ASAP kebakaran memang sudah hilang dari langit Desa Ntonggu, Kecamatan Palibelo, Kabupaten Bima. Namun, bau hangus masih menusuk, menyisakan puing-puing hitam dan butir-butir padi yang terburai di tanah.

Terpantau oleh Suara NTB, di antara reruntuhan itu tampak seorang nenek yang akrab disapa Wai Moza. Ia adalah kerabat Halimah (65), salah seorang korban si jago merah. Dengan penuh kesabaran, Wai Moza memunguti butir-butir padi milik Halimah yang masih tersisa karena terlindung terpal. Di sampingnya, sebuah karung besar sudah terisi campuran padi, abu, dan debu.

“Syukurnya ini yang tertutup terpal. Saya pungutin dari kemarin. Walaupun tercampur kotoran tidak apa-apa,” tuturnya, Jumat 29 Agustus 2025.
Puluhan karung hasil panen musim hujan lalu hangus terbakar. Padi yang ia anggap sebagai penopang hidup selama berbulan-bulan kerja keras di sawah, kini hanya tersisa segenggam.
Tidak jauh dari sana, Sahrudin (59), tetangga Halimah, hanya bisa menatap bekas kandang kambingnya. Dari 32 ekor kambing, 30 ekor terpanggang dalam kobaran api.
“Semua hasil jerih payah hilang begitu saja,” katanya lirih.
Meski begitu, ia memilih pasrah. “Apapun yang kita punya pada hakikatnya adalah titipan Tuhan. Kita hanya harus lebih sering mengucapkan rasa syukur,” ucapnya.
Musibah pada 26 Agustus lalu menghanguskan sembilan rumah warga. Mereka kini kehilangan tempat tinggal, perabot, hingga sumber penghidupan. Namun di balik duka, tumbuh juga solidaritas.
Pemda Bima bersama Baznas Kabupaten Bima menyalurkan bantuan bagi 14 korban. Baznas Provinsi NTB juga mengirim sembako. Wakil Bupati Bima, dr. H. Irfan Zubaidy, hadir langsung menyalami korban satu per satu.
“Sebab apapun kondisi kita, kita tetap bergantung pada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kami dari Pemda melalui APBD 2026 akan menganggarkan bantuan 10 sampai 15 juta per orang. Kami tidak akan meninggalkan keluarga kita yang terkena musibah di mana pun,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa Bima rawan kebakaran. “Kita harus mencari pola bagaimana menurunkan potensi kebakaran di wilayah ini,” ujarnya.
Dari puing dan kesedihan, para korban perlahan belajar bangkit. Halimah dengan segenggam padi dan Sahrudin dengan keikhlasannya menjadi simbol keteguhan hati, bahwa hidup, meski diuji api, tetap harus diteruskan. (hir)