Mataram (EKBIS NTB) – Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) NTB memastikan tarif kamar hotel di daerah ini tetap berada pada kisaran normal menjelang pelaksanaan MotoGP Mandalika, 11-13 Oktober 2026 ini.
“Sekarang harga hotel tidak naik. Normal saja, semua harga normal. Memang ada yang naik, tetapi tidak signifikan,” kata Ketua PHRI NTB, Ni Ketut Wolini, Rabu, 23 September 2026.
Tingkat keterisian hotel (okupansi) diperkirakan akan meningkat signifikan mendekati pelaksanaan MotoGP. Pola ini biasanya terjadi karena sebagian wisatawan dan penonton melakukan pemesanan kamar pada menit-menit terakhir.
“Walaupun sekarang ada beberapa hotel yang belum 100 persen, kami yakin last minute okupansi hotel akan penuh seratus persen,” ujarnya.
Wolini mengatakan hotel di kawasan Mandalika menjadi salah satu lokasi yang lebih cepat menerima pemesanan karena kawasan tersebut menjadi pusat kegiatan MotoGP. Sejumlah hotel di Senggigi Lombok Barat juga telah mendapatkan pemesanan.
Sementara hotel di Kota Mataram masih relatif memiliki banyak kamar kosong. Ini menjadi peluang bagi wisatawan yang belum mendapatkan akomodasi di kawasan Mandalika maupun Senggigi.
“Masih banyak kamar hotel yang kosong, terutama di Kota Mataram. Tetapi kami yakin last minute hotel-hotel itu akan penuh,” katanya.
Menurut data penyediaan jasa akomodasi yang disampaikan PHRI NTB, Pulau Lombok memiliki 1.123 hotel dengan 13.039 kamar, terdiri dari 236 hotel bintang dengan 7.798 kamar dan 887 hotel nonbintang dengan 5.241 kamar.
Jika digabungkan dengan Pulau Sumbawa, NTB memiliki 1.318 hotel dengan 15.715 kamar. Jumlah tersebut terdiri dari 248 hotel bintang dengan 8.042 kamar serta 1.070 hotel nonbintang dengan 7.673 kamar.
Kapasitas akomodasi tersebut tersebar di seluruh kabupaten/kota, dengan konsentrasi terbesar di Pulau Lombok.
Wolini kembali menegaskan, pencabutan Pergub NTB Nomor 9 Tahun 2022 tentang pengaturan batas atas dan batas bawah kenaikan tarif hotel saat MotoGP. Namun menurut Wolindi, pencabutan tersebut tidak berarti hotel dapat menetapkan tarif kamar setinggi-tingginya ketika ada event internasional.
Menurutnya, hotel memang memiliki ruang untuk menyesuaikan harga berdasarkan permintaan pasar, terutama ketika berlangsung event besar. Namun, penyesuaian tetap harus dilakukan secara wajar.
“Boleh menaikkan kalau ada event besar, apalagi event MotoGP internasional. Tetapi jangan terlalu tinggi, yang wajar-wajar saja,” ujarnya.
Ia mengatakan konsumen memiliki banyak pilihan hotel dengan kelas dan fasilitas yang berbeda. Karena itu, tarif yang terlalu tinggi justru berpotensi membuat konsumen memilih hotel lain.
“Pembeli atau konsumen bisa membandingkan. Sesama hotel bintang empat, misalnya, fasilitasnya berbeda dan harganya juga berbeda. Konsumen tinggal memilih,” katanya.
Wolini juga mengingatkan pelaku usaha perhotelan agar tidak hanya berorientasi pada keuntungan jangka pendek saat MotoGP. Pelayanan kepada tamu harus tetap menjadi prioritas karena pengalaman wisatawan akan memengaruhi citra pariwisata Lombok.
Ia juga mengingatkan calon penonton MotoGP untuk memanfaatkan platform pemesanan akomodasi secara daring agar dapat membandingkan tarif dan fasilitas sebelum memilih hotel.
Dengan jumlah kamar yang relatif besar, PHRI NTB menilai wisatawan masih memiliki pilihan akomodasi, terutama di luar kawasan utama penyelenggaraan MotoGP.(bul)






