasar penting untuk penyesuaian pembelajaran sesuai kebutuhan individual anak.
“Dengan CKG, kita bisa mengetahui kondisi kesehatan siswa, termasuk yang punya kesulitan fungsional atau disabilitas. Data ini membantu guru dalam Profil Belajar Siswa (PBS), agar setiap anak mendapat hak belajar secara adil dan manusiawi,” ujar Jumadil, Jumat 29 Agustus.
Ia mencontohkan, siswa dengan hambatan penglihatan atau pendengaran akan mendapat perlakuan pembelajaran khusus dari guru. Temuan gangguan kesehatan dari Dikes, dikatakannya, menjadi data awal yang berharga untuk PBS.
Pelaksanaan CKG yang baru saja dimulai telah memberikan gambaran nyata. Salah satu contohnya adalah hasil skrining terhadap 85 siswa kelas satu di sebuah SD Negeri di Kecamatan Aikmel.
Kepala Puskesmas Kalijaga, H. Nursini Juiban Hadi, memaparkan bahwa mayoritas siswa mengalami masalah pada kesehatan gigi, seperti gigi berlubang, penumpukan karang gigi, dan sisa makanan yang menempel akibat teknik menyikat gigi yang kurang tepat.
“Anak-anak kelas satu umumnya belum memahami cara menyikat gigi yang benar. Faktor makanan juga memengaruhi kondisi gigi mereka,” jelas Juiban.
Selain gigi, pemeriksaan telinga menemukan banyak siswa mengalami penumpukan kotoran (serumen prop). Tim medis juga mendeteksi gangguan penglihatan, seperti rabun, pada sejumlah siswa.
Menanggapi temuan tersebut, pihak Dikes tidak hanya berhenti pada diagnosis. Jumadil menyebutkan bahwa bagi siswa yang terdeteksi mengalami gangguan penglihatan, Dikes langsung memberikan bantuan kacamata.
Sebagai tindak lanjut pencegahan, Puskesmas Aikmel berencana meningkatkan penyuluhan atau edukasi kesehatan ke sekolah-sekolah. “Rencananya kami akan mengadakan penyuluhan ke sekolah-sekolah terkait cara menjaga kesehatan gigi, telinga, dan mata yang benar,” kata Juiban.
Melalui program CKG dan kolaborasi antar dinas ini, Pemerintah Lotim berharap dapat memastikan para pelajar tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga sehat secara fisik, sehingga dapat mendukung terciptanya lingkungan belajar yang inklusif dan optimal. (rus)