HomeEKONOMI & BISNISMerajut Cahaya di Tanah Lombok: Ketika Kayuhan Alat Tenun Tradisional Bertransformasi Menjadi...

Merajut Cahaya di Tanah Lombok: Ketika Kayuhan Alat Tenun Tradisional Bertransformasi Menjadi Generator Energi Hijau

Lombok Tengah (Ekbis NTB) — Di bawah terik matahari Pulau Lombok yang menyengat, suara ketukan kayu berirama konstan menggema dari sebuah bangunan sederhana di kawasan Desa Sukarara, Kabupaten Lombok Tengah. Di dalam Galeri Mina Tenun, para inak-inak (sebutan kehormatan bagi ibu-ibu lokal) tampak sibuk membungkuk di atas perangkat kayu tradisional. jemari mereka terampil menata benang, sementara kaki mereka mengayuh pedal dengan ritme yang teratur.

Namun, ada pemandangan yang berbeda jika kita melangkah lebih dekat ke bagian belakang mesin tersebut. Alih-alih sekadar menghasilkan selembar kain tenun bermotif eksotis, setiap ayunan kaki para perajin di sini turut memutar sebuah perangkat mekanis modern: sebuah generator mini yang terhubung langsung ke panel kontrol kelistrikan.

Inilah wujud nyata dari sebuah terobosan inovatif bernama Batik Bayu Tenun Renewable Integrated System. Program terpadu ini merupakan buah manis dari kolaborasi antara kelompok perajin lokal dengan program Corporate Social Responsibility (CSR) PT Pertamina Patra Niaga Aviation Fuel Terminal (AFT) Bandara Internasional Lombok (BIL). Dirintis secara resmi pada awal tahun 2026, proyek percontohan ini berhasil membuktikan bahwa kebudayaan tradisional dan transisi energi hijau di tingkat akar rumput dapat berjalan beriringan secara harmonis.

- Advertisement -

Babak Baru EBT: Mengubah Keringat Menenun Menjadi Aliran Listrik

Selama berabad-abad, aktivitas menenun menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) di berbagai wilayah Nusantara dikenal sangat bergantung pada tenaga otot manusia. Perajin mengandalkan kekuatan fisik tangan dan kaki untuk menggerakkan komponen mekanis demi menyilangkan benang demi benang.

Melihat potensi mekanis yang terbuang sia-sia dari gerakan repetitif tersebut, tim Community Development PT Pertamina AFT BIL bersama masyarakat setempat merumuskan sebuah pemikiran kreatif: bagaimana agar tenaga mekanis manusia ini dapat dikonversi menjadi energi listrik yang berguna bagi kehidupan sehari-hari?

Solusinya adalah modifikasi teknik pada unit ATBM. Di bagian belakang mesin tenun dan alat pemintal benang, tim teknis menyematkan generator mikro. Ketika seorang perajin mengayuh pedal ATBM—baik ke atas maupun ke bawah—gerakan tersebut memutar gigi transmisi yang kemudian memutar rotor generator.

“Harapannya, kegiatan menenun itu enggak cuma menghasilkan kain, tapi juga energi,” ungkap Erli Yaniska Hermita, Community Development Officer PT Pertamina AFT BIL, menjelaskan esensi dasar dari inovasi ini.

Arus listrik yang dihasilkan dari kayuhan tersebut tidak dibiarkan hilang. Melalui jaringan kabel yang tertata rapi, energi dialirkan menuju control panel untuk kemudian disimpan ke dalam baterai khusus berkapasitas tertentu.

Pertamina menyadari bahwa penerapan teknologi tinggi di tengah masyarakat perdesaan sering kali menemui kendala kultural maupun teknis. Oleh karena itu, prinsip utama yang dipegang dalam perancangan sistem ini adalah simplifikasi. Teknologi canggih dirancang sedemikian rupa agar menjadi sangat sederhana, mudah dipahami, mudah dioperasikan, serta tidak membebani warga dalam hal pemeliharaan (maintenance) mandiri. Warga tidak perlu memahami teori kelistrikan yang rumit; rumusan operasionalnya dibuat sesederhana filosofi program itu sendiri: cukup gunakan alat tenunnya, dan energi listrik akan panen dengan sendirinya.

Sinergi dengan Bayu: Memastikan Pasokan Energi Sepanjang Hari

Meskipun inovasi konversi energi dari ATBM ini terbilang sangat progresif, para perajin tentu memiliki keterbatasan waktu operasional. Aktivitas menenun tidak mungkin dilakukan selama 24 jam penuh karena faktor kelelahan fisik, tanggung jawab domestik, serta ritme adat istiadat setempat—seperti pantangan menenun saat ada warga yang berduka.

