spot_img
26.5 C
Mataram
BerandaEkonomiPertumbuhan Ekonomi NTB Terendah Kedua se Indonesia, Ini Penjelasan BPS

Pertumbuhan Ekonomi NTB Terendah Kedua se Indonesia, Ini Penjelasan BPS

Lombok (ekbisntb.com) – Pertumbuhan ekonomi Provinsi NTB pada triwulan I (Januari-Maret) tahun 2025 tumbuh negative (-) 1,47 persen. Rendahnya pertumbuhan ekonomi NTB diawal tahun ini memposisikan NTB sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi terendah kedua di Indonesia.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi NTB triwulan I tahun 2025 yang kontraksi ini membuat rangking pertumbuhan ekonomi NTB diposisi paling bawah. Hanya lebih baik dari pertumbuhan ekonomi Papua Tengah yang paling rendah karena kontraksi cukup dalam -26,53 persen.

- Iklan -

Kepala BPS Provinsi NTB, Drs. Wahyudin, MM di Mataram, Senin, 26 Mei 2025 mengungkapkan, rendahnya pertumbuhan ekonomi NTB pada triwulan I tahun 2025 ini karena kontribusi sektor pertambangan.

Menurutnya, terjadi penurunan tajam pada Lapangan Usaha Pertambangan dan Penggalian sebesar 30,14 persen. Dari sisi pengeluaran, ekspor barang dan jasa mencatatkan kontraksi terdalam, mencapai 41,05 persen.

“Penyebab utama kontraksi di sektor pertambangan adalah tidak adanya ekspor dari Januari hingga Maret 2025 karena belum adanya izin ekspor, kecuali untuk hasil smelter. Sektor pertambangan ini turunnya 30 persen lebih. Dan sektor tambang ini pengaruhnya besar, nomor dua terhadap pertumbuhan ekonomi NTB setelah sektor pertanian. Sektor yang lain-lain itu kan kontribusinya paling tinggi 5 persen,” ujarnya.

Kontribusi sektor pertambangan terhadap pertumbuhan ekonomi cukup besar, 30 persen lebih. Namun awal tahun 2025 ini hanya berkontribusi 16 persen. Selain itu, sektor konstruksi juga tumbuh negative diawal tahun. hal ini karena proyek-proyek pemerintah yang belum dilelang, apalagi dilaksanakan.

Tapi, lanjut Wahyudin, komponen pembentuk pertumbuhan ekonomi NTB yang lainnya justru mengalami pertumbuhan positif. Terutama sektor pertanian yang memberikan andil pertumbuhan ekonomi naik sebesar 10 persen.

“Sektor pertanian sekarang kontribusinya naik, dari 20 persen menjadi 23 persen terhadap pertumbuhan ekonomi. Dan yang terlibat di sektor pertanian ini banyak orang,” tambahnya.

“Makanya kalau saya sih ndak masalah. Kalau fluktuasi pertumbuhan ekonomi NTB ini dipengaruhi pertambangan. Kalau aktivitas pertambangan ini naik, kenaikan pertumbuhan ekonomi NTB juga naiknya signifikan,” jelas Wahyudin.

Dan dampak pertambangan ini terhadap masyarakat grass root atau masyarakat akar rumput juga kecil. Sehingga fluktuasi pertumbuhan ekonomi NTB ini tak menjadi kekhawatirannya. Walaupun ekonomi NTB kontraksi tajam.

Namun Wahyudin memproyeksikan pada triwulan II (April-Juni) tahun 2025 ini pertumbuhan ekonomi NTB akan naik kembali. Seiring dengan membaiknya sektor pertambangan, terutama aktivitas PT. Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) di Batu Hijau, Kabupaten Sumbawa Barat.

“Belum tentu kontraksi ekonomi NTB akan berlanjut. Di triwulan II diperkirakan sudah mulai ada hasil tambang yang keluar karena proses pemadatan sudah selesai. Produksi tambang akan kembali bergerak,” tegasnya.

Selain itu, realisasi anggaran pemerintah, baik provinsi, kabupaten/kota, maupun APBN, juga berpotensi untuk meningkat pada triwulan berikutnya.

Wahyudin menekankan pentingnya mendorong smelter dan pertambangan untuk terus beroperasi dan menghasilkan. Selain, pemerintah daerah harus tetap memberikan perhatian besar pada sektor pertanian sebagai sektor yang paling besar dilakoni oleh masyarakat NTB.(bul)

Artikel Yang Relevan

Iklan











Terkait Berdasarkan Kategori

Jelajahi Lebih Lanjut