Lombok (ekbisntb.com) – Warga miskin di Desa Bagik Polak Kecamatan Labuapi Lombok Barat mengeluhkan lantaran dicoret dari penerima bantuan. Diantara mereka ada yang hidup sebatangkara, tidak punya pekerjaan dan penghasilan untuk makan sehari-hari. Seperti apa keluh kesah warga ini? Berikut penuturannya.

Rabu 23 Juli 2025, sejumlah warga yang hampir semuanya Lanisa tergopoh-gopoh datang ke kantor desa. Mereka membawa dokumen kependudukan, KTP dan KK serta kartu PKH BPNT. Warga menemui Kades setempat untuk menanyakan perihal bantuan beras yang mulai tahapan penyaluran. Usut punya usut, warga ini tidak masuk namanya dalam data penerima bantuan beras yang sedang proses pendistribusian di wilayah Lobar.

Papuq Mutmainah, Lanisa terlihat begitu sedih karena tidak mendapatkan bantuan beras. Bagiamana tidak dia sedih? Papuq itu mengaku tak ada yang membiayai hidup sehari-hari. Suaminya telah meninggal Puluhan tahun silam, persisnya tahun 2015 yang lalu. Sekarang, ia pun tinggal sendiri di rumah peninggalan suami ditemani cucunya. “Saya sendiri, tinggal dirumah bersama cucu, karena suami saya meninggal tahun 2015,” tuturnya, Rabu 23 Juli 2025.
Untuk makan sehari-hari pun sulit, karena ia sendiri tak mampu bekerja lantaran usia yang sudah renta. Ia pun diberikan makan oleh anaknya yang berprofesi sebagai butuh. Ia sendiri memiliki kartu PKH namun tidak pernah mendapatkan bantuan uang dari kartu itu. “Ada saya dapat kartu, tapi tidak pernah dapat uang,” aku dia. Hal senada diakui Salmah di KK nya ia tercatat sendiri sebagai kepala keluarga. Ia juga tidak mendapatkan bantuan beras, sehingga cukup memberatkan. Lebih-lebih ia memiliki empat anak. Inaq Salmah juga memiliki kartu PKH.
Sementara itu, Inaq Mustiyah, mengaku pernah mendapatkan bantuan beras. “Tapi tahun ini tidak ada nama saya yang keluar,”tuturnya sambil menunjukkan kartu PKH dan KTP. Ia sangat berharap agar diberikan bantuan beras. Karena ia dan suaminya bekerja serabutan. “Saya punya anak dua,”imbuhnya. Untuk biaya makan sehari-hari saja dirasakan sulit, karena dari pekerjaan membelah batu hanya Rp20 ribu sampai 30 ribu. “Itu tidak cukup untuk makan, Kalau Ndak dapat bantuan beras ini,” aku dia terlihat sedih.
Ditanya kenapa dia tidak diberikan bantuan beras? Ibu paruh baya itu mangaku tidak tahu. Ia hanya diberitahu pihak desa, setelah dicek namanya tidak ada dalam data penerima. Dalam kondisi ekonomi sulit ini, ia justru diberhentikan mendapatkan PKH dengan alasan anaknya telah lulus sekolah. Sementara itu Kepala Desa Bagek Polak Amir Amraen Putra, berupaya memperjuangkan warga yang tidak mendapatkan bantuan tersebut dengan berkoordinasi dengan Pemkab.
Namun sebagai bentuk keberatan dari desa, pihaknya menolak distribusi bantuan beras ini sementara waktu.
Ia pun meminta pada Pemkab untuk segera menutupi kekurangan bantuan sembako bagi warganya. Menurutnya, kondisi ini perlu mendapat perhatian serius, terlebih sambil menunggu proses distribusi bantuan dari pemerintah pusat yang hingga kini tidak merata. Amir menilai bahwa kondisi tersebut tidak sejalan dengan jargon Bupati Lombok Barat, H. Lalu Ahmad Zaini (LAZ), yang kerap digaungkan: Sejahtera dari Desa.
Ia menegaskan, jika masih terdapat ratusan warga yang belum menerima bantuan sembako, maka slogan itu hanya menjadi harapan tanpa bukti nyata. “Saya kira Pak Bupati ingin melakukan gebrakan dari desa, tapi kalau bantuan sembako saja masih belum merata, saya pesimis dengan jargon tersebut. Jangan sampai nafsu besar tapi tenaga kurang dalam mewujudkannya,” ungkap Amir.
Ia berharap Pemkab Lobar tidak hanya menunggu proses dari pusat, namun juga bersikap proaktif dalam memastikan masyarakat desa benar-benar merasakan program-program kesejahteraan. (her)