Untuk menutupi celah waktu ketika aktivitas menenun berhenti, sistem ini diintegrasikan secara komprehensif dengan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) skala mikro atau kincir angin. Pemilihan PLTB didasarkan pada kondisi geografis wilayah Lombok Tengah bagian selatan yang terletak tidak jauh dari garis pantai, sehingga memiliki potensi hembusan angin pesisir yang cukup konsisten dan kencang.

Aspek keberlanjutan lingkungan juga tercermin dari material yang digunakan untuk membangun menara PLTB tersebut. Alih-alih membeli material baru yang mahal dan boros emisi karbon, pihak perusahaan bersama warga memanfaatkan scrap atau limbah padat non-B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) perusahaan berupa drum bekas dan besi tower yang dimodifikasi sedemikian rupa.

Siklus harian energi di galeri ini pun berjalan secara simbiotik mutualisme:

  • Pada siang hari: Saat cuaca panas dan perajin aktif bekerja di galeri, energi listrik dipasok secara optimal dari aktivitas bertenun menggunakan ATBM.
  • Pada sore hingga malam hari: Ketika aktivitas menenun usai dan galeri mulai sepi, giliran PLTB yang mengambil alih peran untuk memanfaatkan hembusan angin malam demi terus mengisi daya baterai penyimpanan.

Seluruh sistem manajemen daya ini dilengkapi dengan teknologi otomatisasi. Apabila kapasitas baterai penyimpanan telah mencapai batas maksimal (100%), sistem akan secara otomatis memutus arus pengisian (auto-cutoff) guna menjaga keamanan perangkat dari risiko kelebihan beban (overcharge). Selain itu, tersedia pula dasbor pemantauan digital jarak jauh (remote monitoring dashboard) yang memungkinkan pengawas program untuk memantau status kapasitas baterai, beban pemakaian, hingga suhu perangkat secara real-time.

Pemberdayaan Ekonomi Ganda: Keluar dari Zona Nyaman Tenun Songket

Inovasi di Galeri Mina Tenun tidak berhenti pada aspek transisi energi semata. Lebih dari itu, program ini dirancang sebagai instrumen pengentasan kemiskinan dan perluasan akses ekonomi bagi kaum perempuan di perdesaan.

Sebelum mendapat pendampingan intensif dari Pertamina, mayoritas perajin di wilayah ini sangat bergantung pada metode tenun tradisional berdinding lantai yang disebut gedogan. Produk utama yang dihasilkan adalah kain tenun songket khas Lombok. Kendati memiliki nilai jual yang tinggi, proses pembuatan songket terkenal sangat rumit, teliti, dan memakan waktu pengerjaan yang sangat panjang—berkisar antara 15 hingga 30 hari per lembar kain. Ketergantungan pada satu jenis produk ini membuat perajin kerap kesulitan mendapatkan perputaran kas harian yang cepat.

Melalui program pemberdayaan ini, para perajin diberikan keahlian tambahan dan pilihan ekonomi yang lebih beragam. Dengan diperkenalkannya ATBM dan pelatihan intensif selama sepekan penuh—di mana para instruktur profesional bahkan sengaja diinapkan di rumah warga untuk mendampingi dari pagi hingga malam hari—para perajin kini mahir memproduksi komoditas baru: sarung tenun.

Dari segi produktivitas, pembuatan sarung tenun jauh lebih efisien. Seorang perajin yang sudah profesional mampu menyelesaikan satu lembar sarung tenun hanya dalam kurun waktu 1 hingga 1,5 hari saja. Hal ini memberikan kepastian suplai bagi pasar dan menjamin perputaran pendapatan yang lebih stabil bagi keluarga perajin.

Bapak Sudiman, salah satu figur penggerak dan pengelola kelompok setempat, menceritakan betapa awalnya para warga sempat merasa kesulitan dan canggung beradaptasi dengan mesin ATBM yang ukurannya jauh lebih besar dibanding alat tradisional mereka. Namun, berkat ketekunan dalam sesi pelatihan intensif selama sepekan yang didatangkan langsung dari luar daerah (seperti Bali), kini tiga orang perajin inti telah mahir dan bertindak sebagai mentor bagi 16 hingga 23 anggota kelompok lainnya yang didominasi oleh kaum hawa.

