Bima (ekbisntb.com) – Kabupaten Bima menyimpan potensi besar untuk pengembangan tambak garam. Data dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Bima mencatat, luas lahan yang berpotensi menjadi tambak garam mencapai 4.675 hektare pada tahun 2025.

Kepala Bidang (Kabid) Kelembagaan dan Investasi DKP Kabupaten Bima, Irmalashari, menjelaskan bahwa luas lahan tersebut merupakan data sewilayan Kabupaten Bima. Ia menambahkan, sebaran lahan potensial tersebar di sejumlah kecamatan lain. Namun, Kecamatan Woha tetap menjadi wilayah dengan cadangan lahan paling besar.

“Di Woha potensinya 2.131 hektare. Kalau di Bolo hanya 797 hektare. Ini potensi, bukan eksisting. Yang berpotensi dijadikan lahan garam,” sebutnya saat ditemui Ekbis NTB, pada Kamis 28 Agustus 2025.
Besarnya potensi ini diharapkan mampu mendukung peningkatan produksi garam rakyat di Bima.
Irma juga menyebutkan, produksi garam di Bima juga menunjukkan tren kenaikan setiap tahun. Berdasarkan data perhitungan dari tenaga penyuluh yang diterima, produksi garam pada tahun 2023 tercatat sebanyak 108 ribu ton. Angka tersebut meningkat pada tahun 2024 menjadi 130 ribu ton.
“Setiap tahun ada tren kenaikan. Data ini berdasarkan perhitungan dari tenaga penyuluh,” ucapnya.
Menurutnya, peningkatan produksi ini sejalan dengan luas lahan yang terus dimanfaatkan para petani. Meski belum seluruh potensi lahan tergarap, tren positif tetap terlihat. Ia menekankan, pemanfaatan lahan baru masih memungkinkan untuk mendorong produksi lebih tinggi di tahun-tahun mendatang.
Potensi lahan yang masih luas memberi peluang besar bagi para petambak dan investor. Pemerintah daerah melalui DKP terus mendorong optimalisasi lahan dengan melibatkan penyuluh dan kelompok masyarakat. Tujuannya agar pengelolaan lahan berjalan efektif dan produktif.
Irma menegaskan bahwa pemetaan potensi lahan menjadi dasar penting dalam perencanaan pengembangan garam di Bima. Dengan data yang jelas, pemerintah dan masyarakat bisa menyiapkan strategi bersama.
Ia berharap tren positif produksi garam bisa terjaga melalui pemanfaatan potensi lahan yang ada. Dengan begitu, Bima tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan lokal, tetapi juga berkontribusi pada suplai garam untuk daerah lain. (hir)