Kabupaten Ngada (ekbisntb.com)- PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Nusa Tenggara (UIP Nusra) menuntaskan 100 persen pekerjaan penyiapan infrastruktur PLTP Mataloko sebagai bagian dari komitmen mempercepat pengembangan energi baru terbarukan di Nusa Tenggara Timur. Capaian tersebut mencakup penyelesaian akses jalan, empat wellpad, serta laydown area yang akan mendukung pelaksanaan tahap pengeboran panas bumi sebagai tahapan strategis pengembangan PLTP Mataloko.
Pekerjaan penyiapan infrastruktur tersebut dilaksanakan di Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada, meliputi Desa Tiwotoda, Desa Ulubelu, Desa Wogo, Desa Dadawea, Desa Ratogesa, dan Desa Radabata. Infrastruktur yang telah rampung 100 persen mencakup pembangunan empat wellpad (A, B, C, dan D), akses jalan (access road) sepanjang 6,7 kilometer, serta laydown area sebagai fondasi utama untuk mendukung tahapan pengeboran dan pengembangan PLTP Mataloko.
Kepala Teknik Panas Bumi (KTPB) WKP Mataloko, Adrys A.S. Silaban, menjelaskan bahwa secara keseluruhan pekerjaan penyiapan infrastruktur telah mencapai 100 persen. Saat ini, PLN bersama penyedia jasa tengah melaksanakan tahapan quality assurance melalui penyelesaian sejumlah pekerjaan penyempurnaan (finishing), antara lain perbaikan pada beberapa ruas lapis aspal, penyesuaian elevasi water pond, serta penyempurnaan pekerjaan minor lainnya berdasarkan hasil inspeksi lapangan.
“Penyelesaian pekerjaan penyiapan infrastruktur telah mencapai 100 persen. Saat ini kami memastikan seluruh tahapan quality assurance berjalan dengan baik sehingga setiap detail pekerjaan memenuhi standar mutu, keselamatan, dan spesifikasi teknis yang dipersyaratkan sebelum memasuki tahapan berikutnya. Dengan demikian, infrastruktur yang telah dibangun benar-benar siap mendukung pelaksanaan pengeboran PLTP Mataloko,” ujar Adrys.
Adrys menambahkan, pelaksanaan pekerjaan penyiapan infrastruktur juga mengedepankan keterlibatan masyarakat setempat. Selama pekerjaan berlangsung, 85 persen tenaga kerja proyek merupakan tenaga kerja lokal. Secara paralel, PLN juga melaksanakan rangkaian Pre-FPIC (Free, Prior and Informed Consent) atau konsultasi bermakna kepada masyarakat sebagai bagian dari upaya membangun komunikasi yang terbuka serta memberikan pemahaman mengenai rencana pengembangan proyek.
Manager Unit Pelaksana Proyek (MUPP) Nusra 2, Avianda Edwin Fachruddin, menegaskan bahwa setiap tahapan pengembangan PLTP Mataloko tidak hanya berfokus pada penyelesaian konstruksi, tetapi juga mengedepankan keterbukaan informasi dan pelibatan masyarakat sejak tahap perencanaan.
“PLN berkomitmen melaksanakan pengembangan PLTP Mataloko secara transparan dan partisipatif. Melalui kegiatan Pre-FPIC atau konsultasi bermakna, kami memastikan masyarakat memperoleh informasi mengenai rencana kegiatan, potensi dampak, serta langkah-langkah pengelolaan yang akan dilakukan. Pendekatan ini menjadi bagian penting dalam membangun komunikasi yang terbuka dan hubungan yang harmonis dengan masyarakat di sekitar wilayah proyek,” ujar Avianda.
Rangkaian kegiatan Pre-FPIC atau konsultasi bermakna tersebut dilaksanakan secara bertahap sejak November 2025 hingga Maret 2026 dengan melibatkan masyarakat di Desa Were, Desa Kezewea, Desa Nirmala, dan Desa Sadha. Melalui kegiatan tersebut, PLN membuka ruang dialog bersama masyarakat untuk menyampaikan informasi mengenai rencana pengembangan proyek, potensi dampak, serta langkah-langkah pengelolaan yang akan dilaksanakan sebagai bagian dari komitmen perusahaan dalam mengedepankan prinsip keterbukaan dan pelibatan masyarakat.
General Manager PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Nusa Tenggara (UIP Nusra), RDW Manurung, menyampaikan, “PLTP Mataloko bukan sekadar pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan, tetapi merupakan investasi strategis untuk masa depan energi Indonesia. PLN berkomitmen menyelesaikan setiap tahapan pengembangannya secara profesional agar proyek ini segera berkontribusi dalam meningkatkan keandalan pasokan listrik di Pulau Flores, mengoptimalkan pemanfaatan energi panas bumi sebagai energi domestik, serta mendukung Asta Cita Pemerintah dalam mewujudkan swasembada energi dan ketahanan energi nasional,” tutup RDW.
Sejalan dengan pengembangan PLTP Mataloko, pada tahun 2026 PLN juga merencanakan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) berupa pembangunan sarana air bersih melalui pemasangan jaringan perpipaan bagi masyarakat di sekitar wilayah proyek sebagai upaya meningkatkan akses terhadap air bersih. Program tersebut menjadi wujud komitmen PLN bahwa pengembangan infrastruktur ketenagalistrikan berjalan seiring dengan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat serta penciptaan manfaat yang berkelanjutan bagi wilayah sekitar proyek.(bul)






