Selong (suarantb.com) – Konflik pengelolaan kawasan mangrove di Lombok Timur (Lotim) akhirnya menemui titik terang. Melalui mediasi yang digelar di tingkat kecamatan, semua pihak bersepakat pada solusi sementara untuk mengambil alih pengelolaan oleh Desa Jerowaru selama enam bulan ke depan.
Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Dinas Pariwisata (Dispar) Lotim, Samsul Hakim, menjawab Suara NTB, menjelaskan bahwa mediasi telah dilaksanakan oleh tim kecil di kecamatan setempat. Pertemuan itu dihadiri oleh perwakilan dari Dinas Pariwisata, Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD), Bakesbangpoldagri, serta Polsek, Kodim, dan Camat setempat.
“Sudah mulai tenang. Tidak konflik,” ujar Samsul Hakim, menegaskan bahwa suasana telah kondusif pascamediasi.
Berdasarkan kesepakatan, pengelolaan kawasan mangrove untuk sementara waktu diambil alih oleh pemerintah desa. Skema yang disepakati adalah pembentukan pengurus baru dengan tetap melibatkan fasilitasi dari pengurus lama.
“Pengurus lama siap kolaborasi dengan masyarakat. Tidak semestinya jadi bendahara atau ketua, tetapi secara regulasi bisa tetap terlibat dalam pengelolaan,” jelas Hakim. Ia menambahkan bahwa nantinya akan ada proses penyerahan dari desa kepada Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas).
Meski pengurus lama menyatakan kesiapan berkolaborasi, Hakim mengakui bahwa ada aspirasi dari sebagian masyarakat yang menghendaki pergantian pengurus sepenuhnya. Menyikapi dinamika tersebut, Dispar Lotim mengusulkan untuk mengambil jalan tengah. “Kami harap tidak berlarut-larut. Yang penting segera dibuka, kembali dibuka untuk pengunjung,” tekan Hakim.
Ia juga memperjelas bahwa dalam skema ini, pengelolaan tidak masuk ke dalam anggaran Dispar atau PAD (Pendapatan Asli Daerah), tetapi akan dikelola melalui anggaran desa (PADes).
Untuk memastikan keberlanjutan komunikasi, Dispar Lotim akan berkoordinasi lebih lanjut dengan Kecamatan Jerowaru. “Intinya, kita semua menginginkan destinasi ini beroperasi normal, dikelola secara baik, dan mendatangkan manfaat bagi masyarakat,” pungkas Samsul Hakim.
Dengan kesepakatan ini, diharapkan kawasan wisata mangrove dapat segera beraktivitas kembali dan dikelola secara lebih kolaboratif oleh seluruh pemangku kepentingan.
Kawasan itu kini menjadi tak pernah sepi dari kunjungan wisatawan lokal maupun mancanegara. Tanaman yang memiliki multifungsi ini telah menjadi salah satu daya tarik baru untuk berwisata. Karenanya, tempat ini secara spesifik dinamakan ekowisata bale Mangrove.
Tempat ini tampak menjadi satu-satunya tempat berwisata dengan konsep hutan di atas perairan. Tanaman peredam gelombang besar serta penahan abrasi air laut ini juga menjadi tempat wisata edukasi. Belajar tentang mangrove itu sendiri dan jenis ikan serta burung-burung yang berkicau di ranting pohon.
Bale Mangrove ini terbilang menjadi tempat satu-satunya juga di Lotim yang menyuguhkan konsep wisata yang sedikit berbeda. Wisata di pantai itu tak selamanya menikmati butiran pasir putih, pink ataupun hitam karena kandungan pasir besinya. Tapi wisata bale mangrove ini di tengah hutan namun pinggir pantai.
Indahnya pemandangan Teluk Jukung yang diapit pulau-pulau kecil menambah keunikan kawasan wisata Bale Mangrove ini. Selain belajar tentang mangrove dan satwa yang ada di dalamnya, pengunjung juga akan dimanjakan dengan pemandangan indah perairan Teluk Jukung yang tenang. Ribuan keramba jaring apung tempat budidaya lobster menambah kekhasan kawasan wisata ini.
Seperti tempat-tempat wisata lainnya, Bale Mangrove juga menjadi pilihan tempat berswa foto yang digemari pengunjung. Semua pengunjung tidak melewati kesempatan mengabadikan gambar saat berada di tengah kawasan hutan mangrove tersebut. (rus)






