Kota Bima (suarantb.com) – Pemerintah Kota Bima mengaku telah lama memimpikan hadirnya pusat perbelanjaan modern atau mal di wilayah Kota Bima. Kehadiran fasilitas tersebut dinilai dapat menjadi ruang promosi produk lokal sekaligus etalase produk luar yang lebih berkualitas, serta mendorong pergerakan ekonomi daerah.
Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Kominfotik) Kota Bima, Muhammad Hasyim, gagasan menghadirkan mal bukan sekadar wacana baru. Pemerintah daerah sejak lama memimpikan adanya ruang perdagangan modern yang mampu menjawab dinamika konsumsi masyarakat Bima.
“Kami sudah lama memimpikan adanya retail modern, semacam mal, yang bisa memajang produk-produk. Baik produk luar yang berkualitas maupun produk lokal yang bisa ditampilkan dalam sistem perdagangan modern,” ujarnya saat diwawancarai Suara NTB pada Kamis (8/1/2026).
Salah satu pertimbangan utama pemerintah adalah daya beli masyarakat Bima. Menurut Hasyim, meskipun masyarakat kerap berada dalam situasi krisis, kemampuan konsumsi tetap terjaga dan menunjukkan ketahanan yang cukup kuat.
“Dinamika daya beli masyarakat Bima ini cukup luar biasa. Walaupun sering menghadapi krisis, masyarakat kita kerap tidak menunjukkan kesulitan dalam menjangkau kebutuhan tertentu,” katanya.
Ia menilai, kehadiran mal justru dapat menjadi ruang kolaborasi bagi pelaku UMKM lokal yang selama ini memiliki keterbatasan akses dan tempat untuk memasarkan produk secara lebih modern. Dengan konsep yang tepat, produk lokal tidak hanya menjadi pelengkap, tetapi bisa tampil sejajar dengan produk luar.
“UMKM kita yang selama ini belum punya ruang bisa kita kolaborasikan di dalam mal. Ini bukan soal menyingkirkan produk lokal, tapi justru mengangkatnya agar sejajar dengan produk luar,” tegasnya.
Pemkab Bima terbuka hadirnya investor yang ingin membangun mal atau pusat perbelanjaan modern. Pihaknya siap menyambut dan mendukung sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
“Kalau ada pihak ketiga atau investor yang ingin melakukan investasi pembangunan mal di Bima, saya rasa pemerintah sangat welcome. Kehadiran mereka bisa menjadi pemicu untuk mengungkit perekonomian daerah,” ujar Hasyim.
Ia menambahkan, pembangunan mal juga diharapkan dapat menekan arus belanja masyarakat ke daerah lain. Selama ini, warga Bima kerap harus keluar daerah untuk mendapatkan produk bermerek atau fasilitas belanja modern.
“Kalau di Kota Bima ada mal, masyarakat tidak perlu lagi menyeberang ke daerah lain hanya untuk berbelanja produk tertentu,” katanya.
Pemkot Bima memandang pusat perbelanjaan modern sebagai bagian dari identitas kota berbasis perdagangan. Kehadirannya diharapkan mampu memacu persaingan usaha yang sehat, meningkatkan kualitas pelayanan pedagang lokal, serta membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat.
“Pusat perbelanjaan modern pasti punya dampak. Ada positif dan negatif, tapi secara ekonomi, dampak positifnya cukup besar, terutama bagi pergerakan perdagangan dan penyerapan tenaga kerja,” tuturnya.
Meski demikian, pemerintah daerah juga menyadari adanya sejumlah tantangan. Salah satu kendala utama adalah keterbatasan lahan representatif, terutama di kawasan pusat kota yang menjadi lokasi ideal bagi investor.
“Kendala terbesar di Kota Bima memang ketersediaan lahan. Biasanya investor ingin membangun di pusat kota, sementara di sana sangat sulit menemukan lahan yang luas,” jelas Hasyim.
Namun, keterbatasan tersebut bukan tanpa solusi. Pemerintah kata dia, pernah memikirkan opsi pemanfaatan lahan-lahan besar yang sudah ada, salah satunya kawasan Pasar Senggol Bima, melalui konsep pengembangan vertikal.
“Pedagang lokal tetap berada di bawah, kemudian di atasnya bisa dimanfaatkan pihak ketiga untuk pengembangan mal atau retail modern,” ungkapnya.
Hasyim mengakui, hingga saat ini belum ada investor yang masuk ke tahap perencanaan detail. Kendati demikian, Pemkot Bima tetap membuka ruang komunikasi dan menunggu momentum yang tepat.
“Potensi kita ada, daya beli masyarakat kuat. Kalau ada kesepahaman antara pemerintah dan investor, kami siap mendukung,” pungkasnya. (hir)