Komitmen Sustainability: Benang Serat Nanas dan Pewarna Alam Tanah Lombok

Di tengah gempuran produk tekstil sintetis berbiaya murah yang membanjiri pasar global, Kelompok Mina Tenun mengambil jalur yang berbeda: keberlanjutan ekologis yang berakar pada kearifan lokal.

Galeri ini membedakan diri dari sentra kerajinan lain melalui komitmen ketat terhadap penggunaan bahan-bahan ramah lingkungan. Benang yang digunakan tidak hanya berasal dari katun atau rayon konvensional, tetapi juga dikembangkan dari serat nanas.

Lebih impresif lagi, urusan pewarnaan kain sepenuhnya dilepaskan dari bahan-bahan kimia sintetis yang kerap mencemari lingkungan. Para perajin dilatih secara mandiri untuk meracik zat pewarna alami yang bersumber langsung dari kekayaan flora di tanah Lombok:

  1. Warna Cokelat dan Merah Tua: Diekstrak secara tradisional dari rebusan kayu secang.
  2. Warna Oranye dan Kuning Cerah: Memanfaatkan pigmen alami dari bunga gumitir yang banyak tumbuh di sekitar pekarangan warga.
  3. Warna Biru Klasik: Diolah dari daun tanaman indigofera melalui proses fermentasi sederhana.

Penerapan prinsip eco-friendly ini tidak hanya menjaga kelestarian lingkungan dan kesehatan para perajin dari paparan bahan kimia berbahaya, tetapi juga mendongkrak nilai jual produk di mata konsumen domestik maupun internasional. Pasar global, khususnya, sangat menghargai narasi etis di balik sebuah produk (storytelling and value). Terlebih, jaringan pemasaran (offtaker) untuk produk-produk kelompok ini telah terhubung secara profesional—mulai dari kerja sama penyerapan kain serat nanas bersama Bu Aisyah, pasokan sarung tenun ke wilayah Jembrana, hingga distribusi songket melalui kemitraan dengan Pak Heru.

Menjawab Persoalan Riil di Akar Rumput

Inovasi integrasi energi dan tenun ini bukanlah proyek mercusuar yang dibangun tanpa landasan kebutuhan nyata. Erli Yaniska Hermita memaparkan bahwa konsep ini lahir dari dialog dua arah antara perusahaan dan masyarakat.

Para perajin sebelumnya mengeluhkan bahwa proses pengolahan bahan pewarna alami membutuhkan ketersediaan air bersih dan energi dalam jumlah yang tidak sedikit. Di sisi lain, warga harus menanggung beban biaya pengeluaran bulanan yang cukup tinggi untuk membayar tagihan listrik rumah tangga dan air bersih.

Alih-alih memberikan bantuan yang bersifat karitatif semata yang rentan mandek setelah program selesai, Pertamina memilih pendekatan pemberdayaan infrastruktur mandiri. Walaupun pada tahap awal implementasi ini daya yang dihasilkan oleh baterai penyimpanan masih difokuskan untuk kebutuhan beban ringan—seperti penerangan lampu galeri dan titik pengisian daya darurat (charging station bagi gawai warga)—proyek riset dan pengembangan (research and development) ini membuka cakrawala baru.

Ke depan, seiring dengan evaluasi teknis dan potensi penambahan kapasitas baterai penyimpanan, sistem ini diproyeksikan mampu mendayai kebutuhan operasional yang lebih besar, seperti pompa penyedia air bersih untuk mendukung proses produksi pewarnaan alami.

Menatap Masa Depan: Warisan Kemandirian yang Berkelanjutan

Ketika program pendampingan dari korporasi nantinya purna, target utama yang ingin ditinggalkan bukanlah sekadar pameran teknologi canggih, melainkan kemandirian paripurna masyarakat.

Apa yang dilakukan oleh Kelompok Mina Tenun di Desa Sukarara, Lombok Tengah, telah memberikan teladan inspiratif bagi dunia pembangunan sosial di Indonesia. Mereka berhasil memecahkan stigma bahwa isu perubahan iklim dan transisi energi terbarukan adalah urusan eksklusif para ilmuwan di laboratorium perkotaan besar.

Di bawah terik matahari Lombok, para inak-inak penenun membuktikan bahwa dengan sentuhan inovasi yang tepat, langkah kaki yang sederhana di atas bilah kayu alat tenun tradisional mampu menerangi masa depan desa mereka secara mandiri—merajut selembar kain kebanggaan budaya, sekaligus memintal harapan baru bagi masa depan energi hijau bumi pertiwi. (fan)

Artikel Yang Relevan

IKLAN





Terkait Berdasarkan Kategori

Jelajahi Lebih Lanjut